Soerat T(j)inta Dari Soerabaja

Catatan Kaki | 9 Juli 2015

Cinta adalah energi.
Cinta akan kekal, tak terlahir dan tak mati.

Kalimat itu adalah sedikit misteri yang terkuak dalam obrolan ringan di bangku sebuah warung ayam, yang bahasanya sudah diperindah secara berlebihan. Dialektika yang terjadi menjadi percakapan yang cukup mewah untuk diperbincangkan di atas lantai semen beratapkan terpal lusuh. Tapi tempat itu memang bukan tempat biasa. Tempat itu telah melahirkan banyak sosok dan ide besar, begitu pula dengan dosa dan kesalahan. Separuh remajaku habis di sana, ternaungi begitu baik dalam kekeluargaan yang absurd. Namun surat ini bukan rindu kepada ruang, melainkan bangga kepada kawan.

Lawan bicaraku adalah seorang sahabat lama dari masa-masa kelam. Tiga tahun kami berjuang bersama mencapai puncak yang fana, namun apa daya takdir memisahkan. Kini ia juga menjadi seorang hamba tri dharma di kota pahlawan, berjuang keras membangun bangsa yang terlanjur begini. Wataknya keras dan arogan. Ia adalah musuh alami kesunyian semesta — pilihan teman yang buruk bagi para introvert. Ia juga seorang pendosa dan pendoa, seorang lawan dan kawan. Namun dalam rentang waktu perpisahan, ada hal baru tumbuh dalam dirinya, yang seyogianya juga terjadi pada setiap orang, tapi tidak terjadi.


Dalam beberapa jam reuni kecil, tak habis cerita yang tertutur di udara, ditemani asap rokok yang membunuh secara sepihak. Ia berkisah tentang jurusannya yang terombang-ambing dalam arus kemahasiswaan. Kehidupan kampusnya sarat dengan perhelatan politik yang rumit. Mengejutkan ketika ia begitu pandai membahasakan situasi kampusnya lewat berbagai sudut padang dengan gamblang. Banyak sosok yang dikisahkan, yang semuanya telah berkawan dengannya. Persistensinya dalam menjalankan himpunan juga patut diperhitungkan. AD/RT dijadikannya dasar yang selalu dijunjung, bukan jadi manuskrip yang diasingkan dan menghilang. Ia mencalonkan diri menjadi kahima, kemudian mundur lagi karena motif yang konspiratif. Keberjalanan berhimpunnya begitu ideal, baik kinerja serta konflik di dalamnya.

Salah satu yang juga menarik adalah kaderisasi himpunannya. Prosesnya penuh intrik dan perlawanan tanpa bersinggungan dengan klise dan drama. Di dalamnya ditanamkan lima hakikat: hakikat manusia, hakikat mahasiswa, hakikat penindasan, hakikat kaderisasi, dan sistematika pergerakan. Pendidikan yang tampak begitu menarik. Mungkin hal itu pula yang membentuknya menjadi manusia seperti sekarang.

Ia pun telah berkawan dengan banyak buku bernapaskan kemahasiswaan, buku-buku rumit yang membebaskan pikiran dan mengagitasi pergerakan. Ia berbicara tentang bangsa, tentang perekonomiannya, tentang pembangunan dan keruntuhan, tentang pengabdian, tentang cinta dan kegilaan lainnya. Tabiatnya telah berubah, sedikit bertaubat sambil berbuat onar. Ia telah mampu berdamai dengan dirinya sendiri, menjadikannya lebih kuat dalam garis takdir yang memberontak. Kami juga sempat larut dalam penghayatan tentang pengorbanan orang tua serta kebodohan kami yang selalu meninggalkan rumah ketika kami masih bisa pulang. Keluarga telah menjadi tempatnya untuk kembali, bukan lagi tempatnya mengurung diri.


Begitu banyak yang ia ocehkan. Banyak yang penting, lebih banyak yang memuakkan. Tapi surat ini tidak ingin memuji kawanku ini ataupun berkeluh kesah tentang betapa hebatnya dia. Dari semua orang di dunia ini, ialah yang paling haram dipuji. Namun di atas semua tetek bengek kata yang ia sampaikan, ada satu hal yang dapat menyimpulkan semuanya — dan hal inilah yang kita, aku dan kamu, seharusnya lakukan.

Ia telah belajar untuk belajar.

Dan aku telah lupakan hal terpenting itu. Aku kira aku selalu belajar, tapi aku terperangkap dalam delusi dan arogansiku sendiri. Inilah yang sesungguhnya ia ajarkan kepadaku, baik disadarinya atau tidak.

Si bodoh ini tetap menjadi bodoh biar selamanya tak berhenti belajar.


Tentang seorang kawan yang sangat menggangu: Dwangga Rizky Nugraha, Teknik Sipil ITS 2013. Romantisisme persahabatan laki-laki bukan perkara yang memalukan, melainkan awal lebur dua friksi yang senada.

Nayaka Angger
Sahabat
Bandung
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.