Terikat

Catatan Kaki | 13 Februari 2016

Membebaskan ikatan, terikat kebebasan.


Prolog Kontemplatif: Sebuah Kerikil

Percaya atau tidak, lebih dari 96,3% manusia di dunia pernah tersandung oleh kerikil. Terlepas dari statistik yang sama sekali tidak valid, aku menyadari sesuatu yang menyedihkan bahwa kita tidak pernah menyadari keberadaan sebuah kerikil kecuali kita tersandung olehnya. Jika sebuah kerikil hanya berserakan di sudut gang atau terbawa hujan ke dalam selokan, siapa yang akan menyadari keberadaannya? Tidak ada.

Sesuatu hanya akan menjadi ada secara utuh ketika ia berinteraksi dengan entitas lainnya, sama seperti kerikil yang gemar menyandung. Ini bukan ihwal eksistensialisme atau ingar-bingar filsafat. Pernyataan tadi adalah tesis sederhana yang coba membuktikan bahwa kita, layaknya kerikil tadi, hanya akan nyata keberadaannya di dunia ini ketika kita mampu berperan dalam konstelasi semesta, mikro maupun makro.

Konsep tersebut sejalan dengan doktrin kemahasiswaan lawas pada orientasi mahasiswa baru: posisi, potensi, dan peran. Walaupun posisi, potensi, dan peran (selanjutnya disebut popope) terdegradasi penghayatannya oleh orasi-orasi yang membosankan, nyatanya ia adalah sebuah konsep mendasar tentang eksistensi manusia. Popope menyajikan sebuah kerangka pikir fundamental untuk memenuhi peran-peran manusia tidak hanya dalam dunia kemahasiswaan, namun juga dalam kesemestaan secara luas.

Mengapa popope tidak menjadi pepopo atau popepo? Selain karena akan jadi sangat jelek, juga karena ketiga komponen tersebut adalah sebuah proses yang sekuensial dengan kontribusi manusia sebagai tujuannya. Kita perlu mengetahui terlebih dahulu posisi kita relatif terhadap entitas lain dan mengidentifikasi potensi kita secara utuh, baru tentukan peran apa yang harus kita emban untuk berkontribusi sesuai dengan posisi dan potensi yang dimiliki. Jika direlevansikan dengan konsep kerikil tadi, mengetahui posisi adalah mengenal lebih jauh diri kita terhadap lingkungan sekitar (makrokosmos). Mengidentifikasi potensi adalah mengenal diri sendiri jauh lebih dalam (mikrokosmos) sambil mengutilisasi posisi yang kita miliki. Setelah itu kita akan mampu berperan secara nyata terhadap dunia ini, menjadi benar-benar ada seperti kerikil yang menyandung kaki-kaki manusia.

Walaupun tidak ada popope kerikil, tapi aku yakin kalian mengerti apa yang aku bicarakan.


Berhimpun dan Menjadi Ada

Tulisan ini — seperti tulisan lainnya — akan membosankan karena aku akan membahas tentang sebuah lembaga formal kemahasiswaan bernama himpunan mahasiswa jurusan. Ketika datang masanya untuk memilih terlibat atau tidak dalam kepengurusannya, cerita tentang kerikil tadi membawaku terlibat dalam salah satu divisi di himpunan tersebut.

Dengan tidak mengindahkan dokumen-dokumen kemahasiswaan atau visi misi ketua himpunan itu sendiri, aku menganggap bahwa himpunan mahasiswa jurusan memiliki satu tujuan normatif yang begitu penting, yaitu sebagai wadah aktualisasi diri. Banyak interpretasi dan tetek bengek tentang aktualisasi diri yang keluar dari mulut-mulut di kampus, tapi aku selalu cinta KBBI. Menurut kesayanganku ini, aktualisasi adalah perihal mengaktualkan, dimana aktual adalah betul-betul ada. Sedang menurut Tesaurus, aktual dapat dipadankan dengan konkret, maujud, dan nyata. Mulai melihat hubungan antara himpunan dengan kerikil?

Jika dikembalikan kepada konsep ke-kerikil-an tadi, menurutku aktualisasi diri adalah sebuah usaha untuk menjadikan diri benar-benar ada yang prosesnya diejawantahkan lewat konsep posisi, potensi, dan peran. Maka secara sederhana, tujuan himpunan bagiku adalah membantu setiap anggotanya untuk mengetahui posisinya, mengidentifikasi potensinya, serta menentukan dan melaksanakan perannya; tidak hanya sebagai mahasiswa, namun juga sebagai seorang manusia. Itulah kenapa akan selalu ada materi popope dalam kaderisasi himpunan (mungkin, coba tanya divisi sebelah).

Tapi, bagaimana caranya? Mungkin kalian juga sedang mempertanyakan hal itu sekarang. Memang mudah sekali untuk ditulis, terlalu abstrak untuk dilakukan. Namun, setelah coba memahami sifat alami dari popope, sebuah kata kerja dapat menjadi jawaban yang mampu mengoperasionalkan konsep tersebut secara sederhana: belajar. Masih menurut kesayanganku tadi, belajar berarti 1) berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; 2) berlatih; dan 3) berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.

Jadi, belajar adalah dasar untuk mengetahui posisi dan potensi kita sendiri, yang kemudian akan membantu kita menemukan dan menentukan peran kita sebagai manusia.


Belajar, Belajar, Belajar

Analogikan secara sederhana: tanpa pernah belajar tentang peta dunia atau tata surya, akankah kita mengetahui posisi kita di dunia ini? Mungkin akan sulit membayangkan bahwa ternyata dunia sebesar yang sekarang kita ketahui. Kutipan lama seringkali berbunyi “buku adalah jendela dunia”. Ya, bukan hanya buku, namun keseluruhan usaha “belajar” adalah jendela atau apapun itu yang mengantarkan kita pada pemahaman mengenai posisi kita di dunia ini. Tidak hanya secara spasial, namun juga secara politis, kultural, serta aspek-aspek lain yang bisa diposisikan.

Dengan belajar pula, potensi manusia bisa diidentifikasi secara utuh. Potensi adalah kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan, yang seringkali bersifat laten dan belum ditemukan. Untuk mengidentifikasi potensi tersebut, diperlukan sebuah proses eksplorasi yang meliputi 1) mencoba berbagai macam hal untuk mengetahui apakah hal tersebut merupakan potensi; 2) mendalami potensi tersebut untuk menemukan potensi mana yang sesuai dengan keadaan, kebutuhan, serta keinginan; dan 3) mengembangkan potensi-potensi tersebut secara optimal untuk membantu memenuhi peran kita nantinya.

Tanpa sebuah proses belajar, tanpa memahami posisi dan potensi kita, maka mustahil untuk menemukan, menentukan, dan melaksanakan peran kita terhadap semesta secara hakiki. Kesimpulannya: sebuah himpunan mahasiswa jurusan memerlukan sebuah ruang belajar yang eksploratif, berbasis preferensi, dan fasilitatif untuk mengoperasionalkan proses aktualisasi diri anggotanya.

Inilah dasar yang melahirkan sebuah divisi sederhana yang agak soleh dan rajin menabung: Terikat.


Keterampilan | Minat | Bakat

Judul di atas adalah kepanjangan dari nama divisi ini: Terikat. Divisi ini merupakan lanjutan dari divisi yang sebelumnya bernama Pemikat (Penyaluran Minat & Bakat) dan sebelumnya lagi yang bernama Orkestra (Olahraga, Kesenian, & Keterampilan). Mungkin di lembaga lain, divisi ini adalah bagian yang mengurusi latihan olahraga dan mengadakan acara musik. Ya, betul. Di sini kami juga melakukan itu. Namun aku dan setiap orang yang pernah mengemban tanggung jawab di divisi ini sedikit banyak menyadari bahwa ada yang lebih dari sekedar menjadi manager tim futsal. Divisi ini adalah tempat dimana tujuan tadi bisa tercapai. Divisi ini adalah tempat dimana belajar sebagai katalis aktualisasi diri bisa terjadi.

Kata-kata “keterampilan”, “minat”, dan “bakat” merepresentasikan sebuah kesempatan untuk belajar tentang apapun yang sesuai dengan keinginan kalian untuk dikembangankan sebagai modal aktualisasi diri. Dengan begitu, setidaknya divisi ini memudahkan para anggota untuk menemukan posisi dan perannya dengan sebuah kegiatan sederhana yaitu belajar. Orientasi kegiatannya akan condong kepada usaha belajar yang spontan dan sederhana. Kegiatan itu dapat berupa workshop memasak atau sablon, diskusi tentang psikologi cinta, latihan futsal di lapangan masjid, atau mengadakan konser kecil di pinggir selokan. Spontan dan sederhana, sebagaimana seharusnya setiap manusia belajar. Masalah tentang program kerja dan kroni-kroninya, kuserahkan pada Yang Maha Kuasa di lain waktu.

Pada dasarnya, belajar akan menjadi inti dari keberadaan divisi ini. Terlepas dari perkara himpunan atau kemahasiswaan, aku yakin bahwa belajar adalah sebuah usaha membebaskan manusia. Belajar membawa manusia mengenal lingkungan di sekitarnya, belajar pula membawa manusia mengenal dirinya sendiri. Belajar bukan hanya kata kerja yang berasosiasi buku, membaca, atau menulis, melainkan pembiasaan kepada diri untuk memahami semesta di setiap kesempatannya. Sesederhana mengenal panas dengan menyentuh api. Belajar akan melepaskan manusia dari dinding-dinding yang membatasi ruang indra dan imajinasi. Belajar akan membawa manusia ke suatu tempat yang tidak pernah terbayangkan dan kita tidak akan percaya bahwa kita pernah sebodoh ini, bahwa kita pernah terkungkung oleh ketidaktahuan. Namun dengan itu pula, yang terpelajar memiliki tanggung jawab moral untuk membebaskan orang lain, memberikan mereka hak untuk sama-sama belajar.

Maka, divisi ini ada demi menjadi ruang bagi setiap anggota untuk mempelajari apa yang sebelumnya terbatasi serta menjadikan setiap individunya memaknai rasa dan tanggung jawab sebagai manusia terpelajar.

Terikat ada untuk membebaskan ikatan, Terikat ada dan terikat kebebasan.


Nayaka Angger
Pelayan Warga
HMP Pangripta Loka ITB