Keluarga Baru Itu Bernama OSIS

Tertantang dengan #My500Words yang diberikan oleh Jeff Goins dan teringat dengan kata-kata seorang penulis besar dari Indonesia yang berbunyi:

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca

Maka dari itu aku tertantang untuk menulis secuil kisahku selama berorganisasi. Yap, di OSIS tepatnya. Aku memulai mengikuti organisasi sekolah bernama OSIS ini sejak mulai kelas 1 SMP. Bagiku, OSIS di masa SMP adalah masa pengenalan saja. Tidak ada yang begitu spesial di sana. Namun tentunya aku dapat lebih mengenal teman-teman yang ada di sekolah. Karena dulu sewaktu SMP aku duduk di kelas RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) yang mungkin agak sedikit katakanlah berbeda dari teman-teman yang lain. Yang katanya spesial dari kacamata orang lain padahal sama saja menurut kami yang sedang menduduki kelasnya. Ketika kami duduk di bangku RSBI, tembok besar seketika muncul di hadapan teman-teman yang duduk di kelas “regular”. Mereka enggan untuk saling sapa, pun kami begitu. Namun melalui OSIS ini pikiran saya terbuka bahwasannya setiap orang itu sama saja hanya lingkungannya saja yang menjadi sedikit pembeda bagi setiap orang. Di lingkungan OSIS yang bahkan diketuai oleh murid yang duduk di kelas regular, kami dapat bekerja sama dan berdiskusi dengan santai dan nyaman. Dari situlah, sedikit demi sedikit tembok yang membatasi antara murid yang duduk di kelas RSBI dan regular dapat hilang. Yah, meskipun itu hanya berlaku bagi anak yang aktif di organisasi itu.

Kembali ke OSIS. Tulisanku yang pertama ini mungkin akan lebih menceritakan tahun pertama menjadi OSIS di SMP. Tidak begitu ingat betul sebetulnya cerita-cerita ketika aktif di organisasi ini 7 tahun yang lalu. Tapi kupaksakan ingat saja hehehe.

Sebelum diterima di organisasi ini, tentunya akan melewati tahapan seleksi. Yaitu kalau tidak salah dulu namanya “OSIS WANTED”. Sebetulnya tidak ada keinginan awalnya untuk mengikuti OSIS ini. Cuma mungkin karena penasaran karena dulunya Masku juga mengkuti organisasi yang katanya menyenangkan itu, jadinya coba-coba penasaran dan Alhamdulillah diterima. Di bidang TIK(Teknologi Informasi & Komunikasi) kalau tidak salah ingat. Tidak banyak yang bisa dilakukan di dalam bidang tersebut, karena sebetulnya apapun yang dikerjakan di dalam OSIS dikerjakan bersama-sama. Jika ada suatu acara maka semuanya bekerja. Tidak melihat apakah itu dari pengurus inti atau anggota biasa. Yang terkadang ini menimbulkan senioritas dalam bekerja. Kami yang masih tahun pertama diwanti-wanti untuk kerja oleh senior, namun tak jarang pula masih banyak senior yang enggan untuk hadir bekerja. Jengkel kepada senior seringkali jadi bahan cerita pada sesama sembari biasanya menunggu rapat dimulai. Namun hal positif yang didapat yaitu SABAR dan saling mengingatkan dengan teman lainnya.

Oh iya. Sampai lupa, kalau ketua OSIS pada saat aku tahun pertama di SMP itu seorang perempuan. Sosok yang sampai saat ini masih kukagumi sebagai seorang perempuan karena jabatannya dulu sebagai ketua OSIS perempuan. Ketua kami sangat mengayomi juniornya. Jadi pernyataan kalau senior itu maunya sendiri tidaklah selalu benar. Memang ada beberapa senior yang sangat akrab dengan juniornya dan mau dekat-dekat untuk berbagi cerita dengan kami bahkan juga bercanda sampai melewati batas antara senior dan junior. Sosok seperti ini adalah sosok yang sangat dibutuhkan untuk menjadi pencair suasana di dalam organisasi bernama OSIS ini. Kalau yang sudah aku pelajari di masa kuliah ini, sosok itu biasa disebut orang yang bersifat Sanguinis.

Dari berbagai macam sifat, senang, susah, sedih, marah, bahagia dan berbagai rasa yang didapat saat tahun pertama mengikuti organisasi ini, akhirnya aku berfikir untuk jatuh cinta padanya. Terlebih, aku berfikir bahwa ini adalah keluarga keduaku.