Ketidakhadiran OSJUR Hari ke-1
Pada tanggal 1 September 2018 saya tidak bisa mengikuti OSJUR (Ospek Jurnalistik) PERSMA ITB karena saya harus mengikuti kaderisasi unit lain, yaitu unit SEF ITB (Student English Forum. SEF adalah unit debat bahasa Inggris ITB. Sejak SMA, saya sudah menerjuni dunia english debating. Debat bahasa Inggris merupakan bukan hanya aktivitas yang dilombakan, melainkan sebuah komunitas dimana ketika saya mengikuti lomba debat bahasa Inggris, saya bertemu dengan orang-orang yang kerap saya jumpai di lomba-lomba sebelumnya. Debat bahasa Inggris sudah menjadi hobi yang menjernihkan pikiran saya, walaupun beberapa orang menganggap berdebat itu membosankan.
Hari itu, saya bangun pagi dan langsung mengendarai motor saya menuju tempat parkir timur ITB. Sebenarnya, pihak SEF menyuruh kami berkumpul di gedung GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) yang terletak di sebrang rumah sakit St. Borrromeus. Saya ke ITB terlebih dahulu, karena saya sudah membuat janji dengan teman SMA saya yang juga mengikuti SEF, namanya Galih, untuk bertemu dahulu di ITB dan kemudian jalan bersama ke GMKI. Tetapi, Galih terlambat dan akhirnya saya jalan sendiri ke GMKI. Saat itu saya merasa gugup, karena pihak SEF akan menguji kemampuan bahasa Inggris kami. Ketika sampai di gedung GMKI, saya tersesat dan malah mengikuti barisan kegiatan lain. Akhirnya, saya sadar bahwa itu bukan kegiatan SEF dan saya pindah ke aula dimana kegiatan SEF berlangsung.
Pada saat saya sampai di aula, masih sedikit calon anggota SEF yang sudah datang. Saya mengambil duduk persis di tengah dan menunggu acara untuk mulai. Sebelum mulai, Galih datang dan akhirnya duduk sebelah saya. Kami sedang mengobrol ketika saya sadar bahwa Haiqal, teman kelompok OSKM saya, hadir dan sedang mencari tempat duduk kosong. Saya langsung menyapa Haiqal dan dia pun duduk sebelah saya. Ketika calon anggota SEF yang lainnya mulai bermunculan, acara pun dimulai.
Acara dimulai dengan pembukaan dari MC. MC menjelaskan tentang debat secara umum dan membagi pengalaman dia tentang manfaat belajar berdebat. Tetapi, yang menjadi highlight dari kaderisasi tersebut adalah debate exhibition yang dilakukan setelah perkenalan. Debat tersebut dilakukan oleh legenda-legenda debat Indonesia. Di tim government ada alumni ITB angkatan 2006 yang menjuarai Indonesia di World University Debating Championship 2010, alumni angkatan 2012 dan anggota SEF angkatan 2017. Di tim opposition ada 3 anggota SEF angkatan 2015 yang telah menjuarai University Asian Debating Championship 2018 dan IVED 2018. Debat tersebut mengangkat mosi “This House Regrets the Narrative that Life is Inherently Valuable”.
Debat ini tentu saja sangat menarik karena menantang pemikiran umum semua manusia. Tetapi, tim pro dengan hebat meyakinkan kami kalua mosi tersebut benar. Menurut saya debat tersebut dengan jelas dimenangkan oleh tim government.
Setelah itu kami melakukan written test yang dimana kami harus mengambil tiga topik dan membicarakan apa saja pengetahuan kami tentang topik tersebut. Topik pertama yang saya ambil adalah Whitewashing on Hollywood. Topik tersebut membicarakan bagaimana Hollywood kerap menetapkan peran non-kaukasian (seperti orang Persia, Jepang, atau India) yang dimainkan oleh orang kaukasian atau sering disebut “kulit putih”. Topik kedua adalah tentang Brexit (British Exit). Topik ini membicarakan tentang keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang menyebabkan kekacaubalauan di hubungan internasional Inggris. Topik ketiga adalah tentang filosofi apakah benar pilihan bebas itu ada. Pada dasarnya pilihan kita sangat dipengaruhi oleh lingkungan kita dan social construct. Topik ini membahas apakah sebenarnya pilihan kita itu bukan pilihan kita melainkan orang lain atau lingkungan yang secara halus memberi tahu kita bahwa kita harus memilih pilihan tersebut. Topik ketiga memang adalah topik yang sangat membuat kita berpikir kritis.
Setelah written test, ada istirahat selama sekitar 1 jam 30 menit. Setelah istirahat tersebut kami disuruh kumpul lagi di Labtek VIII. Saya, Haiqal, dan Galih memutuskan untuk makan di kantin GMKI. Kami memesan ayam geprek sedangkan Galih memakan bekalnya. Setelah itu, kami pergi ke ITB. Kami memutuskan untuk sholat di musholla Gedung CC Barat. Ketika kami jalan ke Labtek VIII, kami dihentikan oleh beberapa orang yang memakai jaket himpunan abu-abu. Ternyata sedang diadakan ospek jurusan di Labtek VII. Akhirnya, kami dipindahkan ke Labtek V dan melanjutkan proses seleksi anggota SEF.
Tes selanjutnya adalah speaking test. Di test ini, kami diuji bukan dari konten apa yang kami bicarakan, melainkan bagaimana sikap dan kelancaran Bahasa Inggris kami. Kami diberi beberapa topik dan saya memilih topik “The Media Controls the Ways We Think”. Menurut saya pidato saya saat itu mungkin agak terlalu serius. Ada anggota lain yang menceritakan tentang kisah cinta dia dan menurut saya itu sangat lucu dan menyenangkan.
Test selanjutnya adalah logic test. Tes ini adalah tes yang paling dekat dengan berdebat. Tes ini ingin menguji logika kami dengan cara mengharuskan kami pidato dengan membawakan argument-argumen mengenai mosi yang diberikan. Saya mendapatkan mosi “This House Would Make Public Universities Free”. Saya harus kontra dengan mosi tersebut. Menurut saya tes ini adalah yang paling menegangkan karena saya sudah lama tidak berdebat
Tak terasa langit sudah mulai gelap. Walaupun saya sangat capek, entah kenapa saya merasa terinspirasi. Udara sudah mulai dingin dan saya berjalan ke motor saya yang diparkirkan di parkiran Timur.
16918036
Nayottama Putra Suherman
FTMD
