The Other Side of PERSMA: Kisah Jurnalistik
Mewawancara presiden KM ITB di siang hari dan meliput kerusuhan di Tamansari jam 3 pagi dilakukan. Kebakaran di Gelap Nyawang? Seseorang siap datang dan meliput. Dari anggota biasa PERSMA hingga pemimpin redaksi pun siap datang dan meliput. Meliput aksi kabinet KM ITB di luar kota, mengumpulkan data statistik calon-calon presiden kabinet KM ITB, dan mewawancarai massa kampus merupakan beberapa hal yang dilakukan seorang jurnalis PERSMA.
Sebagai lembaga pers di ITB, PERSMA memiliki pengaruh yang cukup kuat di kalangan mahasiswa ITB, terutama terkait isu-isu Intrakampus. Sudah jelas ITB adalah kampus yang penuh dengan politik di kegiatan sehari-hari KM ITB. Maka dari itu, muncullah pertanyaan, apakah PERSMA, sebagai lembaga jurnalistik, bisa menjaga kenetralan di tengah panasnya politik kampus, terutama akhir-akhir ini? Sebelum terjun ke jawaban, ada pertanyaan yang lebih penting terlebih dahulu dijawab, apa itu netralitas? Menurut pemimpin redaksi PERSMA, Rifqi Khoirul Anam (SI’16), netralitas sendiri berarti bahwa PERSMA, sebagai media kampus, memberi ruang yang sama untuk kedua belah pihak beropini, dari oposisi kabinet KM ITB, maupun dari pihak kabinet KM ITB. Ini sangat menarik karena netralitas sering disamakan dengan tidak ada opini yang berpihak. Asalkan opini tersebut dapat dipertanggungjawabkan, opini dapat dimediakan. Karena pada dasarnya, pers ada untuk menyuarakan opini-opini oposisi dari suatu pemerintahan.
Konten-konten dari PERSMA diberitakan melalui berbagai media. Media terbesar mereka adalah koran yang bernama Ganeca Pos. Sebulan sebelum penerbitan, diadakan rapat besar untuk menyusun koran tersebut. Keputusan-keputusan seperti konten yang diterbitkan, isu yang diangkat, grafis dan foto yang dipakai, data statistik yang dikumpulkan, dan banyak lagi yang dirapatkan. Setelah semua bekerja keras dan semua hal disatukan, saatnya koran dicetak. Pada Ganeca Pos edisi 25 Agustus 2018, PERSMA mencetak 1 rim eksemplar atau sama dengan 500 eksemplar. Koran tersebut mereka bagikan secara gratis ke masa kampus, terutama mahasiswa TPB pada saat OHU. Ada dua acara yang biasanya menjadi highlight dari Ganeca Pos, yaitu OSKM dan Pemira. Ada juga bagian fitur, dimana mahasiswa yang ingin karyanya, seperti cerpen atau puisi, ditunjukkan. Tidak jarang dalam PERSMA saat-saat ketika mewawancarai narasumber untuk sebuah konten harus menjaga rahasia. Narasumber mempunyai hak hasil wawancara yang mana saja yang bisa dibaca masa kampus. Tentu saja aspek ini adalah hal yang sering dijumpai di jurnalistik pada umumnya, dan PERSMA menangani hal ini tentu saja dengan penuh kerahasiaan untuk kenyamanan narasumber,
Tidak hanya koran Ganeca Pos, ada juga program unggulan PERSMA, yaitu liputan acara yang sedang berlangsung melalui live chat akun resmi LINE. Di sinilah hal-hal menarik dan pengalaman-pengalaman peliput terjadi dan didapatkan. Salah satu contohnya adalah ketika ada kisuruh di Tamansari jam 3 pagi jurnalis PERSMA yang meliput hingga ikut terombang-ambing massa dan ikut dikejar-kejar polisi. Liputan live chat ini menjadi kiblat informasi tentang keberlangsungan acara yang sedang terjadi yang mahasiswa tidak bisa atau sempat ikuti. Seperti contohnya Forbas, acara yang ditujukan dan dihadiri oleh angkatan 2017, bisa diketahui keberlangsungannya oleh mahasiswa lain melalui live chat.
Tidak sedikit mahasiswa yang takjub dan sangat menghargai kerja PERSMA, terutama mahasiswa-mahasiswa yang sudah di jenjang tingkat atas. Kerja keras mereka membuahkan hasil yang penting untuk intrakampus. Setelah satu isu diberitakan, persiapan untuk berita lagi dimulai. Setelah meliput satu acara langsung, siap siaga kembali untuk kejadian mendadak selanjutnya. Ini adalah sebuah cerita jurnalistik.
16918036
Nayottama Putra Suherman
FTMD
