Makrokosmo Hati

Dalam satu pertiga usiaku di kota ini
Satu pertiga akhir, realisasi
akhirnya aku perlu
keluar, melangkah pergi lantas kembali
Bersama resah, gembira, hiba, fikiran dan segala teroka
untuk aku bina sesuatu di tanjung abadi

Aku pernah tumpahkan air mata
bersama derai tangis langitnya
Aku sering dendangkan lagu keluh dan ngadu diadun gemersik bayu di celah-celah lorong itu
Dan kegembiraanku hanya denyar cahaya
umpama matahari malu di musim dingin
Kota ini sudah tersulam erat
dalam fabrik diri
Teman terakrab
dikala manusia datang dan pergi.

Dalam kegelapan
Nun ada kerdip senyum Tuhan
Tiada yang lebih indah
melainkan tebar gugus bintang
pada langit di malam yang pekat gelap
Dan manusia menciptakan teleskop untuk
menerjah jauh dalam menembus ke dasar kerlip bintang
ternyata padanya warna-warna yang lebih indah gemilang
Semakin lama semakin aku sedar
Kota ini ternyata mirip sekali
makrokosmo hati
yang dibiar terdedah buka.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated nhf’s story.