Ketika Tuhan Amnesia


“Gue tau kenapa dunia belakangan ini kacau banget.”, ujar Bob sambil terengah-engah mengejarku.

Aku mendelik sesaat, menatapnya, lalu kembali ke kesibukanku. Melukis di tengah taman.

“Kenapa?”, tanyaku dengan nada tidak peduli, yang sepertinya tidak ia tangkap. Karena ia tetap dengan semangat berkata sambil setengah berteriak padaku.

“Karena Tuhan sedang amnesia, Nic.”

Aku berniat menunggu sekitar 5 detik sebelum melontarkan kalimat sarkasme andalanku padanya. Namun ternyata hanya butuh 2 detik baginya untuk kembali melanjutkan kalimat absurd itu.

“Tuhan sedang amnesia dan lagi istirahat di rumah gue. Dia bener-bener ga inget apa-apa bro!”

Bob adalah seorang lelaki berusia 30 tahunan dengan perawakan yang selalu aku kategorikan sebagai “Pria eksekutif muda”. Dia dan tampangnya yang hampir selalu serius sungguh kontradiktif dengan kabar absurd yang dibawanya siang ini.

Harusnya yang absurd dan aneh-aneh itu aku.

Aku meletakkan kuas. Mengelap tanganku dan berbalik menghadapnya.

“Tuhan amnesia, dan lo malah nyari gue? Kenapa nggak ke dewan PBB? Atau Vatican?”

“Soalnya lo kan pernah amnesia, dan sembuh.”

Ah damn. Iya juga ya. Aku lupa kalo dulu sudah sempat amnesia dan sembuh.

“… dan gue nggak tau nomor telepon PBB”

Aku sebenarnya malas turun tangan untuk hal-hal religius begini. Tapi bentar deh.. Dia kan Tuhan. Kalo nanti bisa disembuhkan, bisa aja dong, aku diberikanNya pemenuhan permintaan. Lumayan lah. Bisa punya rumah baru, atau mobil baru. Atau… Aku bisa meminta hal-hal yang lebih besar. Seperti … Hmm… Menjadi superhero.

Ah, tapi dia kan Tuhan, bukan Jin lampu.

Tepukan Bob di punggung menyadarkanku dari lamunan.

Saking geli dan nggak tahan melihat keseriusannya, aku pun mengemasi peralatan lukisku dan berkata,

“Kita jalan sekarang, tapi gak langsung ke rumah lo. Mampir ke toko buku-buku Rohani dulu. Oke?”

***

“Semuanya 666.000"

Pilihan angka yang ironis, ujarku dalam hati sambil mengulurkan kartu debit ke sang kasir toko rohani.

Kami memang berbelanja cukup banyak siang itu. Dan sejujurnya, seumur hidup belum pernah aku belanja buku rohani sebanyak ini. Kehadiran Tuhan memang mengubah banyak hal.

Sambil menyaksikan Bob bersusah payah mengangkat tumpukan buku itu ke mobil, aku berkata padanya,

“Kok dari semua orang yang ada di muka bumi ini, dan dari segala planet yang ada di semesta ini, Dia milih buat amnesia di tempat lo ya Bob? Eh awas ngeletakinnya, jangan sampe kena kanvas gue.”

“Nggak tau. Tapi kalo sepemikiran gue, mungkin gara-gara nama kompleks perumahan gue Paradise Garden.”

Bob.
Selalu serius. Tapi tidak selalu cerdas.

***

Kami akhirnya tiba di rumah Bob sekitar pukul 2.

Syukurlah.

Sepanjang perjalanan, ia berulang kali bercerita bagaimana Tuhan menemuinya, dan kenapa ia bisa yakin bahwa yang beberapa saat lagi akan kami temukan adalah Sang pencipta yang Mahakuasa.

Jika tidak kenal, aku pasti sudah mengira orang ini adalah pewarta iman.

Karena hal itu pula lah, aku hampir tidak lagi terkejut saat melihat Tuhan untuk pertama kalinya.

Ia seorang wanita paruh baya. Tidak cantik, tidak jelek juga. Biasa saja, sedikit gemuk. Sebagaimana layaknya perempuan yang telah menikah dan berusia 40-50an tahun.

Lalu kenapa Ia berlari di treadmill?

Harusnya cukup menjentikkan jari, Ia bisa memiliki tubuh seperti Monica Belluci.

Melihat kami memasuki rumah, dengan sigap Ia turun dari treadmill dan menghampiri kami seraya mengulurkan tangan,

“Halo. Saya Alfa Omega. Apakah Anda, dokter yang disebut Bob bisa menyembuhkan amnesia?” ujarnya ramah.

“Nico. Bukan dokter..” jawabku berusaha untuk tidak gugup. Tangannya terasa hangat.

“Tapi akan berusaha semaksimalnya untuk mengembalikan ingatan Ibu.”, sambung Bob sebagai jawaban atas tatapan bingung Sang Mahakuasa.

Setelah mempersilahkan kami duduk, Bob kembali ke mobilnya untuk mengambil buku-buku rohani dan beragam kitab suci.

Ibu Alfa membuka percakapan,

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

“Umm.. Harusnya sih iya.”

“Aha! Pantas rasanya wajahmu familiar”

Aku menyeringai pelan.

“Ibu suka olahraga?”, ujarku berbasa basi layaknya baru bertemu dengan orang yang lebih tua.

“Ah nggak. Tadi cuma penasaran aja alat itu apaan. Jadi dicobain, ternyata lucu juga. Seolah-olah udah berjalan jauh, padahal nggak kemana-mana. Hahaha.”

Mendengar jawaban itu, aku pun hanya memberikan respon default, “Wah tapi Ibu keliatan fit, saya kira udah sering. Hehehe”

“Haha. Oke, Nico, jadi sekarang apa yang harus Saya lakukan supaya ingatan Saya kembali?”

“Kalo dulu sih, saya dibawakan kembali hal-hal yang mengingatkan saya akan masa lalu. Kebetulan saya pelukis, jadi lukisan-lukisan lah yang sedikit-demi sedikit membawa ingatan saya kembali.”

Bersamaan dengan itu Bob pun kembali masuk ke rumah dengan buku-bukunya.

“Kita bisa coba dengan buku-buku ini”, tanganku meraih sebuah Kitab Suci dan mengulurkannya pada Ibu Alfa.

“Apakah.. Buku ini berisi tulisanKu?”, tanyanya sambil membolak-balik halaman.

“Bisa ya dan bisa tidak. Banyak yang percaya, tapi tidak kalah banyak yang menentang. Ini adalah tulisan-tulisan paling populer yang bisa kami temukan tentangMu.”

“Hmm.. Sebagian terasa familiar sih.”

Aku mengulurkan Kitab suci yang lain.

“Ini juga tulisan tentangKu?”

Aku dan Bob kompak mengangguk.

“Kenapa bisa begini berbeda?”

Aku dan Bob kompak mengangkat bahu.

“Kami tidak pernah tahu asal mulanya. Tapi sejak berabad-abad lalu, perbedaan yang terdapat di buku buku itu menghasilkan perang, ketakutan, perebutan kekuasaan, hingga kesulitan untuk berkeluarga di banyak tempat”

Tuhan menatapku tajam karena kata-kataku barusan.

Aku berdoa dalam hati, semoga ia tidak mendadak mengubahku menjadi seekor kutu.

Tunggu.

Barusan aku berdoa pada siapa?

Ia kembali membaca satu per satu isi buku-buku yang berbeda-beda itu. Kadang Ia fersenyum. Sesekali geleng-geleng kepala. Namun sering Ia malah tampak mengernyitkan dahi.

“Ini tidak terlalu membantu.”, ucapnya memecah keheningan setelah sekian lama.

“Rasanya seperti membaca biografi tentang diri sendiri dengan versi yang berbeda-beda.”

Ia menatapku.
“Coba pilihkan satu saja yang menurutmu paling baik.”

“Nah itu masalahnya.”. ujarku cepat.

“Saat ini Aku tidak percaya ada satu buku yang terbaik.”

“Kenapa?”

“Terlalu banyak hal yang menyedihkan dihasilkan oleh aturan-aturan yang tertulis pada buku-buku itu.”

“Kamu sudah baca semuanya?”

“Belum sih. Yang belum dibeli juga masih banyak di luar sana.”

“Lalu apa yang membuatmu yakin tidak ada satu pun yang bisa kamu pilih?”

“Jangan salah. Saya punya pilihan. Tapi itu tidak lantas membuat saya percaya bahwa pilihan saya yang terbaik.”

Ia tertawa.

“Jadi kamu membawa buku-buku yang lain, dengan harapan salah satunya akan mengaktifkan kembali ingatanku, meskipun tidak ada yang kamu percayai?”

Di titik ini, Ia tidak lagi terasa seperti Tuhan.

Sudah lebih seperti dosen penguji pada sidang skripsi. Seperti yang selama ini gemar Ia lakukan. Menguji manusia.

“Sebenarnya selain mengembalikan ingatan Ibu, ada lagi yang tidak kalah penting…”, Akhirnya Bob angkat bicara. Ia kemudian menyerahkan setumpuk koran hari ini dan beberapa hari yang lalu.

“… Bencana alam, peperangan, penyakit, dan kriminalisasi di hampir semua lapisan masyarakat. Ini yang lebih krusial untuk diperbaiki.”

Remaja populer 2014 akan merespon pernyataan itu dengan: ‘Orang-orang yang bikin masalah, trus gueh yang mesti nyelesaiin? Heloooh~’

Tuhan berkata, “Kalian yang memulai semua itu, lalu saya yang harus memperbaikinya?”

Oke. Itu versi dewasanya.

“Kami tidak akan meminta bantuan, jika kami sendiri bisa menyelesaikannya. Ironis memang. Tapi dunia justru paling banyak digerakkan maju oleh mereka yang tidak percaya kepadaMu.”, ujar Bob. Ah, dia mulai mirip sepertiku.

Kemudian hening lagi.

Hingga akhirnya Tuhan menutup semua buku dan berkata, “Sepertinya, Saya bukanlah seperti yang selama ini kalian kira.”

Pernyataan itu memang terbukti benar, setidaknya bagiku. Sebelum ini, aku selalu berpikir bahwa Tuhan adalah seorang kakek bertubuh kekar yang berjenggot tebal warna putih, dan memegang tongkat bercahaya. Namun tetap saja aku bertanya, “Maksud Ibu?”

Ia mengatur posisi duduk dan raut wajah seolah ingin mengucapkan sesuatu yang sangat serius.

“Kalian selalu mengira bahwa Saya lah yang menciptakan kalian, lengkap dengan semua kebaikan dan masalah yang kalian hadapi. Namun bagaimana jika, kalian lah, beserta segala keresahan dan kesenangan kalian, yang menciptakan Saya?”

“Bagaimana jika Saya adalah manifesto dari harapan dan kekecewaan yang terkumpul dari semua manusia saat ini? Sehingga wajar jika saya sama sekali tidak punya ingatan apa pun tentang masa lalu, karena… Karena Saya baru tercipta sekarang.”

Aku melihat Bob terdiam dan gemetar. Aku pun tidak percaya akan apa yang dikatakanNya, namun harus diakui, ini semua masuk akal. Dan celakanya, aku sepertinya bisa menebak akan ke mana pembicaraan ini.

“Bagaimana jika kehadiran Saya, bukanlah pada awal segalanya, namun justru sebaliknya, untuk menemani manusia di saat-saat terakhirnya? Dan inilah saatnya. Awal dari Yang terakhir.”

Itu dia.

“Cukup!”,

Akhirnya aku berdiri karena tidak tahan lagi. “Kami sudah memberitahukan apa pun yang kami ketahui. Tentang apa yang dipercayai sejak awal mula, dan bagaimana hasilnya hingga yang paling terbaru. Tugas kami adalah membantuMu mengingat lagi apa yang telah terjadi, dan itu sudah selesai.”

“… Apa yang akan Ibu lakukan setelah ini, sudah bukan lagi tanggung jawab kami. Dan memang bukan hak kami untuk ikut campur.”

Bob ikut berdiri, “Dan jika Ibu mau memulai apa pun itu, rumah ini bukanlah tempatnya. Ini adalah rumah orang yang tidak percaya.”

Tuhan tersenyum bijak. Ia pun ikut berdiri.

“Saya paham. Terima kasih atas bantuan kalian. Memang sudah saatnya Saya melanjutkan perjalanan untuk perbuatan-perbuatan besar lainnya. Jaga diri kalian baik-baik ya.”

Ia berjalan mendekati Bob. Memeluknya dan membisikkan sesuatu.

Lalu berjalan kepadaku, mengulurkan tangan yang kemudian kujabat erat. Rasa takut dan marahku, entah kenapa kini sudah berubah jadi sedih.

“Terima kasih. Jangan sedih, kita akan berjumpa lagi suatu saat nanti.”

Ada perasaan damai saat melihatNya berjalan menuju pintu. Sesaat sebelum melangkahkan kakiNya keluar, Ia berbalik dan bertanya, “Bolehkah Saya meminta lukisanmu hari ini?”

Aku mengiyakan permintaannya dan meminta kunci mobil dari Bob.

“Terima kasih. Tidak apa-apa, Saya bisa mengambilnya sendiri. Selamat tinggal.”, ujarnya sambil tersenyum meninggalkan rumah.

Butuh waktu lama setelahnya untuk aku dan Bob terhenyak di kursi sebelum aku memutuskan untuk berkata, “Sepertinya kita baru saja memulai akhir zaman.”

Bob menoleh, menganggukkan kepala dan berkata, “Apa yang akan kita lakukan sekarang?”

“Entahlah”, ujarku.

“Tapi sepertinya kalo buku-buku ini kujual lagi, mungkin aku bisa membeli sebuah kanvas baru.”

-Fin-

Email me when Nico Alyus publishes or recommends stories