Berbagi Kisah, Berbagi Kasih

Baru baca sebuah kisah menarik di Reddit. Seorang pemuda tampak sibuk di sebuah stasiun kereta bawah tanah, terburu-buru mempersiapkan diri untuk wawancara kerja pertamanya di sebuah perusahaan. Tangan kirinya memegang dasi, tangan kanannya sibuk merapikan sebundel dokumen untuk melengkapi arsip administrasinya.

Dengan wajah cemas ia menatap sekitar, dan menemukan seorang pria paruh baya dengan dandanan agak perlente. Sambil menunggu kereta tiba, ia memberanikan diri untuk menghampiri.

“Bisakah Anda membantu memakaikan saya dasi. Saya hendak wawancara kerja, tapi saya tak tahu bagaimana cara memakainya,” ujar pemuda tersebut.

Dengan senyum ramah si pria paruh baya mengalungkan dan merapikan dasi di kerah kemejanya. Seorang pria lain yang menguping permintaan tersebut ikut berpartisipasi membantu merapikan dokumen si pemuda. Seorang lainnya dengan mantap memberikan sejumlah kiat dan pengalamannya menjalani wawancara kerja. Dalam sekejap stasiun kereta bak berubah jadi kantor konsultan pencari kerja.

Dasi telah rapi menjulur dari kerah kemejanya, dokumen-dokumennya sudah jadi satu arsip di dalam amplop yang telah si pemuda persiapkan. Si pemberi kiat, dengan mantap menjabat tangan si pemuda, “Semoga sukses!” Diikuti belasan orang lainnya yang tiba-tiba berkerumun, bersimpati pada pemuda tersebut. “Semangat!” ujar beberapa orang sebelum si pria melangkah pergi ketika keretanya tiba.


Lucu juga bila kisah tersebut jadi inspirasi sebuah tayangan advertorial produk media. Kira-kira konsepnya: ‘Berbagi Kisah, Berbagi Kasih’. Soalnya belakangan banyak media menempatkan diri hanya sebagai portal pemberi kabar, kisah, dan semata warta. Tak banyak yang menempatkan diri sebagai pemberi kasih, berbagi simpati satu sama lain.

Apa yang dilakukan para gentleman pada si pemuda pencari kerja adalah representasi yang harusnya bisa sebuah media beri pada para pembacanya. Hadir tak teduga di saat yang tepat (serendipity), handal memberi informasi, sekaligus mahir memberi inspirasi.

Storyboardnya: selain melakukan reka ulang kisah di atas dengan mengadaptasinya dengan ‘kearifan’ lokal (subway diganti jadi stasiun KRL, :p), adegan berakhir dengan fade-in jenis, tagline, dan call to action produk yang hendak disampaikan. Nuansanya dibuat mirip-mirip lah dengan banyak iklan Thailand yang kerap membuat kita berurai air mata bahagia.

Jika populasi masyarakat Indonesia yang kesepian/butuh banyak perhatian (;p) masih banyak, harusnya iklan tersebut bisa menggugah mereka untuk meresepon call to action yang disampaikan. Rasanya sulit menolak sebuah produk yang tak hanya mejanjikan kisah teraktual, tapi juga menawarkan kasih yang kasual, bukan begitu? ;).