Mengapa warga menolak digusur?

Apa persoalan terbesar manusia? Kemiskinan? Kesehatan? Pendidikan? Korupsi? Keserakahan? Lingkungan?

***

Tadi pagi saya menonton tayangan berita di TVOne. Beritanya tentang aksi aparat pemerintah DKI Jakarta menggusur rumah-rumah warga di sebuah lahan milik pemerintah. Aksi tersebut mendapat perlawanan dari warga yang menolak pindah. Tayangan memperlihatkan adu mulut antara petugas dan warga.

Kamera lalu pindah menyorot wawancara antara reporter TV dan seorang warga. Begini dialognya.

Reporter TV: Mengapa Anda menolak pindah?
Warga: Karena ini tiba-tiba. Saya nggak tahu.
Reporter TV: Kok bisa nggak tahu?
Warga: Pemberitahuannya mendadak sih.
Reporter TV: Tak ada pemberitahuan sebelumnya?
Warga: Dulu ada SP 1, tapi nggak ada eksekusi. Lalu ada SP 2, SP 3, nggak ada eksekusi juga. Terus sekarang ada SP 4, langsung eksekusi. Nggak bisa mendadak gini dong…

Sampai di situ saya bingung. Warga menganggap eksekusi penggusuran rumah itu mendadak. Padahal ternyata sudah empat kali surat pemberitahuan untuk pindah yang dilayangkan. Apanya yang mendadak?

Saya lalu teringat tulisan Dale Carnegie pada 1963. Menurut Carnegie, masalah terbesar yang kita hadapi sehari-hari adalah berurusan dengan orang lain.

Sebagian dari kita mungkin berpendapat bahwa masalah terbesar di Indonesia itu, antara lain korupsi, kesehatan, atau pendidikan. Tapi untuk menyelesaikan masalah tersebut, pertama-tama kita harus berurusan dengan orang lain: Menangkap koruptor, mendidik orang tentang pentingnya pencegahan penyakit, atau mencetak guru.

Dari tayangan berita televisi itu kita pun tahu, persoalan terbesar kita adalah berurusan dengan orang lain. Bukan begitu bukan?

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.