3 lembar uang 5000-an

Rencananya mau ke kampus, eh adik cewek satu2nya minta di antarin ke kos-an temannya, karena kebetulan dia baru masuk kuliah, kalau gak di antarin, takutnya nyasar entah kemana. jam di handphone sudah menunjukkan 13.00, mana panas lagi, tapi kok di tengah jalan, si kevin jalannya mencong-mencong (kevin: motor sup** fit kesayangan). wah, ada yang gak beres nih, tengok ke bawah, ternyata bannya bocor, kevin, kevin.. udah berapa kali banmu pecah nak. pelan-pelan sambil nengok kiri kanan, saya mencari tukang tambal ban, kebetulan jaraknya gak sampai 200 meter dari tempat bannya si kevin pecah ada tukang tambal ban. pelan-pelan saya dekati, ada sepasang kakek dan nenek, si nenek lagi nyapu dan si kakek lagi tidur. saya bertanya “ nek, bisa tambal ban??”, si nenek balik bertanya pakai bahasa sasak yang kalau saya artikan kurang lebih seperti ini “ mau isi angin atau tambal ban??”, saya jawab lagi “ tambal ban nek”. lagi-lagi dengan bahasa sasak si nenek ini membangunkan si kakek, kayaknya kakek ini lagi asik tidur, rejeki gak boleh di tolak kek.. :D.

pelan-pelan kakek ini mulai membuka ban si kevin. dalam hati saya berkata, “ kakek-kakek yang udah keriput begini aja masih kuat lakukin pekerjaan seperti ini, salut “. sambil termenung saya memperhatikan kakek menambal ban, beberapa saat si nenek berbicara dengan anak perempuan berumur belasan tahun dengan seragam SMA, saat saya melihatnya, dengan tersenyum si nenek berkata, “ cucu ini nak”, saya cuma tersenyum. Si nenek mengeluarkan selembar uang Rp. 5000an ke cucunya. Si nenek lalu mengajak saya berbincang, “ cucu saya sekolah di M** 2", “ baru pulang sekolah, dari sekolahnya jalan kaki, lewat lampu merah”. saya tertegun, jauh juga, jalan kaki dari sekolahnya , kalau saya kira-kira, jaraknya 2km-an, lalu si nenek lanjut berkata “ dia sekolah biaya sendiri, katanya mau lanjut kuliah”. dalam hati saya, perjuangannya untuk belajar tinggi sekali, walaupun terlihat orang tidak berada, bukan berarti impiannya juga tidak ada. sedangkan kita, jangankan untuk jalan untuk jarak sejauh itu, ke indo**** yang dekat saja, pakai motor, Giliran BBM mau naik semuanya protes. Setelah itu, saya perhatikan si nenek makan siang di gubuk kecil di pinggir jalan tempat mereka membuka usaha tambal bannya ini, sempat ia menawarkan saya untuk ikut makan.

setelah sekitar 20 menit, Selesai juga ban si Kevin di tambal, saya mengeluarkan uang Rp. 5000-an 2 lembar dari dompet untuk membayar jasa si kakek. walaupun mereka terlihat tua dan lemah, ternyata semangat kerjanya tinggi. apalagi kita yang muda, tentu semangat kerjanya harus lebih tinggi lagi.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.