Seperti Untuk Tuhan
“Pelayanan itu untuk Tuhan jadi jangan liat manusianya, liat Tuhan aja”
Sering banget kan denger perkataan ini? ada yang lebih keren lagi, begini quote nya : “apapun yang kita lakukan itu semua untuk Tuhan, ga usah peduliin omongan dan perbuatan manusia”
Dulu saya meng-amin-i pemikiran ini karena pemahaman saya pada waktu itu adalah orang lain tidak memiliki pengaruh apapun dalam hidup saya.
Tapi ini ternyata sebuah kesalahpahaman yang berakibat munculnya sikap bodo amat dengan teguran, nasihat, dan saran dari orang lain bahkan jika teguran, nasihat, dan saran itu benar.
Pemikiran-pemikiran ini mengakibatkan munculnya “quote bijak” yang keblinger, meleset dari tujuan awalnya, yaitu “hidup dari perkataan Tuhan tentang kita”.
Menjadi menyipang hingga berubah menjadi : “jangan dengerin omongan orang lain, hidupmu tidak didefinisikan dari situ”
Ironinya adalah setelah menuliskan hal itu, orang tersebut mem-posting quote dari orang terkenal, nah bukankah ini kontradiktif? Kita meminta orang untuk tidak hidup dari perkataan orang lain tapi kita membagikan perkataan orang lain agar diikuti oleh orang lain, lah bijimana sik??!!
Oke, kembali ke topik awal, yaitu seperti untuk Tuhan.
Sadar gak sih ini adalah sebuah kalimat yang sangat berat dan gak semudah itu diucapkan apalagi dilakukan. Mari kita lihat ayatnya :
“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” — Kolose 3:23 TB
Jika kita mengambil satu ayat ini saja dan mengabaikan pasal dan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya dalam satu surat yang sama ini, maka pemikiran diatas yang saya sampaikan tadi wajar jika itu dianggap kebenaran.
Tapi pertanyaannya, kata “apapun juga” itu mengacu kemana? Apa yang sedang dibicarakan Paulus kepada jemaat di Kolose? Kenapa dan dalam keadaan apa Paulus menulis surat ini?
Jika melihat konteks latar belakang surat Kolose ini, maka kita akan menemui fakta bahwa Paulus menulis surat ini ketika didalam penjara. Ini sangat menarik, karena tidak mungkin Paulus rela mengisi waktu luangnya di penjara untuk menulis surat yang tidak penting, artinya surat Kolose ini bisa dianggap sebagai surat yang penting!
Uniknya adalah adanya sebuah kemungkinan Paulus sendiri tidak pernah mengunjungi Kolose, jemaat Kolose berkembang dari perluasan jemaat Efesus dimana Paulus pernah 3 tahun tinggal disana menginjil dan mengajar umat.
Karena itu, bisa jadi ketika Paulus mendengar kabar tentang jemaat Kolose dan bagaimana cara hidup mereka, Paulus sangat kegirangan sehingga ia menulis secara khusus surat ini untuk mereka.
Ini bisa kita lihat di awal surat bagaimana Paulus menyatakan kebahagiaannya dan rasa syukurnya tentang apa yang Tuhan kerjakan di Kolose.
“Kami selalu mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu, karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, oleh karena pengharapan, yang disediakan bagi kamu di sorga. Tentang pengharapan itu telah lebih dahulu kamu dengar dalam firman kebenaran, yaitu Injil, yang sudah sampai kepada kamu. Injil itu berbuah dan berkembang di seluruh dunia, demikian juga di antara kamu sejak waktu kamu mendengarnya dan mengenal kasih karunia Allah dengan sebenarnya. Semuanya itu telah kamu ketahui dari Epafras, kawan pelayan yang kami kasihi, yang bagi kamu adalah pelayan Kristus yang setia. Dialah juga yang telah menyatakan kepada kami kasihmu dalam Roh.” — Kolose 1:3–8 TB
Dan gak cuman senang, Paulus sering mendoakan mereka
“Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar,” — Kolose 1:9–11 TB
Ada hal menarik jika diperhatikan di awal surat ini, Paulus membuat sebuah jembatan untuk masuk ke hal esensi yang akan disampaikannya, yaitu tentang hal yang utama yang harus selalu menjadi acuan hidup orang-orang percaya.
Paulus mulai fokus menjelaskan tentang Yesus sang pusat hidup, Yesus yang adalah satu-satunya teladan dan dasar kekristenan.
“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya.” — Kolose 1:15–22 TB
Ayat diatas berbau sebuah pernyataan bahwa Yesus adalah Allah itu sendiri. Yang utama, yang ada sebelum semuanya ada, dan yang terpenting adalah Yesus adalah KEPALA alias sang tuan besar pemimpin dan penguasa hidup kita.
Kenapa Paulus menyampaikan hal ini, bukankah tadi diawal ia menyatakan sukacitanya ketika mendengar cara hidup jemaat Kolose yang hidup dalam kasih, dalam iman, dan dalam penyertaan kemuliaan Allah yang besar?
Paulus menyadari dan belajar dari apa yang terjadi di Efesus , yang dihadapi oleh Timotius anak rohaninya. Yaitu munculnya ajaran-ajaran sesat dan filsafat kosong yang pelan-pelan menggantikan keutamaan dan keunggulan Kristus dalam hidup orang percaya. Munculnya pengajar-pengajar sesat dan Nabi-nabi palsu yang mengajar dengan serampangan dan mencampuradukkan ajaran Kristus dan budaya-budaya peninggalan nenek moyang yang tidak sesuai ajaran Kristus.
Selain letaknya berdekatan dengan Efesus, Paulus juga mendapatkan berita ini dari Epafras yang tinggal di Kolose bahwa mereka mnegalami hal yang sama dengan jemaat di Efesus.
Sangat dimungkinkan, jemaat di Kolose ini belum yakin 100% tentang ke-Allah-an Yesus, karena itu Paulus benar-benar meyakinkan mereka tentang ini. Terlebih dari itu, Paulus ingin mengajarkan kepada mereka tentang kedewasaan rohani didalam Kristus.
Pengikut Kristus yang dewasa tidak lagi memiliki ukuran kebenaran dari apa yang dilakukan atau apa yang terlihat saja tapi standar kebenarannya muncul dari sejak ada didalam hati. Sehingga, jika hatinya salah maka apapun bentuk perbuatannya menjadi salah, jika hatinya rusak maka apapun bentuk perbuatannya menjadi rusak.
Ini cocok dengan ajaran Yesus tentang perbendaharaan hati, juga yang tercatat dalam kitab amsal dalam Amsal 4:23.
Kembali ke topik seperti untuk Tuhan, jadi apa yang dimaksud Paulus disini? Jika membaca secara utuh surat Kolose ini kita akan melihat Paulus banyak bercerita tentang pelayanan dan penderitaannya, Paulus menekankan untuk mencari perkara yang diatas tidak hanya urusan makan minum saja, makan minum cukup untuk kebutuhan hidup tapi urusan kerajaan sorga adalah segalanya, mengenal Kristus yang benar adalah segalanya.
“Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.” — Kolose 2:16–17 TB
“Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi.” — Kolose 2:23 TB
Paulus bukan sekedar memberikan larangan tapi Paulus menekankan mana yang berguna mana yang tidak berguna. Ini cocok dengan surat Paulus yang lain saat ia mengajar bahwa segala sesuatu itu boleh tapi tidak segala sesuatu itu berguna dan membangun.
Artinya, jika kita berkata apapun juga yang saya lakukan semuanya seperti untuk Tuhan, ini konteksnya bukan untuk mendapatkan keuntungan duniawi, tapi untuk kemuliaan nama Tuhan dan sebuah ekspresi hidup benar yang berasal dari hati yang benar
Kenapa bukan untuk kepentingan duniawi?
Karena terlalu murah anugerahNya pada kita jika hanya untuk mendapatkan keuntungan duniawi, tujuan utama Kristus hadir menjadi penebus bukan untuk itu tapi untuk mengembalikan kita kepada rancangan mula yaitu segambar serupa dengan Allah dan memiliki hubungan yang dipulihkan dengan Allah.
Jadi kita tidak boleh mengejar hal-hal jasmaniah?
Ini pertanyaan bodoh, karena hal-hal jasmaniah bukan untuk dikejar tapi untuk dikerjakan, kata amsal siapa tidak bekerja janganlah ia makan, jadi kalau kita bekerja pasti bisa makan minum dan mendapatkan penghidupan yang layak.
Yang jadi masalah jika kita menempatkan hal-hal jasmaniah ini melebihi kepentingan Kristus sang Tuan Besar dan penguasa hidup kita.
Apa kepentingan Kristus?
Menyelamatkan semua orang untuk kembali kepada rancangan mula-mula dan dapat berhubungan kembali dengan Allah.
Jadi bagi kita yang sadar akan kasih karuniaNya dan hidup dengan iman kepadaNya, kita tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, kita tidak lagi berfokus untuk memperkaya diri sendiri saja, kita tidak lagi fokus untuk menambah kenyamanan diri kita sendiri saja, kita tidak lagi menjadi manusia egois yang mencari pembenaran untuk hidup lebih aman dan sesuka hati sendiri.
Kata Paulus dalam Roma
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” — Roma 12:1–2 TB
Tubuh kita adalah persembahah yang hidup, apa yang hidup dalam tubuh kita? Gak cuman organ tubuh tapi juga jiwa dan roh! Jadi kesemuanya harus diserahkan.
Dengan demikian tidak ada lagi batasan tentang aspek kehidupan yang mana yang harus seperti untuk Tuhan, jawabannya adalah semua aspek.
Konsekuensi terbesar tentang seperti untuk Tuhan adalah tidak mengharapkan upah duniawi karena sistem tabur tuai berlaku secara otomatis untuk hal ini. Seperti untuk Tuhan di segala aspek kehidupan adalah sebuah bentuk kerelaan kita untuk mengabdi kepada sang penebus, sang Tuan Besar, sanga penguasa hidup kita yang telah membayar kita dengan darah yang mahal dengan pengorbananNya di kayu salib
Tidak ada yang lebih mahal daripada pengorbanan ini.
Adalah sebuah penghinaan jika kita mengatakan kita bekerja untuk Tuhan dan mengharapkan imbal balik jasmaniah dari hal tersebut, karena itu artinya kita mengatakan uang berapapun jumlahnya sama mahalnya dengan pengorbanan Yesus, itu jelas kebodohan dan penghinaan yang mutlak !!
Jadi, melayanipun juga sama, seperti untuk Tuhan artinya tidak ada keuntungan apapun bagi kita karena ini bukan sesuatu yang dilakukan untuk tapi sesuatu yang dilakukan karena…
Karena Allah melakukannya lebih dulu bagi kita.
Soli deo gloria, segala kemuliaan hanya bagi Allah saja.
#nganutologi
note:kalian juga bisa dengarkan versi podcast dari tulisan ini di spotify, search : nganutologi
