Antara Jengkel dan Ketawa

Suatu hal menarik terjadi di Bandung. Di kota yang jarang terdengar aksi demo mengenai masalah agama seperti yang sedang marak, tiba-tiba ada sekumpulan orang mendemo KKR Natal yang diselenggarakan oleh Stephen Tong. Bukan KKR pertama kali karena saya ingat tahun lalu ada juga KKR serupa saat aku sedang ujian sama seperti sekarang. Juga yang pasti bukan yang kedua karena orang bilang KKR itu sudah sejak awal tahun 2000an.


Pulang dari kampus naik angkot, kira-kira pk. 15.00 ku lihat Jalan Tamansari macet. Padahal jalan sudah dibuat satu arah. Terdengar ada suara orang berorasi ketika saya sedang berjalan di dalam kampus bagian utara. Kata supir angkot ada demo KKR. Loh, apakah Stephen Tong sekarang mengadakan kegiatan pre-event seperti acara KSB dan Kompas nya Kabinet? Ternyata mereka mendemo menentang KKR itu. Berjejer-jejer sekumpulan orang membawa spanduk menghalangi jalan di depan Sabuga. Itulah kenapa ku benci demonstrasi seperti itu. Menyusahkan orang lain. Pikirku, ah paling cuma sebentar dan nanti pasti KKR akan berlangsung seperti tidak ada apa-apa.

Dalam kehebohan demo yang ada, spanduk berlatar hijau dengan tulisan putih besar itu bertuliskan: “FASUM BUKAN TEMPAT UNTUK GELAR NATALAN.”, “MASYARAKAT MUSLIM JABAR MEMINTA KEGIATAN KKR PINDAH KE TEMPAT YANG TELAH DI SEDIAKAN (GEREJA) BUKAN DI TEMPAT UMUM.”

credit: Hafid Barras

Tulisan yang tidak enak dipandang tapi malah dipamerkan. Secara EYD tulisan tersebut salah. “Disediakan” seharusnya ditulis secara disambung bukan dipisah menjadi “di sediakan” seperti yang ditulis di spanduk itu. “Di” bertindak sebagai imbuhan dari kata kerja, maka harus disambung. Kenapa? Karena “sediakan” bukanlah nama tempat atau objek. “Sediakan” adalah kata dari kata dasar “sedia” yang adalah kata kerja diberi imbuhan “di-” dan “-kan” sehingga harus disambung bukan dipisah sebagai kata depan. Duh.

Hal lain lagi yang salah pada tulisan itu adalah lagi-lagi kata “disediakan”. Penulis mengklaim bahwa ada tempat yang telah disediakan: gereja. Tapi oleh siapa? Yang demo mau bangun gereja buat KKR? Yang punya acara juga bukan mereka, mereka tidak diminta menyediakan tempat. Panitia, seperti tahun-tahun dan KKR-KKR sebelumnya yang sudah lewat menyediakan tempat: Sabuga. Entah mereka sewa secara benar atau bagaimana pun caranya.

Ketiga adalah “fasilitas umum” dan “tempat umum”. Ini cukup mengganggu saya karena saa percaya baik gereja, masjid, vihara, Sabuga adalah fasilitas umum. Karena yang menggunakan fasilitas umum adalah masyarakat umum. Yang ke gereja tidak hanya orang yang mau beribadah. Kalau ada orang yang mau menumpang ke kamar mandi di vihara, saya rasa pasti vihara dengan senang hati akan membukakan pintu dan mempersilakan. Lagipula fasilitas umum digunakan untuk hal umum. Apa itu hal umum? Hal umum terdiri dari hal khusus. Mau ada sunatan massal, nikahan, job fair, sampai KKR mereka adalah hal khusus. Karena hal-hal khusus itu ada banyak maka dibuatlah fasilitas umum untuk menampung mereka. Kalau mau dispesifikkan ke masalah KKR tidak boleh di Sabuga karena fasilitas umum, kenapa Shalat Ied dilaksanakan di alun-alun? Asudahlah.

Terlepas dari spanduk dan kejadian sore itu, saya tidak terlalu memikirkannya karena besok ada ujian penting. Namun ternyata malamnya hampir semua grup LINE ribut masalah KKR itu. Ada yang bilang KKR tersebut tidak memiliki izin, tapi panitia mengkonfirmasi bahwa izin sudah ada sejak jauh hari. Bahkan persiapan sudah sejak bulan Juni/Juli. Ada yang mempertanyakan orang-orang pendemo tersebut. Mulai dari menyebut nama beberapa pihak hingga pasukan nasi bungkus. Saya lebih percaya yang kedua. Hingga akhirnya saya mendapat kabar bahwa KKR dibatalkan. Teman saya mengirimkan foto lilin kecil yang rencananya mau digunakan saat KKR tapi batal. Foto polisi dan pihak yang nampaknya tidak datang untuk ikut KKR di Sabuga sedang berbicara juga video Stephen Tong memimpin lagu Malam Kudus sambil diiringi sorakan untuk berhenti tersebar.

Seorang teman mengirimkan foto selebaran yang dibagikan oleh para pendemo. Kualihkan pandangan dan fokus dari soal Termodinamika ke foto selebaran itu.

credit: Adrian Thomas

Judulnya: Mengapa Ummat dan Ormas Islam Menolak KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani)..?. Dengan 2 titik sebelum tanda tanya. Centil sekali penulisnya. Tertulis juga “sumber: Hasil investigasi ormas Islam dan penjelasan Google”. Penjelasan Google. Ya! Sama seperti yang semua anak sekolah dan mahasiswa lakukan saat membuat laporan! Penjelasan Google! Suatu kesalahan dan dosa besar jika di daftar pustaka tertulis http://www.google.com/…. Sebodoh-bodohnya seorang murid pasti dia tidak akan terang-terangan menuls Google sebagai sumbernya. Sudah pasti dianggap sumber tidak kredibel, data tidak valid, dan kesalahan bodoh lainnya. Tapi kan Google selalu benar…

Selain penjelasan Google mereka menuliskan bahwa acara KKR atau apapun itu harus memiliki izin dan tidak boleh menghasut orang lain yang sudah beragama untuk mengikuti agama lain. Entah kenapa tapi pas sekali panitia KKR memang memasang spanduk besar “Kebaktian Natal ini khusus umat Nasrani”. Saya rasa sudah cukup jelas untuk siapa KKR itu walau tidak menutup pintu untuk siapapun yang mau masuk.

Di dalam selebaran itu juga tertulis UU dan peraturan yang mendasari argumen mereka. Bukan masalah malah bagus karena argumen mereka tidak bersumber dari penjelasan Google saja. UU yang dicantumkan dibuat pada tahun 2007 bahkan ada yang dari 1990. Jadi ke mana saja dari 2007–2015? Atau bahkan 1990–2015? KKR ini bukan yang pertama, peraturan juga sudah sejak lama, kenapa baru sekarang demo? Ke mana saja, mas?

Ada yang bilang bahwa demo ini sekalian dilaksanakan karena ada isu serupa yang sedang panas di ibukota. Ada juga yang bilang ini langkah politik untuk menjegal salah satu calon gurbenur. Berbagai spekulasi tanpa sumber yang jelas kecuali cocoklogi dan teori konspirasi. Sayang tidak ada yang tahu sebenarnya siapakah pihak yang mendemo itu. Katanya mereka mengatasnamakan suatu pihak yang sebenarnya tidak ikut-ikutan. Saya juga tidak tahu. Parahnya mereka menggeneralisasikan diri sebagai “masyarakat muslim Jabar”. Lah, tadi di angkot ada mbak-mbak berkerudung malah menolak ide demonya loh, mas. Kontradiktif ya. Tidak representatif sekali. Saya yang tidak diwakili saja malu. Ah tapi palingan pasukan nasi bungkus.


Secara pribadi saya antara jengkel tapi juga ketawa lihat aksi para pendemo. Di balik suasana negara yang sedang ramai ada juga yang membuat tambah ramai. Tapi untungnya Indonesia tetap tidak berubah. Baik itu bom di tengah jalan atau ada demo menolak KKR, para pedagang asongan akan tetap setia menemani. Cheers!

Bandung, 6 Desember 2016

Like what you read? Give Nicco Avinta a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.