in my introverted self

Saat saya masih SD, seingat saya, orang yang jarang bicara bakal tak dapat teman. Nasib anak yang jarang ngomong biasanya ada di belakang kelas, suka tiba-tiba kena tunjuk sama bu guru, dan yang paling parah bisa jadi dikerjain sama temen yang lain. Studi kasus ini terjadi di ingatan saya, bertempat di tiga SD yang bergantian saya tumpangi. Waktu SD, saya kira (dan sebagian besar anak SD juga), introvert itu nama lain dari jarang ngomong. Introvert sinonimnya jarang main. Introvert itu kata ganti dari nggak punya temen. Semua hal buruk yang bisa dibayangkan anak SD, semuanya tercangkum (kalo kata maghfira, TM 13) dalam kata introvert. Sewaktu SD, saya dengan mudah bilang “si ini introvert nih”, dengan ke-sok-tahuan tingkat bodoh seakan-akan introvert semudah itu untuk diterjemahkan.

Semakin saya tumbuh, buku-buku yang berarti mulai tercerna, dan film-film mulai bisa dipahami maknanya, saya menyadari introvert artinya tidak sesederhana orang yang jarang ngomong dan temennya sedikit. Dan baru nyadar juga, menyedikitkan bicara yang tidak bermanfaat memang sunnah. Namun hingga sekarang, saya menyadari anggapan-anggapan mengenai introvert berkembang dalam tahap tidak terkendali. Orang-orang di seluruh muka bumi ini ingin berasumsi apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan introvert. Asumsi-asumsi boleh saja berterbangan di kepala, tetapi ketika dalil-dalil tanpa kaki tersebut keluar dari mulutnya dan hinggap di kepala banyak orang, haha saya ngga tahu harus komentar apa. But the problem is, the majority assumptions likely hurt to be heard.

Generalisasi terhadap sesuatu sebaiknya harus diperhatikan. Generalisasi dapat mengarah ke judgemental statement pada suatu objek. Generalisasi adalah hal yang lumrah dilakukan, mengingat manusia memiliki kapasitas tertentu dalam memanfaatkan sel-sel otaknya sehingga tidak mungkin menganalisis setiap orang dan merekamnya secara maksimal. Yang perlu diperhatikan dari generalisasi adalah adanya keterbatasan tersebut sehingga mengakui adanya standard error dalam semua asumsi. Ketika dalam setiap generalisasi membawa prinsip tersebut, maka kesadaran diri adanya peluang kesalahan atas asumsi, kita tidak akan memaksakan asumsi tersebut untuk menghakimi seseorang. Hal ini berlaku dalam generalisasi introvert, mengenai sifat-sifatnya maupun sikap-sikapnya. Introverts juga manusia, banyak jenisnya.

Introvert, yang katanya, tidak cocok menjadi pemimpin (ngomongnya pake nada danlap ya mas). Katanya, introvert boleh jadi lebih cerdas, but lack in communication, yang akhirnya tetap saja buruk bagi mereka. Karena bagi dunia yang sekarang, skill komunikasi adalah yang nomor satu. Saya melihat kebanyakan orang menilai orang yang pandai berkomunikasi adalah yang vokal sehingga berpengalaman dalam berbicara. Tapi apa ya ndak lucu melihat skill komunikasi dari kuantitas bicaranya dia. Kevokalan, menurut introvert, mungkin bukan cara yang tepat untuk menyampaikan sesuatu. Tetapi ketika menurutnya apa yang ingin ia bicarakan worth to be heard, introvert akan menemukan cara yang lain untuk berbicara. Dengan pemikirannya yang diusahakannya lebih dalam dan pertimbangan yang lebih matang, introvert akan memastikan apa yang dibicarakannya worth to be heard. Mereka merencanakan targetnya, metodenya, dan memastikan mereka membahasakannya dengan baik. Ketika menurutnya sesuatu yang vokal terlalu mem-blow up dirinya, sedangkan ia tidak menyukai publisitas dirinya yang berlebihan, so that would be the least option to be used. Yes,the importance communication is believed, tetapi ukuran dari skill tersebut tidak sesederhana didefinisikan dalam kuantitas.

As they learn to be assertive, introvert menyenangi hold in principles. Hal ini membantu mereka mengambil keputusan,dan merasa tenang dengan apa yang mereka pilih. This assertiveness, terkadang dianggap berpikiran tertutup dan kurangnya kemapuan bekerja dalam kelompok. Tetapi pemahaman akan teamwork management dan kepribadian introvert adalah dua hal yang terpisah, temanku.

Being wordy and gregarious is not the only way to be heard, for the mind and the heart can speak louder, in behalf of you -seseorang maaf lupa akunnya apa di line.
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.