Berkaca dari Eyang Putri

Saya senang sekali dengan sosok Dian Sastro, seorang aktor wanita hebat asal Indonesia yang (sepertinya, saya yakin) telah menginspirasi banyak wanita Indonesia di luar sana. Banyak orang terinspirasi dengannya karena kepiawaian beliau dalam dunia akting, kecantikannya, dan yang paling menarik adalah, kecerdasannya.

Kerja keras dan keinginannya yang kuat untuk menjadi ‘orang’ telah berhasil membuat ia menjadi sosok wanita tangguh. Wanita cerdas berwawasan dengan karakter dan prinsip yang kuat. Hal tersebut dapat dilihat dari isi pembicaraannya, aktivitas sehari-harinya yang produktif, kepandaiannya dalam mengatur waktu untuk berbagi peran sebagai seorang istri, ibu, dan wanita independen yang tetap memiliki dunia nya sendiri, hobi, buku-buku yang dibacanya, juga ketertarikannya pada seni & budaya dan perannya sebagai aktivis sosial yang peduli terhadap pemberdayaan perempuan. Saya yakin, tanpa membeberkan kelebihan beliau lebih jauh lagi, kita semua sudah sepakat bahwa ia memang sosok yang menginspirasi.

Tadi siang saya sempat menonton sebuah talk show di YouTube bernama Cerita Perempuan yang disiarkan oleh Trans TV. Saat itu yang diundang menjadi bintang tamu disana adalah Dian Sastro dan Widi Mulia. Talk show ini bercerita mengenai perempuan tangguh beserta peran-peran bintang tamu sebagai ibu, istri, dan dirinya sendiri. Silakan buka tautan untuk mengetahui lebih detail isi talkshow tersebut. Namun satu hal yang akhirnya menginspirasi saya dalam menulis tulisan ini adalah ketika Dian ditanya oleh host mengenai siapakah sosok yang paling menginspirasi dirinya sehingga bisa menjadi dirinya yang seperti ini, lalu beliau menjawab “mama”. Disitu saya berpikir, bila saya ditanya demikian saya akan jawab apa. Tanpa pikir panjang, tentu saya akan menjawab “Eyang putri”.

Maka disinilah saya, seperti biasa, di sebuah kedai kopi di kota Bandung bersama laptop dan menu minuman favorit , akan mengetikkan beberapa kata yang berisikan deskripsi mengenai eyang putri atau biasa saya panggil beliau Yangti.

Beliau merupakan sosok wanita independen yang tegas, tangguh, dan cerdas. Seorang wanita yang selalu menjadi informal leader di setiap social circle nya bahkan sejak ia menduduki bangku sekolah dasar, saat SD ia beberapa kali dipukuli oleh temannya yang sirik ingin berteman dengannya namun anak-anak lain sudah terlanjur merebut Yangti menjadi bagian dari peer group nya, beliau pun sangat didengar, dihargai, dan disayangi oleh teman-teman seusianya yang berjumlah cukup banyak baik pria maupun wanita, seorang ibu sekaligus nenek yang sangat dihormati oleh anak-anaknya dan cucu-cucunya, seseorang yang berani dengan lantang mengemukakan pendapatnya dengan jujur, berani, dan bijaksana dihadapan banyak orang, seseorang yang terbuka terhadap perubahan, seseorang yang paham apa itu generation gap dan tidak cukup tinggi hati untuk membuka mata dan belajar dari generasi Y dan millennial, seorang pemberani dalam membela dan melihat kebenaran, seorang pemikir rasional dan kritis, seseorang yang sangat menyenangkan ketika diajak diskusi mengenai sejarah dan politik oleh seorang remaja kelahiran 90-an. Beliau bukan sosok wanita lemah yang mencari-cari payung untuk berteduh atau atap untuk melindunginya, melainkan seseorang yang membangun sendiri payung dan atap tanpa mencari dan meminta, dan yang terpenting adalah, beliau merupakan seorang pendengar yang baik.

Banyak sekali hal positif yang saya dapatkan dari beliau, yang paling saya suka adalah bagaimana beliau selalu menjadi seseorang yang yang berani keluar dari zona nyaman, mengeksplor dunia dan memiliki dunianya sendiri dengan jumlah teman yang banyak walaupun sudah menginjak usia seperempat abad plus perannya sebagai ibu dan nenek. Sejak kecil, saya tidak tinggal dengan orangtua. Saya tinggal dan dididik oleh beliau dan eyang kakung sejak saya berumur 5 tahun, keduanya merupakan sosok yang sangat bijaksana dan tahu betul bagaimana mendidik anak dengan baik, mereka dapat menempatkan diri sebagai teman sekaligus orangtua. Walaupun beliau tegas tetapi beliau bukanlah sosok yang menyeramkan, sampai hari ini beliau selalu menjadi tempat saya bercerita mengenai hal-hal yang sama sekali tidak penting hingga hal yang sangat penting, saya nyaman sekali diskusi apapun dengan beliau, beliau senang membaca, beliau cerdas dan selalu nyambung, baik topik mengenai agama, sosial, politik, sejarah, dsb.

Beliau itu sudah bagaikan ibu bagi saya. Ketika saya atau siapapun anggota keluarga salah, ia akan menegur dengan jujur dan bijaksana tidak peduli apakah yang ditegur akan membencinya atau tidak, selama menurutnya itu demi kebaikan dan kebenaran ia tidak masalah bila tidak diidolakan, ia bijaksana bukan keras. Dia bukan sosok penurut, saya suka sekali itu. Dia sosok yang kritis akan larangan-larangan yang ada, siapapun yang melarangnya melakukan hal-hal tertentu tidak akan serta merta ia turuti demi mendapat label perempuan penurut, ia akan menanyakan alasan yang masuk akal barulah ia bisa menurutinya, jika tidak, ya ini hidup saya ini jalan saya, kamu kenapa melarang? Ini ia lakukan kepada siapapun.

Tidak, saya tidak akan bilang saya seperti dia, jauh sekali. Beliau sangat disiplin, teratur, dan bijaksana. Namun, beliau adalah sosok tedekat yang paling menginspirasi saya dan mungkin secara tidak sadar ada beberapa karakter saya yang merupakan pantulan darinya.

Beliau independen, bijaksana, baik hati, dan cerdas. Saya senang dan akan belajar lebih banyak lagi dari beliau.


Ini tulisan mengenai tokoh inspiratif saya, mana tulisanmu?

Bandung, 28 Januari 2017.