Metamorvosa aktivis modern

Oleh : N.ArdillaMustamin

Tentang penulis

Lahir Ntb tgl 6 juni 1995 Mahasiswa Farmasi (S1) di Universitas Islam Makassar (Uim) pernah aktif di sejumlah organisasi, salah satunya sebagai Bendum di Hmi kom.Uim Cab.Makassar Timur, sebagai Bendum & DPO di Forum Komunikasi Mahasisawa Bima Dompu Makassar (FKMBD) salah satu organisasi daerah NTB yang ada di makassar


Kutipan penulis “Beri aku satu inspirasi maka akan ku hidupkan berjuta generasi. Beri aku amunisi maka akan ku buat ambisi. Beri aku kertas kusam dan pena hitam maka akan ku buat penaku menari-nari dengan cucuran ambisiku. Menulislah agar kau dapat melihat seluruh alam semesta. Menulislah agar kau tetap hidup untuk generasimu”


Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Tuhan yang maha esa karna dengan rahmat dan karunianya tulisan ini dapat hadir di hadapan penikmat global yang budiman. Slwat serta salam tetap trcurahkan kpada sang revolusner sejati kita yaitu Nabi Muhammad SAW. Ucapan terimakasih banyak untuk shabat2 yang menyempatkan diri untuk mengintip tulisan ini.

Hampir setiap hari kita disapa oleh suara-suara kritikan terhadap kebijakan pemerintah. Dari ufuk barat sampai ufuk timur dari dasar bumi sampai ujung langit ketujuh dari jantung kota sampai di pelosok negeri. Teriakan yg menyuarakan “wujudkan keadilan” terdengar jelas dengan nada yang berirama jeritan kaum minor, melalui transportasi megavon, media sosial, ruang kualih/kampus bahkan terik matahari dan hujan tak menjadi penghalang untuk kita menyuarakan aspirasi, menyampaikan apa yang kmudian menjadi keganjalan dalam kepala kita serta yg dicdrai oleh indra kita sehari-hari. Kemudian kelompok dari berbagai macam atributpun saling berdatangan merebut barisan paling depan dengan mengalungkan kata Jihad, mereka hadir bagai dewa penolong di mata kaum tertindas, siapa kelompok itu? Mereka adalah yang brnotaben sbagai penyambung lidah masyarakat senang menyanyi riang dia atas mimbar di atas truk-truk membakar ban- ban di tengah teriknya matahari “Hidup rakyat” “Hidup kaum tertindas” kata itu selalu terdengar bila sang demonstran sedang berpanjang lebar merapatkan barisannya untuk menyampaikan aspirasinya. Namun pada kesimpulanya diskusi dan aspirasi-aspirasi tersebut kerap menjadi lelucon dan wacana di akhir cerita, terbayar lunas ketika terbentuk bundaran Tuan dan para kolega di meja politik. Lalu kemana aspirasi dan antusias tadi? Hanya tuan-tuan dan Tuhan yang tau. Begitulah sederhananya cara aparat negeri membumihanguskan aset2 bangsa, sampai hari ini tidak ada yang mampu melepaskan diri dari jebakan muslihat para politik etis. Apa politik yang salah? Tentu saja tidak karna politik merupakan wadah melainkan kita yg fakir kesadaran moralnya fakir iman fakir pengetahuan. Para aparat negri tidak membutuh dengan memenggal kepala mu atau memotong tangan mu namun dia lebih sadis dari apa yg km bayangkan begitu sadis dan liciknya, kau di bungkam kau dilarang kreatif kau dilarang cerdas lalu kau brtanya kenapa mereka sesuka hati? Jawabnya “dia sudah membayar harga moral dan keimananmu” . Sungguh miris mendengar teriakan2 merdeka dan revolusi, untuk siapa triakan itu? Jika kau masih melanggengkan penjajahan & pembodohan dlm negrimu. Mari bangkitkan kesadaran moral kita untuk menghadirkan sebuah perubahan ditengah krisisnya moral dan iman karna sejatinya perubahan tidak akan terwujud tampa kita jemput, hari ini kau harus lantang pada pembodohan agar dapat mengagungkan kebenaran. Jangan diam dalam pengharapan jangan mati dalam pembungkaman sebab kita diciptakan Tuhan dari bahan dan bentuk yang sama. Diam ditindas atau bangkit melawan? Sbagai mahluk yang berakal haram bungkam ketika tidindas.

Like what you read? Give N.ArdilaMustamin a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.