StartUp Geek Ep01! The fundamental concept

Halo orang-orang pengen sukses muda! (aamiin)
I am Nindi and welcome to my #1 story in Medium. Ini merupakan jalan keluar konsep konten yang awalnya berbentuk video, tapi belum sempet bikin dan ternyata konten-konten yang mau saya bahas udah ditagih-tagih via Instagram dan WhatsApp, jadi langsung aja deh kita mulai dari pemahaman konsep Start-Up dulu, OK?
OK.
Banyak temen-temen yang berpikir bahwa start-up itu harus digital, pakai aplikasi, ada website dan lain-lain.
Nah pemahaman ini udah salah dulu, ya.
Semua rintisan bisnis itu bisa disebut startup, yang pada pakai media digital sebagai core bertransaksi atau melakukan aktivitas bisnisnya itu disebut sebagai startup digital. Mungkin paradigma yang di Indonesia ini kental dengan Gojek, Traveloka, Tokopedia, dan lain-lain. Jadi kalau ada yang bilang startup pasti langsung mengarah ke jenis startup digital.
Tahu kopi FORE yang akhir-akhir ini muncul di channel Youtube nya Om Deddy Corbuzier? Sedikit informasi penting, tahun 2019 ini Fore Coffee berhasil mengumpulkan investasi lebih dari 100 milliar rupiah. Lah, itu ngapain bisnisnya? Jualan kopiii, jualan kopi coy, kayak Kedai Kopi Kulo, Sebelas, TeknoCafe (:D), dan semacamnya. Pemasaran mereka bisa pakai GoFood atau GrabFood. Mereka punya aplikasi sendiri? Sekarang ada sih, dunno why (maybe they have a big scenario :D)
Jadi apa sih yang sebenernya membedakan antara StartUp sama UMKM?
Ya gini aja, kalau kalian mikir bahwa bisnis kalian pengen bertebaran dimana-mana, pengen jadi besar/korporat, dan cepat melakukan perubahan, bahkan dalam beberapa tahun kedepan pengen IPO,… jelas itu kamu baru merintis sebuah startup yang investor maksud selama ini sih
(kalau ibaratnya Fore Coffee tadi bakal jadi the next StarBucks gitu la, hehe)
Tapi kalau kamu puas dengan kedai kopi mu yang tidak bercabang, manajemen yang terpusat dikamu aja, margin profit yang ga gede-gede amat. Nah itu UMKM. Btw kategorisasi UMKM sebenernya udah diatur sama undang-undang berdasarkan pemasukan.
Jadi yah, startup itu jelas pengennya mendominasi, entah itu dengan social side atau tidak. Mungkin pada akhirnya hanya akan ada beberapa nama start-up yang menjadi besar, sebesar nama Gudang Garam :)) tapi ada rivalnya kan kayak Sampoerna gitu-gitu.
Jadi jangan kaget ketika start-up kamu berhasil mengumpulkan user yang wah, transaksi yang oke, dan review yang baik, dilain sisi ada start-up yang lebih besar dan bisa nge-merge bisnis kamu dengan mereka. Pilihannya antara startup kamu di-investasi (kalau ada investor mau) atau di-akusisi, tergantung keputusan decision makers atau the founders.
Dan btw semangat founders itu berbeda-beda.
Ada yang mereka berusaha untuk bisa diakusisi, ada yang berusaha untuk menjadi rival seimbang (kayak Gudang Garam dan Sampoerna). Ada juga beberapa startup yang pakai konsep partnership dengan perjanjian sedemikian rupa, mungkin semacam Halodoc, Bluebird, dengan Gojek.
Jadi ya pede aja coy kalau ternyata startup mu memang lebih baik diakusisi, karena memang itu mungkin jalan terbaik. Dan kalau kamu bilang dirimu ‘entrepreneur’ harusnya malah kepikiran buat bikin ide-ide lain juga. Dan jangan khawatir nilai startup yang pantas diakusisi itu ga main-main. :D jadi jangan mikir habis itu miskin :’ huhu.
Semangat nge-startup!
Jangan lupa follow instagram biar cakep @nindikusn ,tanya-tanya boleh.