Catatan Lepas
Malam ini saya ditemani deru tetes hujan dan HONNE — Warm on A Cold Night. Oh tak lupa, edisi terbaru majalah Tempo ‘Perempuan Penembus Batas’. Edisi khusus Hari Kartini. Saya ingin menggunakan nama tokoh lain, tapi apa boleh buat. Euforia yang sedang menyala adalah Hari Kartini dan perjuangan serta cerita yang dimuat berulang-ulang adalah mengenai beliau pula. Tentu, banyak penggiat hak-hak perempuan lainnya. Ibu-ibu di Rembang dengan aksi protes pembangunan pabrik semen. Ibu guru kita. Perempuan pekerja keras yang kita sukai. Atau, normatif, ibu kita sendiri. Mereka menyuarakan dengan berbagai medium, entah itu pergerakan sosial, buku, musik, atau konten digital tentang mengapa perempuan harus terlepas dari belenggu patriarki. Terima kasih, Mbak dan Ibu.
Nah, kembali ke dunia saya.
Membaca kisah 45 ‘Perempuan Penembus Batas’ membuat saya tertegun dan inferior. Bagaimana tidak? Mereka melakukan ini itu, mengkampanyekan autoritas tubuh dan kesetaraan dalam kesempatan. Tak hanya itu, bahkan ada yang memberdayakan pekerja dari teman-teman kita yang berkebutuhan khusus. Semua membuat perubahan. Tidak takut dicerca dan dipandang sebelah mata. Batas yang mereka tembus adalah bukan dinding dengan label ‘pekerjaan laki-laki’ atau ‘kemampuan biologis’. Tapi diri mereka sendiri. Seperti salah satu tokoh yang dicatut, Kartika Jahja, mengaku pernah diancam. Seandainya, beliau menghentikan aksi penyetaraan keadilan bagi perempuan dan pendampingan korban kekerasan seksual karena ancaman itu, tentu akan berkurang pula tokoh yang vokal dalam menyuarakan hal tersebut. Atau seorang peneliti yang berkali-kali menerima penghargaan di Jepang, namun masih bersedia kembali ke Indonesia. Beliau menembus batas kenyamanan dan kemapanan yang ia bisa dapatkan saat di negeri orang dan membangun untuk orang banyak di negara kita. Masih banyak kisah lain yang akan lebih baik kalau langsung dibaca di Tempo. Hehe.
Namun, tidak dapat dipungkiri. Masih banyak perempuan-perempuan dalam kungkungan. Mulai dari perempuan-perempuan yang dinikahkan paksa dan dibawah umur, budak seks, dan menerima diskriminasi dari segi pendapatan dan pengakuan. Perempuan yang dicap ‘sulit mendapat jodoh’ jika berpendidikan tinggi. Atau, perempuan dalam kungkungannya sendiri, berdrama ini-itu.
Yang manakah saya? Perempuan yang (tertatih-tatih) menembus batas kemalasannya sendiri.