Perjalanan Seekor Anjing

Cr: Brandon Day (@) Unsplash.com

Rerumputan mulai kering. Sinar matahari tidak tanggung-tanggung membakar tubuhku. Air liurku tak berhenti menetes. Banyak tempat pembuangan sampah telah ku datangi, tak jua lenyap rasa lapar dan dahaga ini. Aku terus berlari-lari dengan sesekali diiringi oleh hardik manusia. Setiap tempat yang aku lewati, ada beberapa manusia yang selalu meneriakkan namaku. “Anjing kau!” “Anak Anjing!”. Aku tidak begitu yakin apa artinya, tapi mendengar nada yang tinggi dan tidak ramah, aku yakin itu berarti buruk. Tapi, apa salah kami sebagai anjing sehingga kami menjadi pesakitan? Apakah kami selalu melakukan hal buruk? Apa setan berbentuk seperti kami? Entahlah, aku terlalu lapar untuk berfilosofi.

Tibalah aku di depan sebuah gedung. Semua nya terlihat masih muda dan bersemangat. Ada yang membawa buku, berkacamata tebal, memakai tas sandang besar, berpakaian minim. Macam-macam. Mereka menyebut tempat ini “kampus” karena dari mereka ada beberapa yang sedang berkomunikasi dengan alat di genggaman mereka dan berkata, “Aku sudah di kampus, nih!”. Sebelum ditangkap oleh penjaga, aku menyelinap masuk ke pekarangan dengan harapan aku bisa menemukan sisa-sisa makanan disini. Sepertinya tempat ini adalah tempat untuk mengajari orang-orang. Dari kejauhan aku melihat, seorang Bapak yang sudah tua sedang berdiri di depan puluhan orang muda lainnya. Semua tampak serius. Kemudian ada bangunan yang berisi banyak buku. Walaupun aku bukan manusia, melihat manusia berbudaya baik adalah pemandangan indah bagiku. Aku terus menyusuri tempat itu hingga ke daerah gerbang terluar. Disana sedikit gelap dan memiliki banyak rumput semak. Ada beberapa orang disitu. Beberapa menanggalkan celana mereka dan berpelukan di tanah. Pemandangan apa yang aku lihat ini? Entahlah, mungkin lama-lama manusia menyukai gaya bercinta kami.

Lama aku menyusuri tempat yang penuh rumput itu, tidak juga kutemukan remahan yang bisa kumakan. Kutu-kutu dibuluku juga sama laparnya. Menggigit disana-sini. Lapar dan berkutu. Kasihan sekali aku. Beberapa saat kemudian, hidungku mengendus bau masakan. Aku mengikuti bau yang sedap itu. Tibalah aku disebuah bangunan mewah. Sepertinya aku berada di sisi belakang gedung itu. Namun sayang sekali, bau makanan tadi berasal dari ruangan yang ditutup rapat, hanya menyisakan pemandangan dari jendelanya saja. Disana nampak banyak pekerja berpakaian putih hiruk pikuk menyiapkan makanan. Tak jauh dari tempatku berdiri, ternyata ada seorang kakek mengais-ngais makanan. Bukan main. Banyak sekali makanan yang ditemukannya. Apa mau manusia? Mereka bilang krisis makanan tapi banyak sekali makanan yang dibuang-buang. Lamunanku dibuyarkan oleh seseorang yang keluar dari gedung tadi, mengayunkan tongkat untuk mengusirku dan sang kakek. Aku merasa bangga dan sedih. Kakek itu diperlakukan sama sepertiku. Kakiku sakit sekali. Lapar, berkutu, terpincang-pincang. Aku menambah daftar penderitaanku.

“Kemarilah. Aku ada sedikit daging.” Kakek itu seakan ingin menghiburku.

Tanpa ragu, aku menghampiri kakek itu, dan menghabiskan potongan daging bakar yang diberikannya. Dia tersenyum. “Maafkanlah manusia-manusia yang tidak mau mengertimu ya.” Aku ingin menggonggong untuk mengamininya. Tapi, aku takut dia memukulku karena salah mengartikannya. Jadi, aku menghabiskan daging tersebut sebagai tanda terima kasih.

Setelah makan, kami berpisah di lorong yang berbeda. Aku ingin mengikuti kakek itu. Tapi, aku masih ingin bermain-main di tempat lain. Tempat yang aku datangi lumayan sepi. Penerangan pun minim. Aku asyik melihat kanan dan kiri hingga akhirnya sebuah roda keras menghantam tubuhku. Aku tak bisa bergerak dan samar-samar sebelum mataku tertutup aku mendengar, “Ah, aku nabrak anjing”. Dan manusia itu berlalu.

Beberapa saat kemudian, aku membuka mataku perlahan. Dimana ini? Aku merasakan tidak ada udara kotor yang aku hirup. Ini adalah keindahan yang selalu aku bayangkan. Disisi ku berdiri seorang yang tampaknya kukenal. Sang kakek! Dia memberitahu bahwa kami berada di surga. Tak lama setelah berpisah denganku, kakek menyelamatkan seekor kucing yang akan tersambar kereta api. Kami pun selalu bersama. Memandangi hidup manusia dari atas, merenungi sikap mereka yang kian ditelan zaman.