Surat-surat Cinta yang Tak Pernah Sampai (Part 1)

  1. Di dalam pikiranku, kita sudah bercinta berkali-kali.

Cara ku mencintaimu sederhana. Memahamimu dengan apa yang telah kau baca. Entah itu majalah wanita, komik Jepang yang membuatmu terpingkal-pingkal, atau sekedar brosur perumahan atau tanah kavling yang kau tinggalkan di meja kerjamu.

Aku terus membaca, seolah-olah, deret huruf yang telah kau baca adalah almanak dari isi kepalamu.

Kau pernah bilang pada kami, “Mahasiswa jangan malas membaca! Malu pada ‘Maha’-mu”.

Tentu. Aku tidak pernah jenuh untuk membaca jejakmu.

Membaca daftar hadir mahasiswa mu.

Membaca materi perkuliahanmu.

Membaca karya sastra apapun yang kau anjurkan kepadaku.

Tapi

Aku tidak akan

Membaca surat cintamu kepada suamimu.

2. Di dalam percakapan kita, aku adalah Mad Hatter

Kau adalah Alice.

Dulu, setiap sore, ibumu selalu menyiapkan kita teh, tempe goreng, dan tumpukan buku cerita bekas.

Kau bilang, Alice in Wonderland adalah cerita kesukaanmu.

Kau bilang aku adalah Mad Hatter.

Orang gila dengan banyak pertanyaan.

Mengapa kita tidak bisa melihat udara?

Mengapa kita tidak mengetahui wujud dari rasa?

Kau lelah dengan pertanyaan ku dan kembali ke buku ceritamu.

Pada akhirnya, kau memang tumbuh sebagai Alice,

Memegang teguh keadilanmu, berada di lini depan menyuarakan suara-suara kemanusiaan.

Tapi, mereka memenggalmu pula untuk menutupi rahasia kemanusiaan itu.

Dan aku, Mad Hatter-mu, memendam tanya ku sendiri

Alice, mengapa kita tidak tinggal saja di Wonderland?