Antara Passion, Keinginan dan Tanggung Jawab

Source Pic

Ah, lagi — lagi saya akan menulis tentang dilema saya sebagai ibu rumah tangga. Berkaca sedikit ke belakang, sejak lulus SMK, saya memang sudah terbiasa menerima gaji karena saya memutuskan untuk langsung bekerja dengan pertimbangan saya bisa menyambi kuliah. Dan ketika saya hamil dan memutuskan untuk keluar dari perusahaan, saya mengalami banyak kebimbangan.

Terbiasa menerima gaji hasil jerih payah sendiri, kemudian sekarang ‘hanya’ bertugas mengolah gaji hasil jerih payah suami, ya… sedikit banyak membuat saya frustasi. Saya memang masih bekerja paruh waktu menjadi content writer, tetapi gajinya ya sesuai dengan seberapa giat saya menulis hahaha.. Sampai suatu hari seorang teman menawari saya pekerjaan. Sebagai accounting officer di salah satu perusahaan yang bertempat di Australia.

Awalnya saya bangga. Saya akan mendapat gaji berupa dollar hahaha… dan saya masih bisa mengurus Arjuna karena hemat saya pasti saya bekerja di malam hari. Saya mengikuti rentetan tes mulai dari tes tulis sampai wawancara yang semuanya dalam bahasa Inggris. Saya sangat bahagia dan bangga pada diri saya (padahal belum masuk wkwkwk).

Di tahap akhir, kebimbangan mulai meracuni pikiran saya. Di sini nanti, saya tidak bisa lagi bekerja semau saya. Saya harus benar — benar menyelesaikan pekerjaan saya. Kedua, saya harus bekerja malam hari, lantas kapan saya beristirahat? Sementara pagi, siang, sore saya harus menjaga Arjuna dan melakukan rutinitas saya sebagai ibu rumah tangga. Dan puncaknya ketika teman saya mengatakan posisi yang kosong adalah untuk siang hari. Di situ saya langsung fix mundur. Teman saya masih merayu saya dengan mengatakan kalau Arjuna sudah tambah besar dan bisa bermain sendiri sementara saya bekerja.

Batin saya sempat mengiyakan, tapi kemudian berfikir lagi.

Sebenarnya, apa tujuan saya menjadi ibu rumah tangga dan meninggalkan karir saya?

Jawabannya karena saya ingin menjaga dan mengurus anak saya sendiri.

Lantas, apa sampai segitunya kamu ingin bekerja hingga rela mengacuhkan anakmu?

Saya terdiam. Saya menghela nafas panjang dan berkata.

Saya tidak akan mengacuhkan anak saya hanya demi menuruti keinginan saya mendapatkan uang sendiri. Ini adalah pilihan yang tepat.

Dan begitulah, saya hampir bergaji dollar, tapi saya memilih untuk menolaknya karena saya tidak bisa mengorbankan waktu saya bersama Arjuna hanya untuk menuruti keinginan saya.

Saya masih akan meneruskan passion saya dalam menulis dan menjadi content writer. Tapi saya tidak akan menuruti keinginan saya untuk mendapat uang sebanyak — banyaknya dengan meninggalkan anak saya. Saya yakin, rezeki tidak pernah tertukar, dan Tuhan tidak pernah salah.

Me,
Ningtyas

Like what you read? Give Prihatini Wahyuningtyas a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.