Definisi Kesuksesan Seorang Ibu Menyempit Setelah Saya Merasakannya Sendiri

Busy Mom (souce)

Sebelum menikah, saya banyak menjumpai beberapa tipe ibu di kehidupan saya. Ada ibu pekerja dan ibu rumah tangga. Dua kategori itu juga bercabang lagi menjadi ibu pekerja yang masih peduli dengan anak — anaknya dan ibu pekerja yang kurang peduli dengan anak — anaknya. Sementara untuk ibu rumah tangga pun terbagi menjadi ibu rumah tangga yang benar — benar mendedikasikan dirinya untuk anak dan suami, dan ada juga ibu rumah tangga yang berada di rumah tapi tak peduli dengan anak — naknya. Saya benar — benar melihat semua tipe ibu itu. Menurut kacamata saya. Saya saat itu belum benar — benar merasakannya.

Setelah menikah dan punya anak, saya merasakannya. Saya yang sebelumnya terbiasa menghasilkan uang sendiri, mencoba tetap merasakannya sambil mengurus anak saya. Dan itu benar — benar berat. Apalagi ketika usia Arjuna yang akan tiga tahun ini, setiap saat dia selalu meminta perhatian. Di saat saya sedang bekerja, terkadang Arjuna meminta saya bermain bersamanya. Dan saya sering berkata ‘Tunggu dulu!’. Sungguh memalukan! Harusnya saya segera meninggalkan pekerjaan saya dan menyambut ajakannya.

Awalnya saya melihat ibu — ibu yang punya putra dan putri yang menempuh pendidikan tinggi serta mendapat pekerjaan yang layak adalah ibu — ibu yang sukses. Tidak peduli apakah dia ibu pekerja atau ibu rumah tangga. Kemudian definisi ibu sukses berubah menjadi ibu yang mendedikasikan dirinya sepenuhnya untuk anak dan suaminya di rumah alias full time mommy. Karena saat itu saya pikir meninggalkan karir adalah sebuah pilihan yang sangat berat dan jika itu kemudian dilakukan, maka ibu itu termasuk ibu sukses.

Tetapi setelah menjalani peran ‘ibu sukses’ tersebut, saya kembali mempersempit definisinya. Ibu sukses adalah ibu yang berhasil tidak stres dan depresi dalam menghadapi anak — anaknya. Karena apa? Karena mengurus anak — anak itu bukan perkara mudah ternyata. Banyak hal yang saya baca di teori akan terlaksana mudah, nyatanya amat berat di prakteknya.

Dan kini saya paham mengapa banyak ibu — ibu yang depresi hingga tega membunuh anak — anaknya sendiri (na’udzubillah mindzalik). Karena mereka merasa tertekan dan tidak bisa mengendalikan stres yang dialami dengan tingkah laku anak — anak mereka.

Dan saya jadi lebih menyadari jika bukan hanya ibu hamil saja yang harus bahagia, ibu — ibu yang lain juga harus bahagia. Contoh dari kebahagiaan ibu — ibu itu misalnya diajak makan di luar (biar nggak masak), diajak sekali — kali tidur di hotel (biar nggak bersih — bersih rumah) atau ajakan — ajakan menggiurkan lain. Nah, kalau suami merasa semua itu ‘berat di ongkos’, ada kok cara lain agar ibu — ibu tetap bahagia. Yaitu dengan membantu mereka. Kebayang kan gimana asyiknya masak berdua dengan istri, ketika nyuci sayuran berdua, main ciprat — cipratan, jadinya basah dan…

Me,
Ningtyas

)