GTM Kabur, Terbitlah Toilet Training

Toilet Training (source)

Ini adalah cerita tentang menjadi seorang ibu. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, Arjuna sudah tidak lagi mengenal kata GTM (Gerakan Tutup Mulut) semenjak resmi lulus ASI pas usia 2 tahun kemarin.

Setelah dirasa cukup syok nya karena terpisah dari sepasang sesuatu yang berharga baginya, Bundanya dan Ayahnya (haha), saya dan suami memutuskan untuk mulai toilet training.

Awalnya saya galau, apakah saya perlu membeli sprei anti ompol seperti yang banyak dijual di online shop atau tidak. Galau dengan banyaknya model (dan juga harganya), akhirnya saya coba untuk memakai perlak bekas Juna bayi dulu. Sedikit demi sedikit diajari pipis di kamar mandi. Saya memutuskan tidak memakai potty, sih!

Mendengar cerita dari banyak teman yang sudah berhasil TT, biasanya balita mereka akan terbiasa mulai dari BAB dulu baru BAK, tetapi itu tidak berlaku bagi Arjuna. Ia justru bisa BAK dulu dan terbiasa dengan itu. Untuk BAB, ia masih tidak nyaman dan baru mau mengeluarkan kotorannya kalau pakai diapers. Ini PR nomor satu.

PR kedua adalah saat bepergian jauh. Saya belum berani membiarkan dia tidak memakai diapers saat sedang jalan — jalan ke mall, atau di angkutan umum. Masalahnya, kalau di mall biasanya kan toiletnya antri — antri tuh. Takutnya kalau pas dia lagi pengen, ternyata harus antri dulu, saya sangsi dia bisa menahannya. Hal yang sama berlaku untuk angkutan umum.

Belajar dari ‘seru’ nya perjalanan MPASI sampai akhirnya mau makan (dan banyak), saya sedikit lebih sabar dalam TT ini. Saya tekankan, bukan sabar, tapi sedikit lebih sabar. Saya menunggu Arjuna siap. Saya tidak terlalu memaksakan, meski terkadang suka gemes kalau dia ‘khilaf’ ngompol atau tidak mau BAB padahal sudah kebelet hanya karena dia tidak pakai diapers. Huff..

Saya mencoba untuk menikmati proses ini dengan riang gembira. Saya menutup telinga dari komentar ibu — ibu yang sukses TT tanpa perlu mengeluarkan banyak peluh dan menguras emosi. Saya juga menutup mata dari pendapat yang mengatakan balita yang terlambat diajari TT akan berpengaruh buruk untuk kelanjutan hidupnya nanti (duh bahasanya!).

Karena bagi saya yang tahu Arjuna siap atau tidak menjalani TT adalah saya sendiri sebagai bundanya. Bukan kamu! Bukan dia! Atau bahkan mereka! Jadi, saya akan menikmati petualangan ini bersama Arjuna dan ayahnya tentunya.

Sisi positifnya sih sekarang bisa lebih berhemat anggaran untuk diapers! Hahay! Tapi tetep ya anggarannya termasuk anggaran keluar, cuma dibelokkan sedikit di pos uang jajan bunda. Nyiahahahaha…

Kecup mesrah buat Bebeb :*

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Prihatini Wahyuningtyas’s story.