Hati Yang Lembut
Setinggi apapun ilmu seseorang, jika egonya tinggi, tetap tidak akan mampu menggerakkan hati untuk mengikuti. Bersikeras pada suatu pendapat sampai menang, itu tidak membuktikan tingginya ilmu, hanya membuktikan tingginya ego. Karena itu, Rasulullah mengajarkan untuk menghindari debat sekalipun kita dalam posisi yang benar.
Dengan ego, kita hanya saling beradu keras pendapat. Dengan hati, kita melunakkan hati lain yang sedang keras. Apa yang dari hati akan sampai ke hati.
Hati itu daging, jangan diperlakukan seperti batu. Batu perlu dipecah agar berguna membangun rumah, tapi hati hanya perlu dilunakkan agar bermanfaat membangun mental. Hati yang sedang keras, seperti daging yang keluar dari freezer, hanya perlu dihangatkan dengan sabar agar melunak. Daging yang baru keluar dari freezer, jika dihantam dengan palu hanya akan patah, bukan melunak.
Hati yang lembut bukanlah hati yang rapuh. Hati itu daging, jika dia lembut, maka dia segar dan sehat. Daging yang lembut itu fleksibel dan kuat. Dihantam dengan pengempuk daging pun akan jadi pipih dan menyerap bumbu, tapi tidak patah atau hancur, hanya menyesuaikan diri dengan kondisi hingga kualitasnya meningkat menjadi daging yang lebih baik.
Sebaliknya, hati yang keras itu justru rapuh. Daging yang sudah masuk freezer itu kalau langsung dihantam dengan pengempuk daging ya akan patah dan hancur.
Persepsi awam sering menganggap orang berhati lembut itu orang2 yang lemah, sensitif, dan rapuh. Padahal sebenarnya hati yang lembut itu kenyal.. kuat dan fleksibel. Tidak akan patah dihantam, hanya akan beradaptasi dengan hantaman lingkungan dan menjadi daging yang lebih baik.
Justru orang berhati keras itu yang sensitif, lemah, dan rapuh.. Daging yang sudah tidak kenyal lagi itu biasanya sudah mulai membusuk sehingga sensitif terhadap lingkungan dan mudah hancur, atau memang sengaja dimasukkan freezer sampai beku dan keras.
Daging beku yang keras itu rapuh.. kalau jatuh ke lantai, bisa langsung patah. Kalau diempukkan dengan palu daging pun bisa langsung hancur. Kalau kita memang sudah berhati lembut, harusnya kita menjadi orang yang kuat dan adaptif, bukan lemah dan rapuh.
Dengan karakter yang kuat dan adaptif, kita sudah tidak merasa rugi untuk menghindari adu keras pendapat. Karena kita sudah cukup kuat untuk meredam ego dan cukup adaptif untuk paham sudut pandang si lawan bicara yang sedang keras hati.
Seseorang yang berhati lembut, akan menghangatkan hati lawan bicaranya hingga lunak dan mau sependapat, bukan adu keras pendapat yang nantinya hanya akan mematahkan hati yang sedang keras.
Hati yang keras itu rapuh, terutama egonya. Tersinggung sedikit, langsung jadi masalah besar dan diingat-ingat terus. Orang-orang seperti ini butuh ekstra dihormati karena sangat mudah merasa tersakiti kalau tidak selalu dijunjung. Semua pendapatnya tidak boleh dikoreksi walau sebenarnya memang salah.
Bicara kepada hati yang keras itu harus dengan hangat dan sabar sampai kerasnya melunak. Hanya hati yang lembut yang bisa melakukan hal demikian.
Hati yang lembut itu kuat, tidak akan merasa tersakiti kalau sedikit mengalah agar suasana panas bisa menjadi hangat. Karena hati yang lembut itu fleksibel, tidak akan patah kalau dihantam hati yang keras, hanya akan terpijat dan kembali ke bentuk semula.
Hati yang lembut juga tidak tinggi ego. Tidak akan keberatan mengalah di awal agar nantinya bisa menang melunakkan hati keras. Jika hati yang keras mengadu egonya dengan hati yang lembut, maka hati yang lembut tidak akan menggubris karena memang tidak merasa perlu memenangkan egonya.
Hati yang lembut itu dewasa, penuh kasih, sekaligus tangguh dan adaptif. Peka terhadap efek lingkungan, tapi mudah kembali lagi ke bentuk semula tanpa perlu patah. Ingatlah sifat-sifat daging yang sehat, seperti itulah sifat-sifat hati yang lembut.
