Dunia adalah Sebentuk Kegamangan

Ketidakpastian memenuhi semesta.

Sesarat atom yang menyusun tiap-tiap partikelnya.

Tumbuh seiring tanda tanya menyeruak,

Di bibir kata lusa, esok, dan nanti.

Nyalar, mereka sarat perubahan.

Seacap nafas yg dihembus setiap sukma

Dipandangnya telaga hatiku

“Ia keras, batuan cadas, dan arca tua” tandasnya.

“Juga setajam pecahan cawan” timpal kekasihnya

Namun bibir hatiku bungkam

Sambil menulis setiap duka prasangkanya

“Aku hanya jelmaan awan rapuh, kau tahu”

“Merintih terbang saat sayapku tersentuh”

Meragu hati renungi kata nanti

Kebaikan serupa riak yg tampak dan memudar

Menegaskan kata esok yang tersenyum penuh sanggup

Lalu menyublim tanpa menyisakan kata sama

Dieja nya lalu kata lusa

Menghunus nyali dimuka pahit-getir kepalsuan

Namun nyatanya taksa, tak segetir topengnya

Ditikam dikoyak realita

Semakin gamang memang

Segamang taksa yang menyulam laju angin