Emosi yang Sama di Malam yang Berbeda

Jika kemarin, aku berkisah; tentang kilas dongeng yang kubaca semalaman suntuk lantas kutangisi reka memilukan didalamnya; tentang hati-hati yang menyalahkan Tuhan, juga permainan takdir.

Kali ini sedikit berbeda

Aku berkisah tentang dongeng yang kubaca seharian suntuk. Meresapi kata demi kata yang dikisahkan seorang gadis lewat buku hariannya. Tentang hati yang jatuh berulang ulang kali; koyak, retak, namun ia masih bangkit, merengkuh lagi bongkahan hatinya yang hancur berserakan.

Ia dengan segala luka dan kerapuhan, mencoba mengobati dirinya sendiri. Bahkan mencoba mengobati luka-luka lain di sisinya. Hatinya indah, ia bahkan tak menyalahkan siapapun; tidak Tuhan, tidak takdir, tidak pula hati keji yang mencampakkannya.

Tulusnya berkata, “Bukankah setiap hati harus bertanggungjawab atas perasaannya?”

Maka dengan ketegaran hatinya, ia melangkah perlahan membagun benteng dibalik rapuh hatinya. Terus menyalahkan diri atas rasa yang masih erat membekuk nalurinya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.