Getir Ragu

Bagai berdiri diatas julang-pancang
Batas antara angguk dan enggan

Jurang pemisah hasrat dan ketidakberdayaan

Di jantungnya gelap, getir, mencekam
Menanggalkan helai demi helai jubah nyali
Meninggalkan lubang taksa dengan olok terkunci
Kala pelan kumulai langkah
Ia menjerat sendi-sendi

Memasung hati dengan kilah tak pasti

Lagi, lagi, dan lagi
Sejurus lalu, mendoaku pada kasih
“Ya Tuhan, yang Maha Pasti”

“Tikam ia dengan belati yakinmu”

“Jerat sayap racunnya dengan temali cintamu”
“Agar pahit-getirnya tak lagi dicandu”
“Jangan biarkan ia beranak cucu “

“Mengotori telaga-telaga hati manusia, dengan limbah dan rancu”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.