Ketika hampir terlupakan

Ingin kurapikan isi kepalaku, yang carut marut berserakan. Penuh sesak menuntut untuk diluapkan, tapi takut ternistakan.

Kubiarkan peluhnya luruh usai pertempuran. Pasukan kata yang berlomba tak ingin diabaikan, menolak untuk dilupakan.

Tapi maaf,

Lagi lagi harus kuakui, bahwa mengingat tak semudah yang terlihat. Mungkin karena aku tak handal menyimpannya, atau mungkin terlalu pandai menghapusnya.

Entahlah

Yang kutahu, aku pengingat yang buruk

Maka biarkanlah aku menuliskan semampuku. Setiap kata yang tumpah membanjiri kepalaku, sebelum menguap habis terlupakan. Biar kelak kan jadi manuskrip manuskrip kuno pengingat paling konkret. Ketika kau bertanya_

Apa isi kepalaku.

Lamongan, 27 Mei 2017
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.