Kosong

Rongga hatiku kini tengah menganga lebar. Meradang menunggumu entah sejak kapan. Bibirnya terus merapalkan sebuah kata. Seakan siap melolongkan harap, pada dunia juga tangan-tangan Tuhan.

Letup cinta kala itu hanya serupa kembang api; membara sejenak, lantas padam meninggalkan puing puing hangus yang berserak atas bumi.

Biarkan aku mengingatmu malam ini, mengisi kembali kehampaan diri walau hanya lewat mimpi.

Batas dari pedih realita, dengan apa yang hanya sekedar asa

Lamongan, 24 Juni 2017