Berbincang Perihal Praduga

Nisa Zhr
Nisa Zhr
Jul 23, 2017 · 2 min read

Dalam kitab suci Al-Qur’an dijelaskan bahwa sebagian dari prasangka adalah dosa.

Lantas dewasa ini, kita sering dihadapkan pada pertanyaan dari sebagian orang…

Bagian prasangka manakah yang divonis sebagai dosa? Sedang hati-hati manusia seringkali berprasangka. Menerka, menduga,merasa, bahkan menggunakan keterbatasan akalnya untuk membentuk dasar keyakinan atas sesuatu.

KBBI sendiri mendefinisikan prasangka sebagai anggapan negatif mengenai sesuatu, sebelum diketahui kebenaran sesungguhnya.

Seringkali prasangka muncul tanpa diikuti observasi, karena akal seringkali tertutup terhadap alasan yang berlawanan dengan keyakinan yang terpatri dalam diri.

Praduga tersebut tak ayal menjelma menjadi bentuk-bentuk yang lebih kompleks. Mulai dari positive thinking, negative thinking, firasat, hingga intuisi. Semuanya adalah turunan dari praduga tanpa observasi.

Sedang keterbatasan akal dan indra manusia mengakibatkan kebimbangan-kebimbangan, tentang bagaimana cara menyikapi setiap bentuk dari praduga. Terlebih ketika perasaan dan keyakinan dikaitkan dengan intuisi.

Hingga kini saya pun masih bertanya-tanya, tentang apa hakikat intuisi, lalu apa yang membedakan antara intuisi dan praduga. Sedang keduanya (intuisi dan praduga) sama sama terjadi saat inti sebuah penilaian menyentuh tahap yakin tanpa didasari observasi dan tinjauan lebih dalam.

Lalu akal akan tetap menerka 2 kemungkinan lain yang kontradiktif. Jika memang penilaian tersebut konkret dan sesuai, maka tidak akan ada konflik maupun kontravensi. Namun jika ternyata intuisi dan praduga tersebut hanya anggapan kosong, entah konflik apa yang nanti akan terjadi.

Yang pasti, memang cukup sulit membedakan antara keduanya. Karena akal manusia yang terbatas, juga hati ~yang bertugas merasakan~ seringkali mendukung terbentuknya sebuah keyakinan.

Yang harus kita lakukan adalah berpikir secara terbuka. Menjauhi setiap prasangka tanpa bukti, yang nantinya berujung pada konflik dan sebuah dosa. Meninjau secara cermat setiap praduga yang terbentuk. Karena hanya dengan begitu, kita dapat menyimpulkan apakah intuisi dan praduga yang muncul dalam otak kita benar-benar konkret atau hanya dugaan kosong.

Lamongan, 23 Juli 2017

Nisa Zhr

Written by

Nisa Zhr

Tengah belajar meramu secawan rasa syukur

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade