8 Tahun Sebuah Perjalanan

Syukur (dalam kata "bersyukur", bukan "kamu jatoh ya? Syukur!") adalah kata yang tepat dalam menggambarkan perasaan saat ini. Menjalani suatu proses, terjatuh, bangkit, berlari, menahan, membiarkan, adalah hal yang ditemui dan dilalui selama ini.

Sebenarnya belum tepat untuk menulis hal-hal semacam ini karena perjalanan ini masih pada jalur yang sama walau sudah berjalan cukup jauh. Perjalanan ini diibaratkan sebagai perjalanan dengan bus di mana ada halte-halte yang harus didatangi dan kemudian berlanjut lagi.

Bersama dia, sosok yang terus ada dalam pemberhentian halte di jalur bus ini membuat perjalanan ini terasa seru. Terkadang bus ini melewati jalan yang berbatu bahkan melewati tepi jurang (seperti di komik tahilalats). Dia selalu ada sambil memasang wajah yang seakan berkata "aduh capek", "kapan selesainya..", bahkan "sepertinya aku pengen berenti aja" tetapi anehnya, dia terus bertahan. Terkadang bus ini ada pada jalan yang sudah diaspal (di-cor juga seperti jalan tol) kanan kiri tampak bunga-bunga. Dia sesekali menoleh sambil memasang wajah "we can do it..", "kok bisa ya aku sayang kamu (yah.. kira-kira begitu)". Yang pada akhirnya mengajarkan dia (dan saya pastinya) bahwa perjalanan itu terasa mudah ketika tau bagaimana rasanya ketika sulit.

Pada perjalanan bus ini terkadang terasa lelah, terkadang rasanya ingin berhenti dulu untuk sekedar meluruskan kaki, tetapi mengingat bagaimana perjalanan ini dimulai membuat dia (dan tentu mengajak saya) kembali ke bangku untuk meneruskan perjalanan yang masih sangat jauh ini.

Terimakasih untuk saling mengajak maju. Terimakasih untuk terus berjuang. Atas segala cerita dalam perjalanan 8 tahun ini (dan perjalanan penuh harapan kedepannya), izinkan saya mengucap syukur (tetap dalam kata "bersyukur", bukan "kamu jatoh ya? Syukur!").