Air mata ku mengalir deras perlahan melewati pipi yang dingin akibat terpaan udara AC mobil yang menusuk hingga suntuk. Mata ini menebar pandangan ke sebelah kanan kaca mobil tatkala ingatan itu membawa ku melambung jauh… jauh ke masa lalu. Kemacetan luar biasa Tol Jakarta-Cikampek malam ini tak mampu menggubris perasaan ku yang acak sama sekali oleh algoritma-algoritma hari kemarin. Sambil lunglai lengan ini memegang kemudi, ku melaju perlahan dengan kecepatan yang sama ketika ingatan-ingatan itu mengendalikan beragam memori yang di putar ulang layaknya kaset butut nan usang. Namun, kaset itu kali ini berbeda. Kaset itu memuat satu ingatan baru yang bahkan sebelumnya tidak pernah aku sadari akan menjadi memori tersendiri. Ingatan itu seperti terpisah selama ini, entah hilang atau tersembunyi, kemudian dengan serampangan ia muncul kembali. Jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik, ku rasai semakin nyata, meski acak, semuanya berebut untuk diingat. Semuanya, ya, semuanya. Entah bertema apa kaset butut tersebut, ia berisi kompilasi ingatan yang seharusnya sudah usang. Tapi mengapa ia baru muncul? Mengapa ingatan-ingatan ini seperti harta karun, yang semestinya telah ku temukan sejak dahulu? Dimana peta dan kunci yang semestinya ada untuk membawaku pada harta karun ini? Apakah diri ini terlalu bodoh untuk bisa sekadar menyadari? Ah, aku terlarut dalam kaset ingatan ini. Satu-satunya petunjukku ialah satu berkas yang mungkin saja membawa ku masuk ke tempat lainnya, yaitu berkas penyesalan. Kemudian air mata ku berhenti mengalir….
