Akhirnya aku sampai di tempat ini. Ternyata ini adalah sebuah labirin! Gawat! aku tidak tahu seperti apa wajah jalan keluar nya. Setelah sebelumnya kepala ku memutar kaset berisi ingatan butut nan usang, ia melemparku masuk ke dalam sebuah labirin, bernama labirin penyesalan. Ingatan-ingatan yang serampangan itu telah menggiringku ke tempat ini, yang sebelumnya aku kira menjadi sebuah petunjuk, ternyata petunjuk itu menyesatkan. Benar saja ini menyesatkan, aku mendapati diriku kesakitan di dalam sini. Udara nya pengap, lembap dan begitu menyesakkan dada. Ku jamin, suasana ini melebihi efek saat aku terkena gas air mata 24 September lalu, ketika berdemonstrasi di depan gedung DPR/MPR Jakarta. Udara perih nya tidak hanya di mata namun sampai ke relung jiwa, kemudian aku memutuskan untuk jalan perlahan sambil meraba dinding nya yang begitu licin dan tanahnya yang berlumpur. Sejak aku tiba disini, aku tahu ini adalah neraka versiku sendiri. Ya, inilah neraka itu. Sambil menghela napas, aku akan memulai perjalanan yang menyiksa ini, demi satu tujuan menemukan jalan keluar dengan selamat lahir dan batin. “Ini perjalanan panjang, 100 persen kemungkinan adalah aku tersesat, kelaparan kemudian mati di dalam sini. Namun, mengapa aku harus berhenti disini jika aku tahu ini adalah neraka? Berjalanlah yang kuat untuk bertemu pintu keluar!”, perintahku pada diri sendiri. Keputusan untuk berjalan menyusuri labirin penyesalan ini telah dimulai dan aku menemukan beragam jebakan, yang akan aku sebutkan satu per satu….
