Apakah sebenarnya hakikat hidup itu?
Seperti apa rasa sakit itu terlukiskan?
Bagaimana engkau bertahan setegar yang tergambar?
Gadis itu…..Aku tidak mengenalnya
Gadis itu……Aku tidak tahu cerita hidupnya
Gadis itu…..Aku tidak mengerti apa yang telah dilalui nya
Semua yang aku tau tentang nya adalah, gadis itu seperti merpati putih.
Merpati putih penghuni dermaga itu.
— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —
Setiap sore aku menyambangi hamparan karpet hijau bukit ini. Bukit yang dibawahnya terdapat pantai dan laut sejauh mata memandang.
Selalu menjadi favoritku untuk berada di atas sini. Entah hanya untuk menikmati deburan ombak dibawah sana atau sekadar melihat matahari kembali ke ufuk di peluk laut
Di bawah sana, ditepi pantai itu terdapat dermaga yang beberapa meter jauhnya menyentuh laut.
Sepi, sunyi tanpa ada satupun manusia yang biasanya terlukiskan seperti pantai pada umumnya. AH, aku iri. Dermaga itu selalu tampak mesra disentuh oleh deburan-deburan ombak
Namun, sore ini ada yang menjanggal. Apakah aku tidak salah liat? Ah. Sepertinya tidak. Aku mencoba meyakinkan mata ini sekali lagi bahwa aku sedang memerhatikan seorang gadis.
Ya, terdapat seorang gadis disitu. Sangat tidak biasa, batinku. Siapa dia? Dari mana asalnya? Mengapa ia duduk sendiri diatas dermaga itu? Gadis itu memakai gaun putih selutut, berlengan panjang tanpa alas kaki. Gaun itu seputih pasir pantai namun agak lusuh. Aku percaya pasti ia merasa di perhatikan oleh seseorang, tetapi anehnya tidak sedikitpun ia menoleh keatas bukit ini. Perasaan ku campur aduk. Aku sangat penasaran tapi aku takut, jadi aku hanya memandanginya dari atas sini.
Disana ia tertunduk lesu, sambil menceburkan setengah kaki nya kelaut dan mengayun-ayunkannya. Sesekali ia mengangkat wajahnya, memandangi hamparan laut dan ombak itu. Mengapa wajah manis gadis itu sedih sekali? Apakah ia baru saja menangis? Sembab di kedua pelipis matanya sangat jelas terlihat olehku. Aku tidak berani untuk turun kebawah sana dan bertanya ada apa?
Sejak saat itu, setiap sore sampai kesekian kali gadis itu selalu disana. Duduk tertunduk lesu, menangis, menangis dan hanya menangis yang ia lakukan. Suara deburan ombak lah satu-satu nya yang menutupi jeritan tangisnya. Tidak pernah sedetik pun ia tertawa apalagi menyinggungkan senyuman di bibirnya. Aku sangat tidak tega melihatnya, ingin ku turun kesana menemani gadis yang tiap sore seorang diri mengisakkan kesedihan. Tapi aku tetap menyimpan rasa penasaranku itu. Bahkan berusaha kubunuh rasa keingintahuanku.
Aku mengamati semuanya. Mengapa seakan-akan laut, pantai dan ombak disana semakin ikut ‘andil’ tentang kesedihan gadis itu? Mengapa semakin kuperhatikan gadis itu, yang aku rasakan adalah sama?
Hanya rasa putus asa, depresi, tertekan, dan kesedihan mendalam seakan semesta ini membiarkannya larut dalam sendu. Apa salah gadis itu? Tiba-tiba sudut mata ini perih, aku tidak tahan. Aku ingin memelukmu, wahai gadis. Memeluk erat untuk meghapuskan segala kepiluan ini. Tapi aku hanya lelaki pengecut dari atas sini, aku tidak menemukan kekuatan untuk turun kesana menyudahi semuanya.
Pada suatu saat, Aku melihatmu kembali kesini namun ada yang berbeda. Engkau tersenyum. Untuk pertama kalinya aku melihat guratan kesedihan memudar dari wajah manismu, matamu masih sembab namun tidak mampu menyembunyikan binar kebahagiaan yang tergambar.
Yah, akhirnya engkau bahagia datang kesini bersama seorang lelaki yang — tentu saja tidak ku kenal — tampak mengenggam erat tanganmu. Wahai gadis, aku yakin lelaki itulah alasan senyummu saat ini.
Sang gadis membawa sebuah botol kaca yang aku lihat di dalamnya terdapat gulungan kertas .
Lelaki itu memberi isyarat agar kau melempar botol kaca itu sejauh mungkin kelaut. Engkau melemparnya, dan setelah itu ia menggandeng tanganmu, mengajakmu pergi. Oh gadis, ingin kemanakah dirimu? Apakah engkau akan kembali lagi? Batinku berkecamuk. Baiklah, aku akan menunggumu, setiap sore, disini. Aku berjanji menantimu kembali membawa senyum itu –-namun entah kapan —
— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —
Akhirnya aku memberanikan diri turun kesana, ke dermaga itu. Senja yang tidak pernah berubah sejak engkau meninggalkan tempat ini. Suara deburan ombaknya, biru laut dan putih pasirnya. Semuanya masih sama.
Aku mencoba duduk persis seperti saat engkau bersedih ditempat ini. Menceburkan setengah kaki ku dan merasakan sapuan lembut ombak sambil memandangi hamparan laut sampai ke ufuk. Entah mengapa sendu mu kembali menghampiri. Sejenak aku meratapi dirimu yang sudah lama beranjak pergi.
Tidak lama kemudian, ada sebuah botol kaca yang menghampiri kaki kanan ku.
“Botol ini, aku mengingat botol ini,” gumamku.
Dengan segera aku membuka penutup diujung nya, dan gulungan kertas itu ternyata masih disana.
Tiba-tiba. Hatiku sesak. Batinku terisak. Kata demi kata, baris demi baris aku baca :
“Hidup itu anugerah dan kematian itu indah. Namun indah akan terasa jika akhirnya kamu dapat melakukan hal yang baik dan benar. Maka percayalah keindahannya melebihi laut ini. Aku selalu memimpikan untuk berada disuatu tempat yang jauh lebih indah dari ini. Memimpikan aku tenang selamanya. Lepas dari segala kepiluan hidup ku. Rasa sakit ini, sesaknya batin ini.
Dan pada hari ini, akhirnya segala urusan ku didunia telah usai. Aku sadar, aku tidak dapat hidup normal seperti gadis lainnya. Sekuat dan setegar apapun , penyakit inilah yang akhirnya akan membawaku pergi jauh dari sini, ketempat yang telah Tuhan sediakan. Aku senang dan sangat damai. Akhirnya aku melepas segala beban hidupku.
Setelah aku pergi, aku harap mereka sadar, bahwa aku bukanlah sekadar ‘orang lewat’ dalam hidup mereka tapi justru teman hidup mereka. Saat ini aku yakin Tuhan telah mengirimkan malaikatnya untuk memberi secuil kebahagiaan ini. Aku sangat bersyukur”
Seketika aku tertunduk lesu. Tak dapat kupungkiri hati ini remuk redam. Maafkan aku,wahai gadis. Aku menyesal. Seandainya saja aku tahu saat itu adalah saat pertama dan terakhir aku melihatmu bahagia, aku akan berlari kearahmu ,menjemputmu, memelukmu. Memang benar takdir sudah Tuhan yang catatkan. Dalam keriuhan ombak aku kembali mengenangmu. Dalam senyapnya tangis dan sedihku, diri ini mengingatmu, wahai gadis.
Setelah itu, dengan tongkat kayu tua ini aku berusaha bangkit. Cahaya senja yang tersisa di ufuk menyinari kulit wajahku yang keriput. Lalu dengan gontai aku menyusuri bibir pantai ini,
Ah, umurku juga seperti mentari senja ini. Tidak akan lama lagi. Tunggu aku,wahai gadis merpati putih…………
