Sedikit Tentang Bagaimana New York Mengembangkan Open Data

Suatu hari saya terlibat percakapan whatsapp dengan teman SMA saya, sebut saja Jeki, tentang apa yang saya pelajari di kuliah sekarang — secara dia sedang bekerja di, dan ingin memperdalam bidang yang saya “kuliahi ”ini. Saya jelaskan bahwa materi kuliah saya berkutat pada bagaimana caranya mengolah, menganalisis, dan menyajikan big data agar bisa mensejahterakan umat *ciyeh gitu*. Tidak hanya teknis, kami juga belajar hal non-teknis seperti public policy. Terus saya menceritakan data-data apa saja yang biasa kami olah sekaligus memberi contoh betapa lengkapnya data yang dipunyai kami disini, di New York City, sehingga masyarakat awam bisa melakukan analisis-analisis kece seperti ini, ini, dan ini.

“Wah kalo disini nggak bisa gitu Mon, di Indo datanya aja nggak ada. Disini sih masih baru sampe di tahap ngumpulin data. Btw itu gimana caranya ya bisa kumpulin data selengkap itu?”

Kemudian mikir. Hmm. Bener juga ya. Jadi penasaran.

Beberapa hari kemudian di kelas policy, kami kedatangan guest lecture dari Andrew Rasiej, seorang wiraswasta dan technology strategist, dimana pekerjaan beliau berfokus mengompori dan membantu sektor publik untuk menggunakan teknologi dan data dalam pengambilan keputusannya. Beliau memiliki banyak pengalaman sukses bekerja dengan walikota, gubernur dan pengambil kebijakan lainnya.

Plus, beberapa hari berikutnya kampus saya mengadakan career fair untuk internship. Salah satu employer yang saya suka dan minati adalah Taxi and Limousine Commission (TLC), salah satu city agency di New York yang saya idolakan kelengkapan datanya. Tak mungkin saya sia-siakan kesempatan ini untuk kepo dan tanya-tanya.

Dari dua pengalaman di atas, bisa saya simpulkan beberapa hal kunci untuk membangun kota yang mendukung data driven decision, atau istilah yang ngetrend di Indonesianya sekarang, open data, atau dihubungkan dengan pertanyaan Jeki, gimana caranya bisa ngumpulin data selengkap itu.

Walikota yang melek

Lebih dari sepuluh tahun New York dipimpin oleh Mayor Bloomberg, aka Pak Michael Bloomberg yang punya perusahaan Bloomberg itu. Di mata Pak Bloomberg, warganya itu pasif, sehingga pemerintah-lah yang punya power dan harus menentukan segala hal. Terbiasa menentukan keputusan berdasar data, Pak Bloomberg kemudian ingin semua data tersedia untuk mempermudah pengambilan keputusan. Itulah cikal-bakal kenapa New York punya data super-lengkap: walikotanya emang data freak dan data driven. Sekian.

Startup-like environment

Balik ke Mayor Bloomberg. Zaman beliau menjabat, beliau punya beberapa core teams yang masing-masing punya fokus tersendiri seputar permasalahan menahun kota: homeless, public safety, affordable higher education,etc. Mereka kumpulin data, bikin kebijakan, getting feedback, kemudian menjalankan cycle yang sama berulang-ulang.

Pun ketika saya berbicara dengan orang-orang di TLC, mereka bercerita betapa dekatnya mereka dengan atasan. Karyawan yang saling berkolaborasi satu sama lain, serta kebebasan untuk eksplor proyek yang ingin dikerjakan.

Gimana bisa bikin suasana kerja yang kayak start-up? Lagi-lagi tergantung sama kepalanya. Di kasus TLC, bos yang mereka ceritakan dekat dengan karyawan tersebut memang orang teknis yang jago politik. Iteration, collaboration, technically-minded CEO. Sounds like startup, eh?

Partisipasi masyarakat: Nggak ada data? Kumpulin sendiri lah :p

Saya ingat jaman S1 pengen banget bikin app Trans Jogja (jam datang, rute dkk) karena saya sendiri pengguna Trans Jogja. Waktu saya datang ke kantornya, saya ketemu salah seorang petugas “IT” nya Trans Jogja dan bertanya apakah ada Trans Jogja API atau semacamnya yang bisa saya pake. Jawabannya,

“Ngga ada mbak, gimana kalo mbak aja yang bikin?”

I was like, what? seriously? Waktu itu saya mikir ya harusnya begini-begini disediain lah sama pemerintah (Trans Jogja) masak iya kita developer yang bikin API dari service yang mau kita pake :(

Tapi semakin kesini saya sadar bahwa di era Government 2.0 ini, kita nggak boleh terlalu mengandalkan pemerintah. Sebagai warga, kita musti mandiri dan berinisiatif. Ada cerita mirip di mana salah satu developer di NYC sini ingin membuat aplikasi Exit Strategy, untuk mengetahui gerbong mana yang harus kita pilih di subway agar bisa sedekat mungkin dekat pintu keluar, dan pun pintu keluarnya sedekat mungkin dengan tujuan kita. Sekarang, memang data lokasi subway entries sudah ada, tapi waktu mereka mendevelop aplikasi tersebut (2008 sepertinya), datanya belum ada dan mereka sempat ditolak MTA untuk minta data. Akhirnya mereka mengumpulkan semua data yang mereka butuhkan sendiri dalam kurun waktu 3 minggu (lokasi pintu keluar, lokasi gerbong, dkk).

Dengan pendekatan yang sama, banyak loh data yang bisa kita kumpulin sendiri di Indonesia tanpa harus bergantung sama provider seperti citra satelit, gambar dari google street (lihat bagaimana cara MIT mengolah gambar dari google street untuk mendapatkan safety score di New York), pasang sensor, dkk. Asal jangan crawling Twitter aja sih soalnya udah nggak ngetrend di Indonesia, jadi bakalan kurang valid :p

Tapi kan ada data yang tetep aja nggak bisa kita cari sendiri, Mon

Kalau yang ini Pak Andrew punya semacam solusi. Beliau bersama teman-temannya membangun Civic Hall, sebuah tempat di New York yang didedikasikan untuk tukar pikiran antara para teknologis dan birokrat. Semacam JDV / BDV gitu di Indonesia mungkin. Jadi, di Civic Hall, kita bisa pinjam tempat untuk mengadakan presentasi ide / meetup di mana nanti mereka akan bantu undang pejabat terkait.

Kita para techies kemudian dapat memanfaatkan hal tersebut untuk curcol, kasih saran, ajakan kolaborasi, minta informasi, atau bentuk komunikasi lainnya. Harapannya, aspirasi kita bisa langsung didengar pihak terkait, sehingga gap antara teknologi dan kebijakan publik bisa dijembatani dan kolaborasi antar keduanya bisa maksimal.

Kalo di Indonesia, bisa tuh manfaatin JDV / BDV, perpus daerah untuk menyelenggarakan acara-acara semacam ini. Jadi misal bikin meetup, ga cuma undang anak-anak mahasiswa tapi juga beberapa orang dari dinas terkait biar bisa pada saling update gitu kan seru juga.

Sebenernya,

Ga adil kalo membandingkan Indonesia dengan negara maju. Pun banyak juga kan orang yang ngga mau dibanding-bandingkan. Tapi hey, kita sedang berjalan di track yang benar kok. Iklimnya juga sedang pas. Karena dari sini kita tahu ada beberapa hal yang mungkin kita lakukan, yuk cobain. Kali-kali cocok dan kalo ada perkembangan positif / metode sukses lain yang temen-temen tahu, boleh juga loh dishare. Sampai jumpa di Indonesia 2.0!

— Mona | MS in Urban Informatics, Center for Urban Science + Progress, New York University

Like what you read? Give Mona a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.