Sleman Macet?

Sebagai mantan penduduk Sleman (karena KTP saya sudah pindah Malang), saya akhir-akhir ini takjub kalo pulang ke rumah orang tua saya di Sleman: macetnya kadang jadi nggak kira-kira! Buat yang tidak tahu, Sleman adalah salah satu kabupaten ter-ramai di Propinsi DIY. Kalo temen-temen pernah ke Jogja, terus ke Prambanan atau Amplaz atau UGM atau bandara, nah itu masuk wilayah Sleman.

Sleman menurut saya adalah salah satu kabupaten yang ter-gentrified (duh istilah Bahasa Indonesianya apa ya), yang perkembangannya paling pesat dan paling mengundang kelas menengah ke atas untuk tinggal. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya apartemen yang sekarang memenuhi Sleman. — Tapi, sebagai korban gempa 2006, saya sama sekali nggak pernah kepikiran untuk tinggal di apartemen manapun di Jogja. Saya nggak kebayang kalo suatu hari gempa, saya ada di lantai 20 dan nggak sempat turun sampe bangunannya ambruk :(

Nah, karena saya penasaran seberapa gentrified-kah desa-desa di Sleman, saya iseng cari tahu seberapa “macet” desa-desa di Sleman, sebagai salah satu proxy gentrifikasi (aslinya banyak faktornya, cuman saya lagi mager aja). Untuk mendapatkan datanya, saya menggunakan Google Distance Matrix API di mana kita bisa mendapatkan estimasi durasi dari tempat asal ke tujuan. Waktu estimasi didapat dari history-nya perjalanan tersebut di waktu lampau. Di eksperimen ini, saya mengambil timeframe Senin pagi 26 Desember 2016 (06:00–08:30) dan Jumat sore 23 Desember 2016 (16:00–20:00) yang saya perkirakan jadi waktu-waktu paling macet di Sleman. Untuk Senin pagi, saya gunakan nol km sebagai destinasi dan centroid dari tiap desa di Sleman untuk tempat asal. Untuk Jumat sore, sebaliknya. Dipilih nol km biar adil aja gitu, habisnya pusat aktivitas pagi Jogja cenderung agak mencar (Gramed, Senopati, Jendral Sudirman, Timoho, etc). Kenapa dipilih tanggal deket Natal? Karena saya waktu itu eksperimennya tengah Desember pas lagi ngaggur :’) tapi asumsi saya, untuk melakukan estimasi, Google hanya merata-rata, sehingga tanggal merah tidak begitu berpengaruh banyak.

Hasil

Kecepatan yang didapat (duration/distance) lalu direrata berdasar waktu dan desa, kemudian diurutkan berdasar jarak ke nol km (terdekat → paling atas). Hasilnya, Nogotirto dan Sinduadi (UGM) paling macet cuy dengan rata-rata kecepatan hanya 17 km/jam. Daerah kos-kosan mahasiswa dan perumahan seperti Condongcatur, Caturtunggal, Trihanggo, Sariharjo, Ambarketawang, Minomartani juga menunjukkan dominasi warna merah. Selain itu kalo mau berangkat kerja, hindari berangkat jam 7 pagi karena itu adalah jam termacet. Perbedaan warna mencolok juga terlihat antara jam 17:30 dan 18:00 yang artinya, mending pulang sebelum jam 18:00 soalnya kalo udah jam 18:00 bakal lebih kerasa macetnya. Menariknya, ternyata jarak jauh nggak menjamin kecepatan yang lebih tinggi. Pakembinangun dan Wukirsari contohnya, nampak lebih merah dari beberapa desa di atasnya di Gambar 1.

Gambar 1. Rata-rata kecepatan untuk tiap desa

Untuk meng-capture jarak dengan lebih jelas, mari kita visualisasikan ke peta dengan warna-warna yang membedakan tiap quantile (kelompok). Gambar 2 menunjukkan distribusi kecepatan ke km nol di Senin pagi. Bisa dilihat disini, sepanjang jalan Kaliurang didominasi warna merah, menunjukkan bahwa daerah jakal emang lebih macet dari daerah sekitarnya di jam-jam berangkat kerja / sekolah. Pola yang sama juga bisa dijumpai di Jalan Godean (hingga sampai Godean), Jalan Magelang (sampai Tridadi), Mlati dan arah Jalan Solo hinga Purwomartani.

Gambar 2. Rerata kecepatan ke km nol di Senin pagi

Ketika jam pulang, secara keseluruhan kecepatan rerata jadi naik, dari sekitar 23 km/jam di pagi hari ke 30 km/jam, namun setelah dikelompokkan berdasar quantile, polanya berbeda: ada banyak desa yang berubah “kelompok”. Dari Gambar 3, terlihat Jalan Godean kalau jam pulang ternyata tidak semacet jam berangkat. Jalan Kaliurang tetap macet, kemungkinan karena orang-orang ingin berakhir pekan di Kaliurang. Menariknya, ada perbedaan warna mencolok antara Merapi timur vs Merapi barat (Merapi timur lebih ngetop?). Daerah timur secara keseluruhan juga lebih macet dari daerah barat, mungkin karena jumlah penduduk yang nglaju dari Klaten / Solo / Gunung Kidul ke Jogja lebih banyak daripada dari arah barat (untuk Jalan Wates musti ditambah data Bantul biar bisa ditarik kesimpulannya). Kalitirto, dimana bandara Adisutjipto berada, berubah dari merah muda di pagi hari ke merah tua di peta sore. Tampaknya di Jumat sore, bandara lebih sibuk daripada Senin pagi.

Gambar 3. Rerata kecepatan pulang di Jumat sore/malam

Kesimpulan

  • Rerata kecepatan pagi 23 km/jam, sore 30 km/jam, ke dan dari nol km.
  • Pusat keramaian di Sleman adalah seputaran ring road dan Jakal, seperti Caturtunggal, Sinduadi (UGM), Trihanggo, Condongatur. Mungkin daerah sini juga adalah yang paling gentrified.
  • Berangkatlah sebelum jam 7, pulanglah sebelum jam 6 sore.

Begitulah hasil iseng saya kali ini. Hasilnya obvious sebenernya, tapi paling tidak sekarang ada bukti untuk justifikasi kalo tempat X adalah daerah macet hehehee. Untuk gentrifikasi sendiri, karena banyak faktor, saya belum bisa menyimpulkan lebih dalam. Jalan macet ini misalnya, pun bisa karena lebar jalan yang lebih sempit, atau emang jumlah penduduknya jauh bertambah. Oleh karena itu, dibutuhkan riset yang lebih mendalam — dan data yang lebih banyak tentunya. Semoga tulisan ini nggak menyia-nyiakan sekian menit dalam hidup teman-teman :p. Sampai jumpa!

Best, Mona.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.