
“Ketika si A udah kelar master dan si B lagi persiapan keliling Eropa, lah aku masih disini-sini aja, masih begini-begini aja.” — overheard, anonymous.
Saya pernah, mungkin juga sering, berada dan ngerasa seperti itu. Terlalu lelah untuk maju, terlalu malu untuk mundur, dan terlalu segan untuk mengaku bahwa sedang tidak baik-baik saja. Apalagi saya sering melihat kebanyakan teman sepantaran saya (mungkin) sudah masuk fase sukses dan bisa disebut bahagia. Padahal ngerti mereka sukses dan bahagia pun hanya dari updet stori IG atau foto-foto yang dipajang di sosial media, tanpa pernah benar-benar mendengar cerita perjalanan jatuh bangun mereka untuk bisa sampai se-well being saat ini.
Pernah juga sampai bertanya berkali-kali ke diri sendiri, “Bener engga sih ini yang dilakuin?”, ragu sama keputusan sendiri sampe ingin menyerah soal mimpi yang lagi diperjuangkan dan belum keliatan hasilnya. Ngerasanya udah ngabisin banyak waktu untuk fokus sama hal-hal yang ternyata tidak terwujud sesuai ekspetasi dan harapan. Lalu, akhirnya putus asa, dan ditengah kegamangan dan juga kebingungan yang sering banget disertai sama perasaan frustasi mau nangis, disitu ngerasa banget kalau sedang dalam posisi in the middle of nowhere.
Padahal setelah dipikir-pikir kembali, pernyataan tentang “in the middle of nowhere”, keadaan dimana saya merasa sedang kehilangan arah tujuan dan perasaan tersesat yang disertai dengan lelah dan keinginan “ya udah mau nikah aja”, sejatinya muncul (mungkin) karena kurangnya kemampuan saya untuk bersyukur dan menghargai diri saya sendiri.
Mungkin saya terlalu banyak membandingkan diri saya dengan orang lain, dengan orang-orang yang sering saya konsumsi kehidupan pribadinya di sosial media. Melihat teman-teman sepantaran saya yang sudah sukses dengan mimpi-mimpinya, melihat adik kelas saya sudah bisa keliling Eropa yang akhirnya tanpa sadar saya sendiri membandingkan pencapaian-pencapaian mereka dengan pencapaian saya sendiri. Mengecilkan diri sendiri, karena dari perspektif saya, diri ini masih jauh dari kata berhasil, diri ini masih jauh dari kata bahagia.
Padahal, kalau saja saya mau sedikit mem-flash back tentang setiap proses yang saya lalui demi mencapai mimpi yang selama ini saya usahakan, nyatanya saya berproses kok, bisa jadi tujuan saya tinggal sedikit lagi tercapai. Hanya saja, karena terlalu fokus dengan apa yang dimiliki oleh orang lain, saya akhirnya buta dengan pencapaian saya sendiri, yang akhirnya malah berakhir dengan saya yang mengkerdilkan diri saya sendiri, tidak percaya dengan kemampuan saya dan akhirnya memilih untuk menyerah mengejar mimpi.
Dari sini saya mengerti, situasi in the middle of nowhere sejatinya dibuat oleh diri saya sendiri. Dibuat oleh saya yang mungkin sedang lelah dan berputus asa dengan keadaan. Dibuat oleh saya yang saat itu tidak mengerti harus bagaimana dan pusing setengah mati memperjuangkan mimpi. Dibuat oleh saya yang sebenarnya hanya perlu meninggalkan rutinitas yang menjenuhkan, menjauh dari lingkungan yang melelahkan dan beristirahat sejenak, merebahkan kepala di atas bantal tanpa harus memikirkan apapun yang menjadi beban.
Kalau mau dikulik kembali, sebenarnya saya tidak pernah benar-benar berada di in the middle of nowhere, karena saya sendiri sudah menulis dengan jelas target-target pencapaian kehidupan saya di atas kertas dan di memori jangka panjang saya. Secara sadar saya juga sudah mencoret beberapa target yang saya punya, tetapi secara sadar pula saya selalu menambah target-target tersebut dengan level yang lebih tinggi dan memaksa diri sendiri untuk bekerja lebih keras lagi.
Mungkin saya hanya terlalu keras kepala dan tidak mau menurunkan gengsi, tidak ingin menurunkan kepercayaan terhadap diri sendiri lebih tepatnya. Tetapi tetap saja ketika bertemu dengan tantangan hal pertama yang pengen saya lakukan adalah menyerah dan menangis di pojokkan. Padahal kalau saja saya mau sedikit melunakkan keinginan saya ini, melambatkan sedikit langkah dan mengatur ritme saya berproses, saya tentu akan mendapatkan apa yang sudah saya targetkan. Hanya saja, saya mungkin memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan orang lain.
Melewati fase ini membuat saya belajar untuk menerima diri sendiri dengan segala kemampuan dan ketidakmampuannya, belajar bersyukur bahkan untuk hal-hal yang sangat sederhana dan belajar untuk selalu melakukan evaluasi diri. Selain itu juga, berusaha untuk menjaga saya sendiri agar selalu percaya bahwa diri ini sedang dalam proses menuju target yang sudah ditentukan. Fase ini memberikan saya pelajaran bahwa mengeluh sejatinya tidak pernah akan meringankan pikiran-pikiran yang saya punya, akan tetapi malah menambahkan pikiran-pikiran negatif yang menguras tenaga dan emosi diri saya sendiri, lelah sungguh.
Jadi sekarang bisa dibilang saya mulai pelan-pelan belajar untuk dealing dengan kondisi in the middle of nowhere. Jika nanti suatu saat saya ketemu dengan perasaan ini lagi, saat itu mungkin saya akan langsung mengepak tas saya, memesan tiket pesawat dan menjelajah kota yang ingin saya datangi. Kalaupun tidak, saya hanya perlu mengambil sebuah buku, datang ke perpustakaan dan menghabiskan waktu saya berjam-jam untuk membaca dan juga menulis, mengeluarkan segala isi kepala agar tidak penuh, menuliskan perjalanan saya dan melakukan evaluasi. Dengan ini saya jelas bisa menampar diri saya sendiri untuk sadar bahwa sejatinya saya tidak pernah benar-benar jalan di tempat atau kehilangan tujuan.
Pontianak, 4 November 2019
