Sayangnya, kita sering menghentikan banyak kebaikan dengan alasan, “kebaikan yang kita sebarkan ke banyak orang nampaknya tidak signifikan. Lihat, pada akhirnya gak ada kok yang mau ngikutin apa yang udah kita ajak.”

Terkadang kita sering tidak sadar, kalau kebaikan yang kita sebarkan tidak selalu saat itu juga akan diikuti. Bahkan kita sering mendahului takdir, dengan berpikiran pesimis. “Gak usahlah, gak akan banyak juga yang ikut”; “gak usahlah, emang pada dasarnya sulit untuk diajak kebaikan. Sia-sia nanti kita.” Padahal Allah gak akan mengubah semuanya, sampai-sampai kita dulu yang mengusahakan untuk menyebarkan kebaikan itu.

Untuk masalah dakwah, dakwah itu gak melulu saat nembak langsung kena. Mungkin kita perlu melakukan banyak 'tembakan' untuk menjadi tepat sasaran. Atau bahkan mungkin saat kita yang belum mampu membidik target kita, generasi di bawah kitalah yang ternyata mampu melakukan itu semua. Karena bukan tentang seberapa banyak orang yang mengikuti kebaikanmu, tapi seberapa kuat kamu untuk beristiqomah dalam jalan ini.

“usia perjalanan kebaikan kita bahkan bisa selalu lebih panjang dari usia hidup kita.”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.