Bagaimana Efek Rumah Kaca Menilai Batu

Efek Rumah Kaca kembali mengeksplor konsep minimalis mereka melalui Tiba-Tiba Batu (06/09/2019). Single terbaru mereka ini terdengar begitu menyegarkan.
Dengan rangkaian nada bernuansa riang nan catchy dan easy listening, lagu ini terasa begitu berbeda dari lagu-lagu mereka yang sebelumnya. Coba cek, ada nggak lagu ERK yang sesantai dan seriang ini? Kayanya sih, nggak ada.
Lagu ini memang membicarakan topik yang nggak terlalu mendesak buat diangkat, walaupun sebenernya nyebelin. Makanya nggak mengherankan kalau cara penyampaiannya juga agak beda, nggak seserius (misalnya) Jangan Bakar Buku atau Di Udara yang isunya bisa dibilang punya urgensi lebih.
Isi lagu ini nyeritain (sekaligus nyindir) orang-orang yang tiba-tiba jadi keras kepala, entah karena pilpres atau yang lain, tapi dangkal isinya. Sampe-sampe kalo adu argumen sama mereka diibaratkan tanding tenis meja, ini tamplek-tamplekannya ada, tapi bolanya enggak ada. Eh, tapi ini ditonton asik juga sih. Macam yang dilakuin Poppie di video klipnya kan, hahah.
Nah, alih-alih ngasih alternatif atau arahan ke mereka, ERK justru membuat ini jadi bahan lucu-lucuan aja. Semacam merayakan kedangkalan dengan menertawakannya. Tapi tenang, ini sama sekali nggak mengurangi kedalaman lagunya kok.
Permainan kata yang dilakukan ERK dalam membingkai batu jadi satu hal yang menarik di lagu ini. Di satu bait, batu dijadikan perumpamaan bagi orang-orang yang keras kepala. Di bait lainnya, batu digunakan sebagaimana makna literalnya.
Secara garis besar, posisi ERK di lagu ini mencemooh orang-orang yang tiba-tiba menjadi batu. Tapi mereka nggak lantas tutup mata atas sisi-sisi baik yang mungkin masih ada pada ke-batu-an itu, misalnya nilai guna batu dalam larik batu bisa jadi fondasi.
Bagaimana cara Cholil Mahmud membicarakan batu di lirik yang ia tulis ini konsisten dengan apa yang ia sampaikan di artikelnya, Bahasa Korupsi Bahasa. Cholil nggak membiarkan makna-makna buruk batu mengkorupsi (mereduksi) makna batu secara keseluruhan.
ERK menilai batu melalui dua sudut pandang. Pertama, pada larik awalnya cuma belagu, nantinya bisa bikin malu.
Kayanya, orang-orang yang tiba-tiba jadi batu itu adalah mereka yang baru aja concern ke suatu isu, tapi udah berlagak paling tau. Poser lah ya istilahnya. Nah, tipikal poser inilah yang dicemooh di lagu ini. Mmm, di mana-mana poser selalu dicemooh sih.
Dari sudut pandang yang pertama, ERK ngatain poser kalo mereka bakal malu-maluin. Padahal, siapa sih yang tahu pasti tentang masa depan? Tuhan. Nah, karena ERK bukan tuhan, makanya mereka bicarain kemungkinan lain dengan sudut pandang yang kedua.
Sudut pandang yang kedua agak bertentangan sama yang pertama, ERK melihat sisi baik dari ke-poser-an itu dengan beranalogi pada bait batu bisa jadi fondasi, dst.
Kalau keras kepala bisa diumpamakan sebagai batu, maka fondasi di sini juga bisa berarti prinsip. Sepertihalnya fondasi bangunan, prinsip seseorang juga harus kuat, biar nggak gampang diperalat. Nah, ke-keraskepala-an poser tadi, bisa menjadi bekal awal mereka buat punya prinsip yang kuat.
“Berposer-poser dahulu, diusahakan kemudian”
Sepertinya ERK masih sependapat dengan pepatah, berposer-poser dahulu, diusahakan kemudian. Pepatah itu kira-kira artinya gini, ketika belagu diimbangi dengan belajar yang beneran, kelak percakapan dengan secangkir kopi dan sepotong roti di pagi hari pun bisa memberi arti kepada lawan bicaranya. Tapi, orang belagu tetep nyebelin sih :)
Noisebleed —photo by Alva Christo (photographer), words by Kavca Dio (poser)
Btw pepatah tadi itu ngarang, hehe. Tapi solo gitar Cholil keren!
