Filsafat Islam — Mohammad Arkoun
Mohammad Arkoun memberikan pendekatan baru terhadap pemahaman keagamaan Islam. Titik berangkat yang dia pergunakan adalah bagaiamana kita mengetahui Islam, atau lazim disebut sebagai epistemologi. Arkoun melihat bahwa ada kebakuan dalam Islam, dimana glorifikasi yang terjadi di dalam tubuh Islam sudah mengarah pada ketidakjernihan melihat konsep Islam itu sendiri, secara teknis dikenal dengan adanya logosentrisme dalam Islam.
Islam logosentris, bercirikan :
1. Kebenaran — Dogma — Tuhan — estetis vs Ilmiah: bahwa dogma-dogma dalam Islam diberlakukan begitu saja, tanpa pernah lagi memikirkannya, terlebih karena kebenaran ini dari Tuhan dan akan terjebak pada hanya pendekatan estetik, bukan ilmiah.
2. Keterjebakan nalar — metafisika: Perdebatan rasio selalu masih saja berada pada level ontologinya, sehingga epistemologi dari Islam sendiri tidak tersentuh. Arkoun menghimbau agar kita mulai beranjak darinya.
3. Nalar bertolak dari gagasan umum Nalar seringkali menggunakan titik tolak gagasan gagasn umum yang diturunkan.
4. Over abuse data empiris: Perkembanhan ilmiah justru menjadikan mentalistas dari banyak kalangan muslim untuk terus menggunakan data-data tersebut sebagai legitimasi keagamaan, dan bagi Arkoun hal tersebut tidaklah sehat
5. Tidak terbuka dengan sejarah: Banyak kecacatan sejarah yang tak pernah diperbincangkan dalam Islam, dan keterjebakan ini banyak disebabkan oleh kuatnya ontologi dalam Islam.
6. Keterjebakan bahasa: Kitab suci dengan menggunaan bahasa seakan menjadikan pemahaman atasnya hanya berasal dari tanda yang ada didalamnya, padahal bahasa adalah produk peradaban.
Maka Arkoun kemudian memberikan beberapa penekanan pada kalangan muslim untuk melakukan beberapa perubahan dalam perwajahan Islam. Tugas kaum intelek muslim menurut Arkoun:
1. Mengkaji ulang sejarah umat islam — membaca quran benar dan baru : Hal ini mengingat bahwa cara membaca kita yang masih sangat konservatif.
2. Syariah harus sesuai dengan perkembangan sosial sekarang: Rujukan Syaiah telah pudar, legitimasinya sudah susah dijadikan patokan, maka kita harus memproduksi cara baru dalam menjawab tanangan zaman.
3. Meniadakan dikotomi — menyelaraskan teori dan praktik: pergulatan intelektual yang hanya pada wilayah ontologi menjadikan aksiologi tidak tersentuh.
4. Berpikir bebas: Berpikir bebas, karena firman tuhan selalu butuh untuk diinterpretasikan secara terus-menerus.
Kerangka Pemikiran Arkoun :
Arkoun ingin menghilangkan dikotomi, meniadakan superioritas, dan menjadikan manusia hidup dalam satu identitas yang sama.
Metodologi pemikiran Arkoun:
Dekonstruksi Epistemik: historis, sosiologis, antroposentris, diamana selama ini selalu berasal dari perdebatan teologis dan fislosofis yang menghasilkan superioritas dan inferioritas
Reason kemudian harus terbebas dari ontologi nya — essense.
6 garis pemikiran dalam pengetahuan Islam :
1. Bahasa-tanda-makna-semiotik: bahasan dalam Al-Quran sangat terkait dengan tanda yang ada dalam masyarakat. Dan di setiap tanda tersebut terkandung makna didalamnya, maka semiotika menjadi amat penting bagi Arkoun.
2. Perubahan sosial-historisitas(vs esensi)makna-penggunaan nalar: Bahasa yang menjadi modus berada firman sekaligus memberikan gambaran perjalanan nalar dari suatu kelompok masyrakat.
3. Imaginer sosial-analisis antropologis
4. Diskursus-poststrukturalis mendahului iman: diskursus yang berkembang dalam masyrakat mengenai Islam menjadikan iman lebih banyak direproduksi oleh diskursus.
5. Kritik epistemologis — tidak ada legitimasi ushul fiqh dll
6. Makna — memakai intelektualitas: untuk menggapai makna, maka performa intelektualitas harus selalu dipakai.
Pokok-pokok pikiran Arkoun :
1. Wahyu dan Teks Quran :
1. Wahyu transenden-lauhul mahfudz: wahyu jenis ini tidak tersentuh dan hanya Tuhan yang tahu
2. Terbahasakan-kitab suci — discourse: wahyu ini adalah wahyu yang terbahasakan dan diberikan pada nabi
3. Wahyu yang terekam dalam kitab: tidak hanya dibahasakan, wahyu jenis ini adalah wahyu yang terekam dalam berbagai alat bantu rekam — kertas, dll. Dan hal ini terkait dengan 2 kenyataan yaitu :
1. Kenyataan qurani : yaitu yang hanya berkenaan dengan teks quran
2. Kenyataan islami : praktik sosial masyarakat Islam
2. Pembacaan Ayat Suci
Parole-individu Langue-bahasa umum
1. Liturgis — sholat — persis seperti nabi: digunakan dalam ritus keagamaan, dan pelafalananya sama persis seperit pengucapan nabi
2. Eksegenis — membaca dari mushaf saja: membaca dari tanda baca yang ada dalam kitab tersebut.
3. Membaca dengan ilmu kemanusiaan dan bahasa
a. Ligustik kritis : data-data lingusitik-sintaksis-semantik
b. Hubungan Kritis :
1. Historis-tafsir dan simbol didalamnya
2. Antropologis — simbol dalam qiraah
Arkoun menawarkan cara baru dalam memahami islam. Dengan berbagai keterangannya mengenai pentingnya penggunaan perkembangan histroris, linguistik, sosial, antroplogi, dan berbagai metode lainnya, mengindikasikan bahwa cara baca (epistemologi) adalah hal yang paling vital dalam kritik dia. Dan karena dari situlah kemudian kita bisa memahami Islam secara lebih presisi di zaman ini.
Sumber:
Arkoun, M. (2003). Rethinking Islam Today. Annals of The American Academy of Political and Social Science, 18–39.
