Menyambung Titik-titik

1. “Keren banget!

Kata yang selalu keluar dari mulutku setiap kali halaman terakhir buku kututup. Apa yang membuat seorang penulis mampu membentuk fragment imajinasi di otakmu hanya dengan goresan pena dan tuts keyboard laptop? Skill menulis, mungkin. Hati, mungkin juga

Kembali ke tulisan. Aku ingin menulis. Keinginan ini sudah terpendam lama, mungkin muncul saat selesai kubaca Harry Potter: The Sorcerer’s Stone di akhir kelas 3 SD. Keinginanku ingin menulis sama besarnya dengan keinginan berprofesi dokter saat aku dinobatkan menjadi dokter kecil terbaik. Passion itu kembali muncul di masa-masa menunggu wisuda. Butuh 13 tahun! Mungkin ini juga alasan aku membuat akun ini sekarang.

2. Struggle.

Keinginanku untuk menulis tidak beriringan dengan kemampuanku menulis. F*ck, susah banget menulis “indah”. Iya! Menulis indah. Aku merasa lebih mudah menulis sistematis, menulis berita seperti kolom-kolom koran atau paper ilmiah. Tapi tulisan-tulisan itu kurang mampu menggerakan. Aku ingin menulis “indah”. Tapi sangat sulit.

Orang A mengatakan, “Menulis dengan jujur!” Orang B bilang, “coba dari menulis untuk diri sendiri, karena itu beda dari menulis untuk orang lain.” Orang C, “Menulis saja dulu. Coba jangan mengangkat tangan dari keyboard. Tidak usah diedit! Karena menulis dan mengedit tulisan adalah dua hal yang berbeda.” Iya, saran-saran itu sudah masuk ke otakku, namun belum terimplementasi pada jari-jariku.

3. Menyusur jejak

Kenapa aku tidak mampu menulis “indah”? Aku sadar sejak dulu otak kiriku lebih berotot dari otak kananku. Kemampuanku berlogika- berteori sistematis lebih advance dari kemampuanku berimajinasi. Tapi sebenarnya, apa sih fase yang dilalui para penulis yang belum aku lalui? Masa sih aku gak bisa nulis “indah”?

_

The past is in the past!” Nasihat yang sering sekali kudengar dari orang-orang. Mungkin juga kudengar dalam nasihatku sendiri. Untuk menegaskan diri pada present moment dan segera beranjak ke masa depan. Tapi kali ini, menyusur jejak bisa memberi jawaban. Percakapan 3 jam dengan orang yang kemampuan menulisnya sangat kukagumi tadi malam, membantuku melacak kembali jejak yang mungkin sudah samar.

Menulis adalah seni. Aku tidak pernah berpikir hal itu. Ya ‘berpikir’. Kembali lagi aku menggunakan kata yang sangat logical. Seni itu dirasakan, menggunakan hati. Aku sadar! Aku sadar mengapa dulu aku melihat matahari terbenam di Laut Flores dan tidak merasakan apa-apa, mengapa aku dulu bingung pada orang yang bisa berdiri diam menatap lukisan, mengapa orang bisa terpukau dengan metafora yang menurutku berlebihan. Segala hal masuk ke dalam otakku, tersuling bagai air kotor, terkotak-kotak dalam bingkai logika yang kupercayai, logika yang kukatakan pada diriku selama 20 tahun.

Kapan semuanya berubah? Mungkin 2 tahun lalu, saat aku bertemu seseorang yang mampu terdiam mengamati hal kecil yang tidak masuk kriteria penting dalam kerangka logikaku. Dia mengajarkan bagaimana cara merasa, seperti betapa indahnya sunrise di Pantai Siung Gunungkidul, betapa hijaunya air di Green Canyon Pangandaran. Tiga tahun lalu, aku tidak akan tau ada air terjun bernama Grojogan Sewu di Kulonprogo, Bukit Pronojiwo di Kaliurang, atau mitologi Batara Kala dalam wayang jawa. Aku tidak akan paham mengapa penari klasik jawa melakukan gerakan yang sama berulang-ulang dalam 12 menit.

Aku sudah lama sadar kalau aku dulu kurang mampu mengapresiasi seni. Namun, setelah aku bercerita selama 3 jam itu, ada rasa “plong”. Percakapan itu seakan subtitle dalam film asing, atau coda dalam buku cerita anak-anak. It’s stating the obvious. Sesuatu yang sebenarnya sudah aku tau namun memberi penegasan.

Apa aku sudah benar-benar mampu mengapresiasi? Aku yakin belum maksimal. Dan inilah penyebab menulis “indah” menjadi sulit kulakukan.

Menyusur jejak membantu memberi jawaban. Menyambung titik-titik menjadi garis panjang yang tebal. Aku mendapat alasan, di saat yang sama, aku juga melihat betapa jauh aku telah berjalan. Setidaknya itu yang kupelajari dari susuran jejak dalam percakapan 3 jam.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Nong Agathon’s story.