Semua dalam Satu (LGBT Indonesia) — luapan emosi terhadap pola pikir orang Indonesia

Sebuah pembicaraan kafetaria membawaku kepada tulisan ini. Siapa yang sangka perut kenyang dan AC yang dingin justru membawa pada obrolan serius mengenai LGBT di Indonesia. Obrolan yang bermuara pada ekspresi jijik dan gelengan kepala.

Menjadi miris melihat ternyata masih banyak orang yang menolak tanpa memahami LGBT sebenarnya apa. Memahami itu bukan hanya mengetahui singkatan istilah LGBT, tapi lebih dalam dari itu.

Permasalahan LGBT mulai memanas di Indonesia semenjak Amerika Serikat melegalkan pernikahan sesama jenis secara nasional. Sejumlah orang di Indonesia berasumsi bahwa hal ini akan pula meledak di Indonesia. Oleh karena itu, orang-orang yang merasa terancam ini membentengi diri dengan agama, norma sosial, kesehatan dan politis. Mereka tampil di televisi atau media lainnya dan berkhotbah tentang bahaya LGBT bagi Indonesia, memberi informasi sepotong-potong dan cenderung menakuti masyarakat dengan tempelan-tempelan pada kata LGBT. “LGBT Menular”, “LGBT Dosa”, dan sebagainya. Ketidaktahuan dan ketakutan ini yang membuat isu LGBT masih menjadi polemik di Indonesia.

Aku merasa cukup beruntung telah mendapat cukup banyak informasi, mengalami proses diskusi dan refleksi dari pengalaman orang lain maupun pengalamanku sendiri mengenai isu ini. Seakan memiliki tanggung jawab, aku akan mencurahkan semua yang aku tau dalam satu tulisan ini. Semua dalam satu.

Agama

Tak jarang orang mengutip ayat kitab keagamaannya atau memparafrase apa yang dikatakan pemuka agamanya mengenai isu LGBT. Mengulang-ngulang persepsi bahwa tidak ada agama yang memperbolehkan dan melegalkan LGBT. Aku akan menceritakan refleksiku mengenai agama. Tidak ada teori siapapun yang aku gunakan, hanya apa yang aku pikirkan mengenai konsep agama. Karena ini bersifat refleksi, maka bisa jadi bersifat subyektif dan bisa salah.

Kata agama sendiri, jika aku tak salah, berasal dari bahasa sansekerta yaitu a gama, yang artinya tidak berantakan/kacau atau bisa dibilang juga tidak bergerak (statis).

Agama juga memiliki dua akar utama yaitu dogma dan ritual. Apa itu? Dogma adalah inti ajaran dari agama, merupakan keimanan yang menentukan tindakan yang pantas dilakukan oleh manusia. Ritual merupakan pelaksanaan dari agama, mengenai aturan dalam agama.

Sejauh apa yang aku refleksikan, dogma setiap agama itu sama, yaitu mengenai kebaikan dan cinta kasih, mengenai menghormati-menghargai dan menyayangi Tuhan dan sesama manusia. Sedangkan ritual merupakan aturan-aturan dalam agama yang mengikat dan terikat. Terikat dalam hal apa? Terikat pada zaman dan budaya dimana agama itu ada. Namun, ritual seringkali tertulis sedangkan dogma hanya tersirat. Butuh refleksi yang dalam untuk mengetahui dogma yang tertulis di dalam kitab keagamaan.

Misalkan seperti ini, pada ajaran agama samawi dahulu, jika seorang perempuan berzinah dengan laki-laki yang bukan suaminya, maka perempuan itu akan dilempari batu/ dirazam. Begitu pula halnya, pencuri akan dipotong tangannya.

Dua contoh di atas adalah sebuah ritual keagamaan yang melekat dengan budaya dan zaman. Pada masa itu, di tempat itu, hukuman melempar batu pada pezinah dan memotong tangan pencuri merupakan hal yang relevan, tapi tidak lagi sekarang. Benarkan Tuhan menghancurkan Sodom dan Gomora karena homoseksualitas? Ataukah karena tindakan masyarakat Sodom dan Gomora yang tidak memanusiakan manusia lain? Apa ajaran yang sebenarnya disampaikan dalam kisah Sodom dan Gomora? Jangan hanya makan kulit, makan isinya, lihat lebih dalam.

Berbeda dengan ritual, dogma dalam agama menjadi hal yang sangat relevan, mungkin juga paling relevan dalam kemanusiaan. Tapi orang justru melupakan dogma yang merupakan inti agama dan malah mengedepankan ritual yang sebenarnya tidak lagi relevan.

Dalam memahami isu mengenai LGBT. Kita tidak boleh terperangkap dalam kerangka ritual agama yang “saklek”.

‘Setiap hal yang dilarang itu ada alasannya!’

Benar, tapi untuk siapa? Siapa yang diuntungkan dari pelarangan itu? Kita harus melihat lebih dalam, kembali pada intinya, cinta kasih, pada rasa menghormati-menghargai dan menyayangi Tuhan dan sesama.

Sebuah pertanyaan untuk berefleksi

apakah Tuhan melarang manusia untuk saling menyayangi? Apakah menyayangi sesama manusia, termasuk yang sesama jenis kelamin adalah perbuatan yang dibenci Tuhan?

Kesehatan

Tidak sedikit juga orang yang berpikir bahwa LGBT adalah penyakit. LGBT dipandang sebagai penyakit psikologi yang menular. Jika diasumsikan demikian, maka orientasi seksual lain pun seharusnya dapat menular. Bukankah seorang homoseksual hidup di masyarakat yang heteroseksual? Dengan keluarga yang heteroseksual? Tapi mengapa seorang homoseksual tidak tertular menjadi heteroseksual.

Kedokteran di dunia sebelah barat sana telah mengeksklusikan homoseksualitas dalam kategori penyakit, begitu pula dari kategori menular. Hal ini karena orientasi seksual tidak semerta-merta menular. Orientasi seksual merupakan kombinasi dari banyak faktor, lebih kompleks dari hanya hubungan sosial.

Jika melihat teman-teman dari Transgender/Transeksual, mereka memiliki masalah yang lebih kompleks lagi, lebih sulit dimengerti masyarakat umum. Saat kuliah dulu, aku pernah masuk kelas Gender dan Politik, dimana Mbak Ayu selaku dosen mengundang waria-waria dari Pesantren Al-Fattah untuk datang dan sharing mengenai pengalaman mereka. Mereka bilang bahwa mereka memiliki jiwa perempuan dalam tubuh laki-laki (begitu pula sebaliknya bagi teman-teman transgender/transeksual female-to-male). Coba bayangkan dirimu berada di posisi mereka. Bayangkan jika kamu seorang laki-laki hidup dalam tubuh perempuan, atau sebaliknya. Apa yang bisa kamu lakukan? Pasti rasanya seperti perang. Perang melawan diri sendiri dan perang melawan masyarakat. Pernah bertanya mengapa waria lebih memilih untuk operasi sehingga dihina masyarakat dimanapun setiap harinya? Itu mungkin karena perang melawan diri sendiri lebih menyakitkan dibandingkan perang melawan orang banyak.

LGBT juga cenderung diasosiasikan masyarakat sebagai predator, sebagai pedofil yang mengincar anak-anak untuk disodomi atau direkrut menjadi homoseksual. Juga diasosiasikan sebagai penyebar wabah HIV/AIDS. Benarkah? Homoseksual tidaklah identik dengan perilaku pedofilia. Pedofilia juga banyak ditemukan pada kalangan heteroseksual juga dengan homoseksual. Yang membedakan hanya reaksi masyarakat terhadap berita. Masyarakat cenderung lebih reaktif mendengar berita mengenai pelaku pedofil homoseksual, walaupun juga banyak pelaku pedofil heteroseksual.

HIV/AIDS dan infeksi menular seksual lainnya tidak bisa serta merta diasosiasikan kepada kalangan LGBT. HIV/AIDS menyerang siapapun yang terekspos terhadap virus, misalnya dari perilaku seks tak aman, transfusi darah atau dari penggunaan narkoba jarum suntik. Setiap orang bisa tertular HIV/AIDS tanpa memandang orientasi seksualnya.

Politik

Isu polemik LGBT di Indonesia terpolitisasi cukup besar pada awal hingga pertengahan tahun 2016. Muncul pendapat bahwa LGBT adalah senjata bangsa “barat” untuk menghancurkan bangsa Indonesia. Mereka berasumsu bahwa “barat” mencoba menghentikan Indonesia untuk memiliki keturunan. Oh c’mon, dude!

Jika Amerika Serikat dan negara-negara lainnya bermaksud untuk menghancurkan bangsa Indonesia melalui LGBT, mengapa mereka juga melegalkan pernikahan sesama jenis? Bukankah itu artinya mereka menghancurkan bangsa mereka sendiri? Tidak ada alasan untuk menghancurkan bangsa sendiri. Banyak malah di antara orang LGBT yang memiliki cinta tanah air yang tinggi. Yang ingin diperjuangkan bukanlah kehancuran bangsa, melainkan hak-hak asasi mereka. Hak untuk mampu menyatakan pendapat dan hak untuk berekspresi.

Salah satu pembicara dalam Indonesian Lawyer Club berargumen bahwa pada tahun 1970an, ia sempat berdiskusi dengan teman-temannya sesama orang Indonesia saat sedang bersekolah di Belanda. Mereka bertanya-tanya mengapa ada laki-laki Belanda yang “menjadi” homoseksual. Mereka sampai pada kesimpulan bahwa hal itu terjadi karena laki-laki Belanda sudah bosan melihat tubuh perempuan di Belanda yang sering mengenakan pakaian yang terbuka. Oh c’mon, dude! (2)

Bukankan laki-laki di Belanda juga sering melihat tubuh laki-laki di Belands karena kalau musim panas, laki-laki di Belanda juga mengenakan pakaian yang terbuka. Bukankah mereka juga seharusnya bosan. Lagi pula mengapa malah menyalahkan perempuan? Apa salah perempuan dalam kasus itu? Tidak ada!

Orientasi seksual tidak hanya secetek seseorang bosan dengan tubuh jenis kelamin tertentu. Orientasi seksual merupakan kombinasi dari banyak faktor. Gender dan Orientasi Seksual sangatlah cair sehingga tidak bisa dikotak-kotakan.

Pendekatan Keberagaman

Aku ingin membuat ilustrasi tentang dua orang. Orang A dan B. A adalah orang Indonesia yang “sejati”. Tanpa makan nasi, A tidak akan pernah kenyang. Tanpa sambal, A merasa ada yang kurang. Sebaliknya, B adalah orang Indonesia yang unik. B tidak suka makan nasi. Ia hanya bisa makan roti atau kentang. B juga tidak kuat makan makanan pedas. A dan B hidup di Indonesia, di masyarakat yang makanan pokoknya adalah nasi dan sambal menjadi harta kuliner yang disediakan di setiap tempat makan. Apakah B harus memaksakan diri makan nasi dan sambal yang ia tidak suka? Ataukah A harus memaksa B untuk makan nasi dan sambal? Atau malah menghinanya? Atau menertawakannya?

Jika kamu adalah A, apa yang akan kamu lakukan?

Jika situasinya dibalik. Jika A dan B pindah ke Amerika Serikat dimana nasi dan sambal merupakan komoditas yang langka. Apa yang akan dilakukan B? Akankah B memaksa A untuk makan roti saja walaupun ia tidak suka? Apakah B mengejek dan menghina A? Apakah B menjauhi A?

Jika kamu adalah B, apa yang akan kamu lakukan?

Aku rasa menghargai seseorang termasuk dengan menghargai pilihan yang akan diambil orang tersebut. Menghargai orientasi seksual seseorang sebenarnya semudah menghargai pilihan makanan yang disukainya.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk membuatmu setuju dengan LGBT atau menolak LGBT. Setuju atau tidak ini semua kembali kepada pribadi masing-masing. Tulisan ini bermaksud untuk mengajarkan makna penghargaan terhadap sesama manusia, mengajarkan mengenai tolerasi dan cinta kasih sesama manusia.

Like what you read? Give Nong Agathon a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.