Bertuhan Tanpa Agama

(Sumber gambar: kuldarleement.deviantart.com)

Wacana atheisme, khususnya untuk saat-saat ini, sudah seperti seorang pelari yang telah kehabisan napas. Keberadaannya tidak lagi setegar dulu.

Keyakinan terhadap ketiadaan Tuhan telah menjadi keyakinan yang rapuh, seperti bangunan tua yang esok pagi akan rubuh.

Sebab, sampai sekarang para atheis memang belum mampu memberikan bukti yang kuat akan tidak adanya Tuhan. Argumentasi yang mereka kemukakan pun sering sekali terpatahkan.

Intinya, atheisme sudah ketinggalan zaman, tidak cihuy lagi untuk dijadikan bahan gagah-gagahan, dan sudah mulai ditinggalkan banyak orang.

Proses pencarian Tuhan enggak sama dengan proses pencarian pena yang tertimbun di bawah tumpukan bantal yang berserakan di dalam kamar. Kita juga enggak perlu terbang meluncur menembus lapisan atmosfer menuju semesta langit ke tujuh hanya untuk menemukan sosok Tuhan seutuhnya.

Yang perlu kita lakukan adalah cukup diam di tempat dan memperhatikan dengan saksama segala sesuatu yang sedang berada di sekeliling kita.

Dengan menyaksikan semesta yang ada di sekeliling kita (alam, hewan, manusia, dlsb), kita pasti akan langsung meyakini akan keberadaan Tuhan.

Sama halnya seperti ketika kita menyaksikan jejak sepatu yang membekas di teras rumah kosong. Dengan adanya jejak sepatu tersebut, kita tentu lantas memiliki keyakinan bahwa pastilah ada seseorang yang pernah memasuki rumah kosong itu, padahal kita sama sekali tidak melihat ada seseorang yang memasukinya. Dari manakah keyakinan itu bisa muncul? Tentu saja dari jejak sepatu itu.

Begitu pula dengan semesta yang berada di sekeliling kita, yang juga merupakan jejak akan adanya Sang Pencipta.

Begitulah. Para atheis pun seperti terjebak dalam jejak-jejak Tuhan, tetapi mereka tetap menutup mata sambil berteriak-teriak seperti orang cengeng: “Tuhan telah mati! Tuhan telah mati!”

Padahal, kesadaran merekalah yang telah mati, karena habis dibombardir secara bertubi-tubi oleh jejak-jejak yang mengisyaratkan akan adanya Tuhan.

Itu sebabnya, pembahasan tentang Tuhan saya selesaikan hanya sampai di sini. Sebab, menurut saya pembahasan tersebut memang sudah selesai. Tak perlu lagi diperdebatkan, karena itu adalah sesuatu hal yang sangat meletihkan.

Namun, ternyata ada yang lebih menggairahkan lagi selain atheisme, yaitu: bertuhan tanpa agama.

Hmm. Saya sempat tertarik dengan wacana tersebut. Bertuhan tanpa agama. Percaya Tuhan, tapi tak mau menganut satu agama pun. Hmm. Sepertinya menarik. Baiklah. Akhirnya saya pun menyisihkan sebagian waktu saya untuk melamunkan hal itu.

Mengapa ada orang yang mau bertuhan, tetapi tidak mau beragama? Lantas saya pun mulai mencoba mengumpulkan alasan, membaca beberapa tulisan, bertanya dengan teman, dan akhirnya saya pun menemukan secuil jawaban.

Kebanyakan dari mereka yang tidak mau beragama, salah satu alasannya adalah karena selama ini agama sering menjadi pemicu pertikaian.

Gara-gara agama, perang dan kekerasan sering terjadi. Entah sudah berapa kepala yang terpenggal hanya karena sentimen keagamaan. Entah sudah berapa nyawa yang hilang juga karena agama.

Fakta-fakta empiris telah membuktikan bahwa agama sering menjadi biang keladi atas segala kehancuran.

Agama adalah biang masalah, biang problema, biang dari segala biang kekacauan. Sehingga muncullah sebuah diktum: agama adalah sebuah kesalahan.

Ya. Alasan yang bijak. Mereka yang menolak agama adalah mereka yang mencintai perdamaian. Bukankah Tuhan selalu menginginkan kebaikan? Baiklah.

Saya pun mengangguk. Mencoba untuk mengerti. Intinya adalah mereka mengutuk perang dan kekerasan. Dan karena agama sering menjadi pemicunya, maka agama harus segera dihapuskan.

Lantas saya pun menanyakan hal itu kepada seorang teman. Dan teman saya memberikan sebuah jawaban yang amat sederhana, bahwa bukan agama saja yang sering memicu pertikaian, melainkan karena banyak hal.

Misal, gara-gara cinta banyak yang saling pukul-pukulan, gara-gara tanah banyak yang saling bunuh-bunuhan, gara-gara uang banyak negara yang main perang-perangan, dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Jawaban yang cukup sederhana itu ternyata mampu membuat saya langsung menjentikkan jari sambil berkata “Aha!” di dalam hati.

Ya, mereka yang tidak ingin beragama beralasan karena agama sering menghadirkan kekacauan. Namun, bagaimana dengan cinta, tanah, uang, dan lainnya yang berpotensi untuk mendatangkan pertikaian?

Apakah lantas mereka juga tidak mau memiliki cinta, karena cinta sering jadi pemicu perkelahian? Apakah mereka juga tidak ingin memiliki tanah, karena tanah sering jadi alasan untuk saling bunuh-bunuhan? Apakah mereka juga tidak menginginkan uang, karena uang sering memicu peperangan?

Intinya, usaha menihilkan agama untuk menghilangkan perang dan kekerasan adalah hal yang percuma. Sebab, alasan yang seperti itu adalah alasan yang dibuat-buat.

Lantas, kesimpulan dari tulisan ini apa? Tentu kamu akan bertanya seperti itu kepada saya. Hmm. Entahlah. Kamu simpulkan saja sendiri. Di sini saya hanya ingin berbagi lamunan.[]

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Noor H. Dee’s story.