Waktu yang Selamanya Memang Selalu Begitu

(Sumber gambar: dreamcatcherreality.com)

Sudah sejak lama saya meyakini bahwa waktu bukanlah yang berdetik di jam dinding, bukan pula sekumpulan angka yang berbaris di kalender.

Jam dinding dan kalender hanyalah sebuah usaha mengabstraksikan sang waktu, tapi tetap saja usaha tersebut tidak mampu memberikan penjelasan apa-apa.

Tak ada seorang pun yang tahu definisi waktu, tapi semua memahami bahwa waktu selalu bergerak maju.

Berbicara soal waktu, artinya kita berbicara soal kesementaraan. Segala yang berada dalam waktu adalah alpa dalam keabadian. Mortal. Menyementara. Segala hal menjadi basi, lapuk, mati.

Waktu memang tidak terlihat, tapi manusia mengerti betapa waktu tidak pernah main-main.

Manusia terjebak dalam waktu (juga ruang). Mendekam sampai mati. Tak ada yang bisa meronta.

Usaha untuk berlepas diri dari waktu adalah tidak mungkin. Itu sebabnya tak ada yang bisa manusia perbuat terhadap waktu kecuali memaknainya dengan begitu sederhana.

Kesadaran manusia akan keberadaan waktu terjadi karena proses mengalami. Hari yang terus berganti, siang dan malam yang selalu bertukaran, wajah yang menua, kertas yang menguning, jasad yang mengering, semua itu memberi pelajaran kepada manusia, bahwa ternyata hidup tidaklah statis. Selalu ada yang berubah. Bergerak. Maju.

Dalam Wawasan Al-Quran, Pak Quraish Shihab mengutip perkataan Malik bin Nabi — yang menurut ulama adalah perkataan Nabi Saw. juga:

“Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali dia berseru, ‘Putra-putri Adam, aku waktu, aku ciptaan baru, yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku, karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat.’”

Waktu tidak akan kembali. Waktu sendiri yang bilang begitu. Bukan saya. Bukan kamu.

Manusia yang sadar tentang waktu-yang-tak-akan-kembali tentu akan menjadi manusia yang cemas. Bagaimana tidak? Kamu akan dituntut untuk selalu berlaku sebaik mungkin. Sebenar mungkin.

Sialnya, tentu saja hal itu tidak mungkin. Manusia tak luput dari kesalahan, sebab kesempurnaan bukan fitrah manusia. Ketika kesalahan adalah keniscayaan, penyesalan akan memenjarakanmu.

Sekali saja kamu berbuat salah, maka waktu akan merekam kesalahanmu. Kamu mungkin bisa mundur, tapi waktu tidak. Kamu tentu ingin memperbaiki kesalahanmu di masa lalu, tapi sayangnya hal itu tidak mungkin. Kesalahanmu akan tetap seperti itu.

Pertobatan memang ada, sebab Allah memang maha penerima tobat, tapi jejak-jejak kesalahanmu telah terekam dalam waktu.

Sesekali, jika kamu berani, kamu masih bisa memutar kembali ingatan tentang kesalahan yang telah kamu perbuat. Untuk bahan pelajaran dalam hidupmu. Agar kesalahanmu itu tidak terulang kembali — tapi kamu tahu bahwa kesalahan-kesalahan yang lain sedang menunggu perintahmu.

Sebelum menyelesaikan tulisan ini, sebelum kamu beranjak pergi, izinkan saya untuk mengutip perkataan Malik bin Nabi sekali lagi:

“Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala, melintasi pulau, kota, dan desa, membangkitkan semangat atau meninabobokan manusia. Ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu — selain Tuhan — tidak akan mampu melepaskan diri darinya.

Waktu, ya, selamanya memang selalu begitu.[]

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Noor H. Dee’s story.