Candu atau Gincu?

; agama.

Perihal paling sensitif di negara ini yang apabila kita membicarakannya maka akan geger seisi negara ini. Agama. Menurut pandangan Marx, agama adalah candu yang dimanfaatkan oleh kelas penguasa untuk memberikan harapan palsu kepada kelas buruh.

Manusia itu bodoh, dangkal, dan punya banyak sekali kelemahan. Menurut saya hal- hal semacam itulah yang menjadikan agama sangat populer. Nietzsche pernah berkata bahwa tuhan harus mati agar manusia dapat bertanggungjawab atas perbuatannya sendiri. Menurut saya ini tepat dan konkret sekali. Sebab, moralitas yang didasari oleh agama itu sangat tidak bertanggungjawab.

Mengapa kita tidak membunuh orang lain? Karena agama menyuruh seperti itu. Salah, seharusnya jawabannya adalah karena setiap manusia mempunyai hak untuk hidup dan kita sebagai sesama manusia patut untuk menghargai dan menghormati. Klise? Memang dan tentu saja. Sebab etika seharusnya didasari oleh moralitas bukan doktrin agama. Barangkali menurut saya, agama ialah suatu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya dijawab menggunakan logika.

Tanpa menuhankan logika, bagi saya agama adalah gincu. Yang hanya dikenakan menuju pesta, atau untuk menarik perhatian orang lain. Maka, lepaskanlah gincu-gincu yang melekat dan mengakar di diri kita. Telanjanglah dalam bermoral, agar tidak perlu jadi pecandu kebodohan.