Kisah ini aku buat special untuk semua teman-teman yang bercita-cita menjadi dokter.

✿ DOKTER ✿

UNHAS atau UGM ? Polwan atau Kedokteran ? Hampir semua teman satu angkatanku masih bingung memilih landasan cita-citanya setelah lulus SMA. Dan aku percaya kasus ini juga terjadi pada ribuan siswa di sekolah lain. Setiap malam, aku selalu tidur di atas jam 12. Sekali salah langkah, semuanya akan berpengaruh besar pada masa depan.

Ayah melarangku jadi dokter. Tapi ibu mendukung. Sepupu melarang. Tapi tante mendukung. Di dalam lemari pakakain, aku menyimpan 33 jenis buku medis. Aku tak tahu, apakah benda itu bisa berguna atau tidak. Seperti tak ada gunanya aku selalu curhat kepada sahabat dan beberapa lapisan masyarakat. Semakin aku curhat tentang masalahku pada orang lain, aku semakin bingung menentukan jurusan universitas untuk masa depan.

Saat ini, jam 3:17. Sebentar lagi subuh. Aku insomnia lagi. Hampir tiap malam sejak bulan Februari ini. Tahun 2016 menjadi tahun yang sangat menantang bagi banyak orang. Kantong mata belum hilang sampai aku beranjak keluar dari rumah. Tiga tahun tak terasa di sekolah. Karena kita selalu mengulang kejadian yang hampir sama di kelas.

“Manusia diberi kebebasan mengisi kertas kosong dalam hidupnya. Sekalipun mereka terlahir buta, bisu dan tuli. Semuanya harus memiliki impian. Tak peduli besar atau kecilnya sebuah impian. Karena hal itulah yang membuat hidup mereka berharga.” Aku membaca dalam tenang, kalimat dorongan semangat yang ditulis sepenuh hati. Novel yang aku pegang ini memberiku sedikit kekuatan. Tapi aku kurang puas pada karya kak Jayadi. Tak ada karakter utama dalam novelnya yang berprofesi sebagai dokter.

Entah kenapa, aku selalu tersenyum saat membayangkan wajah penulis itu. Meski semua foto di facebook dan instagram kak Jayadi tak ada yang tersenyum. Cuaca pagi ini tidak seperti biasanya. Matahari tertutup awan. Langit seperti berkabut. Saat ini, aku berjalan melewati sebuah lorong BTN. Sangat sunyi.

“Melisa, kau tahu, lorong ini dipenuhi sarjana yang belum memiliki pekerjaan. Dan mayoritas dari mereka lulusan perguruan tinggi favorit.” Mendadak, nasehat ibu teringat. Nasehat itulah yang mengubahku. Ibu mengajari aku cara memandang setiap sudut kehidupan. Aku tak akan pernah membuang cita-citaku. Yakin sepenuh hati. Setiap hari memohon petunjuk pada Tuhan. Aku pasti bisa.

Di sekolah. Jam 8:30 pagi, kelas olahraga, latihan volli. Suara tepuk tangan terdengar meriah di sisi kiri. Aku dan teman-teman unggul lima poin dari lawan. Di Inggris, budaya tepuk tangan memberikan semangat bagi semua generasi muda. Tapi prinsip itu tak berlaku saat ini. Di luar dari logika, semua pakaian teman-temanku berubah. Aku berdiri di lapangan, menoleh ke segala arah. Semua teman-teman kelasku memakai seragam dokter yang penuh cepratan darah.

“Melisa…! Melisa….! Kau baik-baik saja?” Aku mendengar seseorang memanggil namaku. Semua yang kulihat saat ini sangat hampa. Semuanya berwarna putih. Dimana aku? Tubuhku terasa didorong ke kiri dan kanan. Perutku mual dan ingin muntah.

“Bangun…….!!!” Satu teriakan keras memberikan perubahan. Sekarang aku bisa melihat dengan jelas. Dari tadi aku tak sadarkan diri. Penuh rasa kasihan, beberapa teman kelas mengantarku ke ruangan UKS.

“Dia katanya ingin menjadi dokter. Dengan kondisi fisik dan mental seperti itu?”

“Dia hanya ingin jadi dokter karena paksaan orangtua. Terlebih lagi putih adalah warna favoritnya. Kasihan sekali.”

“Pekerjaan yang berhadapan dengan nyawa. Berhadapan dengan darah. Bayangkan, bagaimana jadinya kalau dia jadi dokter?”
 “Pasti semakin banyak pasien di desa ini mati dengan sia-sia. Aku tak mau mengikuti jejak dokter Randi.”

Perasaanku sangat sakit mendengar ejekan teman-teman kelas. Mereka bicara tanpa pertimbangan. Pandangan satu lapis, tanpa analisis, terburu-buru dan tidak modern. Aku harus bersabar. Di ruangan ini, aku ditemani oleh sahabat. Namanya Ningsih. Siswi cantik, memiliki suara merdu dan jago bahasa Inggris. Aku beruntung bisa menjadi sahabatnya.
 “Siapa itu dokter Rudi? Tadi teman-teman mengungkit orang itu di lapangan voli.”

Aku tak mau menghabiskan waktuku hanya untuk berbaring di ruangan ini. Pertanyaanku membuat Ningsih melamun sejenak.

“Dia adalah dokter muda yang meninggal dua tahun yang lalu. Beliau meninggal karena tekanan darah. Keluarga pasien komplikasi tak menerima kenyataan. Mereka menyalahkan kelalaian dokter atas kematian pasien itu.”

Sekarang aku sudah mengerti. Mengapa sahabatku ini melamun lima belas detik yang lalu. Baik itu orangtua pasien atau dokter, tak ada yang menjamin bahwa mereka memiliki level pengendalian diri yang baik. Tingkat kecemasan, daya tahan mental dan emosional. Semua hal itu bisa terguncang bila seseorang dalam puncak tekanan. Sekapun itu seorang dokter atau psikolog.

“Uhuukkk…..! Uhuuk…!” Retina Sahabatku, Ningsih berubah. Ia tak kuasa melihatku batuk keras. Bukan volume suara batuk yang membuat ekspresi Ningsih seperti penonton film horror. Jumlah darah yang keluar dari mulutku saat batuk. Itulah penyebabnya. Dalam sekejab, semua kulitku menjadi pucat.

“Aku merasa semakin jauh dengan cita-citaku. Tolong aku, orang penyakitan sepertiku mana bisa jadi dokter. Aku tak bisa menyembuhkan diriku sendiri. Tolong aku…” Aku menangis di pangkuan sahabat. Mungkin ia sudah bosan mendengar keluhanku. Tapi aku benar-benar tak kuat. Seandainya aku kuat, aku tak mungkin menangis di depannya.

Apa ini hari terakhirku menjadi siswa keras kepala dan kembali menuruti saran Ayah? “Aku sangat paham semangatmu. Tapi setiap orang memiliki batasan. Dokter adalah batasanmu. Beban seorang dokter sangat berat. Bukankah masih banyak jenis cita-cita yang bermanfaat selain dokter? Ini terakhir kalinya aku memberi nasehat.”

Aku tunduk melihat sepatuku. Ini adalah sepatu pemberian ayah di hari ulang tahunku. Nasehat menyakitkan ayah juga teringat. Aku tak mau melihat darah di telapak tanganku. Aku sangat takut kehilangan kekuatan. Sebuah kekuatan akan cita-cita yang aku pegang erat sejak kelas 1 SMP.

“Melisa….jangan takut melihat darah di telapak tanganmu.”

Bahuku tersentak. Tiba-tiba saja Ningsih memegang kedua pundakku. Tatapannya sangat tegas. Ia tersenyum dan berkata “Jangan pernah takut melihat darah di telapak tanganmu. Jiwa kepedulian yang kau miliki adalah pemberian Tuhan yang sangat berharga. Jiwa kepedulian itulah yang menuntunmu menjadi seorang dokter di masa depan. Kau akan menyembuhkan milyaran pasien. Tak hanya dengan metode medis, tapi juga dengan ketulusan hati. Doakan mereka, minta bantuan Tuhan. Itulah dokter sejati yang sebenarnya. Jangan menangis lagi. Calon dokter harus kuat.“

Sangat erat, aku memeluk sahabatku. Nasehatnya membuat air mataku semakin berlinang. Nasehat yang berasal dari suara hati. Sambil menyeka air mata, Aku akan bertanya beberapa pertanyaan lagi. 
 “Bagaimana dengan ayahku yang tak mendukung impianku? Katanya dokter penuh dengan tanggung jawab yang berat?”

“Semua pekerjaan memiliki resiko. Aku tak perlu banyak bicara. Presiden Jokowi awalnya hanya tukang kayu. Mentri Kelautan yang awalnya penjual udang. Generasi masa depan dipenuhi kekuatan di sekitarnya. Internet, fasilitas, teknologi. Lalu bagaimana dengan para pendahulu era 80? Kau masih beruntung tak didukung oleh ayahmu. Cita-cita para pendahulu kita tak didukung oleh dunianya sendiri. Tapi kesuksesan mereka terus dikenang sampai dunia ini berakhir. Sekali dokter tetap dokter. Jangan pernah mundur dari cita-citamu.”

Tak ada satupun kalimat motivasi yang aku lewatkan. Semakin mulut Ningsih bergerak, hatiku semakin hangat. Itu lebih dari sekedar kata-kata. Karena ada banyak orang di dunia ini yang berhasil membuktikan tekadnya. Kerja keras mereka terbayar. Benar sekali, Tuhan selalu melihat usaha kita. Dan masyarakat tak pernah berhenti menilai proses dari usaha kita. Sisa menghitung bulan, aku akan berpisah dengan sahabat, keluarga dan teman-teman. Tapi aku sangat bersyukur bisa berbagi dengan mereka selama tiga tahun.

Satu minggu kemudian. Aku selalu berdoa dan memohon petunjuk. Akhirnya aku memutuskan untuk mendaftar di fakultas kedokteran UNHAS. Waktu istirahat. Teman-teman berkumpul di depan kelas. Mereka berdiri kaku, melihat seorang siswa yang cedera. Lututnya terbentur batu saat lari menuju kantin. Aku dan Ningsih berlari mendekat. Teman-teman yang berkumpul di depan siswa cedera itu tak melakukan apa-apa.

Saat aku menolong siswa itu, teman-teman langsung menatap sinis. Mereka bubar seketika. “Tunggu….!” Spontan aku memanggil mereka dari belakang. Hatiku sangat gelisah. Lima teman kelas yang aku panggil tadi juga bercita-cita menjadi dokter. Lalu, mengapa mereka dengan mudahnya mengabaikan orang yang cedera?

“Untuk menjadi seorang dokter, hatimu harus tertutup. Jangan terlalu terbawa dengan perasaan. Dengan demikian, ketika kau gagal menyembuhkan pasien, kau akan terbebas dari tekanan batin. Akan terlihat lucu kalau seorang dokter juga ikut menangis bersama keluarga pasien yang meninggal.”

Aku terdiam ketika salah satu dari mereka melempar pandangan yang logis. Ningsih juga terdiam. Mulut teman-teman di depanku tersenyum sinis. Mereka yakin bahwa pendangan tadi absolut. Tapi aku punya jawaban untuk mereka.

“Bekerja tanpa perasaan dan meninggal penuh penyesalan. Kau dikatakan manusia karena memiliki perasaan. Kau dikatakan dokter karena memiliki ketulusan. Perlakukan semua pasien seperti keluarga. Apa kau lupa prinsip Bio-etika dalam ilmu kedokteran?”

Aku menasehati mereka sepenuh hati. Tapi, teman-teman tak mau mendengar. Aku melirik Ningsih. Anak itu menggeleng kepala. Tatapan matanya menyuruhku untuk bersabar. Aku percaya, suatu hari nanti, teman-teman akan mengerti makna dari nasehat itu.

Tiga hari kemuadian, hari minggu, aku menghabiskan waktu membaca novel Nigella. Di dekat jendela, aku membaca karya kak Jayadi sambil menikmati lemon teh. Rasanya sangat damai. Karena terlalu damai, dadaku terasa sangat sesak. Ada sinyal tertentu yang tak bisa dirjemahkan. Sinyal dari dalam hati. Saat aku ingin membaca paragraf berikutnya, ayah tiba-tiba saja datang menghampiriku.

Aku tahu, hari seperti ini akan tiba. Cepat atau lambat. Penuh tatapan geram, ayah memarahiku. Ia sangat marah karena aku memilih jurusan kedokteran. Entah itu efek suara atau tekanan mental. Aku kembali batuk-batuk. Dan seperti biasanya, disertai dengan darah kental keluar dari mulutku. Di jendela, aku sempat melihat sosok kucing hitam. Perlahan-lahan pandanganku kabur. Nigella jatuh ke lantai demikian juga dengan cangkir lemon teh. Aku masih bisa mendengar suara ayah memanggil namaku. Semuanya terlihat gelap. Perlahan, suara ayah mengecil sampai tak terdengar lagi. Aku tak menyalahkan Tuhan atas kematianku.

Hari itu, ayah Melisa berteriak kesal. Ia memeluk mayat putrinya penuh kasih. Penyesalan dan emosi yang membuat manusia bertindak di luar logika. Kini, ayah Melisa akan mengizinkan apapun permintaan putrinya jika ia masih bisa hidup. Tanpa terdengar bel pintu yang berdering, Ibu Melisa hanya bisa berdiri kaku. Wanita itu histeris melihat mata anaknya tak bisa terbuka lagi. Orangtua anak itu sangat terpukul. Mereka terlihat tak percaya dengan kondisi pahit yang menimpanya.

Tapi, rencana Tuhan tak bisa ditebak untuk semua manusia. Seperti halnya rencana penulis keren yang menulis kisah ini pada pembacanya. “Permisi….Ada orang?” Ayah dan Ibu Melisa terburu-buru menyeka air matanya. Mereka kedatangan tamu. Seorang tamu wanita yang membawa setangkai mawar putih. Ayah dan Ibu Melisa menghampiri tamu itu setelah menutup gorden ruangan utama.

Ayah Melisa terlihat bingung dan berkata “Maaf, ada perlu apa?” Tamu itu tersenyum dan berkata “Aku ingin bertemu dengan dokter Melisa. Ia berhasil menyelamatkan nyawa anakku. Aku ingin bertemu dengannya.”
 “Tapi tak ada dokter di rumah ini. Maaf Anda salah alamat.” Wajar kalau Ayah Melisa berkata seperti itu. Ia sedang dilanda kesedihan.

“Aku yakin di sini alamatnya. Ini, aku punya foto tentang dokter Melisa.” 
 Betapa terkejutnya Ayah dan Ibu anak itu setelah melihat foto yang ditunjukkan tamunya. Foto itu adalah foto Melisa, putri tunggalnya. Gadis cantik yang tersenyum dalam foto, senyuman khas, wajah oriental dan terlihat rapi.

“Mengapa Anda memanggil anak saya dengan sebutan dokter?” Ibu Melisa bertanya heran.

Tamu itu menjawab tulus. “Anak ini merawat anakku yang sedang terkena penyakit malaria. Ia meramu banyak obat dari daun-daunan dan tanaman langka. Ia menjaganya sampai suhu tubuhnya menurun. Anak ini selalu tersenyum dan menyanyikan lagu merdu saat kondisi pasiennya membaik. Melisa tahu menggunakan alat-alat medis dasar dan kebutuhan detail pasiennya. Aku tahu bahwa anak ini masih kelas 3 SMA. Tapi dalam pandanganku, anak ini adalah dokter sejati.”

Ayah dan Ibu Melisa hanya bisa melotot. Ia memang sempat curiga karena putrinya selalu pulang terlambat. Terkadang pulang antara jam 4 sampai jam 5 sore. Rupanya, Melisa menggunakan waktu luangnya untuk mengabdikan ilmu pada orang yang membutuhkan.

Perlahan-lahan, hal yang sulit dipercaya mengajari orangtua Melisa tentang hal penting dibalik rasa ikhlas. Bagaikan mimpi yang nyata, satu per satu orang-orang yang tak dikenal memenuhi halaman depan rumah Melisa. Semuanya membawa setangkai mawar putih. Ada sekitar 57 orang berkumpul di halaman depan. Mereka semua ingin berterima kasih kepada calon dokter cantik yang sudah pergi ke surga.

“Di mana dokter Melisa, dia telah menyembuhkan aku dari penyakit flu. Di mana dokter Melisa? Aku membawakannya banyak buah naga. Ia pernah menyembuhkan aku dari penyakit cacar.”

Puluhan orang di halaman depan, silih berganti berterima kasih. Ayah dan Ibu Melisa berpelukan dan menangis haru. Mata mereka bengkak dan suaranya tercekat. Ayah dan Ibu Melisa tak bisa berkata-kata lagi. Selama ini, Melisa selalu belajar keras secara diam-diam. Ia sangat menghormati Ayahnya. Tapi ia juga tak mau membuang impiannya. Selama ini, Melisa hanya belajar diam-diam.

Di dalam lemari pakaiannya, terdapat sekitar 33 jenis buku medis. Melisa tak pernah menunjukkan buku-buku medis itu pada orangtuanya. Meski harus pergi lebih dulu ke akhirat, hasil belajar keras Melisa memberikan bukti yang nyata di depan orangtuanya. Lebih dari seorang dokter, Melisa telah menjadi inspirasi dan legenda bagi banyak orang.

_____Tamat_____

Penulis by Jayadi Reiji 
 Story by Nigella 
 Sampul by enter10mentonly.blogspot.com

Special thanks to :

Ikatan dokter Indonesia

Like what you read? Give Novel Nigella a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.