NABILA

Kisah ini special aku buat untuk 
 semua orang yang memiliki sahabat sejati dalam hidupnya.

✿ NABILA ✿

UTS telah berakhir, waktunya bersantai bersama sahabat. Semua hal terasa menyenangkan jika dilakukan secara bersama-sama. Sudah empat hari aku sembuh dari penyakitku. Hanya penyakit kulit, seperti campak. Tapi itu sangat menyiksa. Ibu melarang aku menghirup udara ketika angin berhembus pelan. Katanya, angin yang berhembus biasa membawa penderitaan. Biasa juga berisi pesan kematian.

Saat ini, aku dan teman kelas berlibur untuk satu hari saja. Kami melewati perjalanan panjang. Mataku melirik spontan saat mobil melewati satu mesjid yang memiliki menara tinggi. Temboknya memiliki motif berlian, warna coklat muda campur coklat tua. Di menara itu, aku melihat seorang anak laki-laki. Ia memakai baju lengan panjang hitam. Kalau tak salah lihat, anak laki-laki itu menangis seorang diri.

“Apa yang membuatmu melamun?” Seorang gadis belia menegur dari samping. Mungkin itu hanya halusinasi. Waktunya berpikir positif.

Aku memiliki sahabat sejati. Itulah sebabnya aku jarang terkena stress. Sejak kelas enam SD sampai kelas tiga SMP, aku melewati banyak rasa bahagia dan kesedihan bersama Nabila Fianika. Anak bungsu dari lima bersaudara. Keluarganya orang terhormat di kawasan Sawitto. Banyak orang menilai bahwa kami seperti saudara kembar. Sampai hari ini, Nabila membuat aku dan teman kelas lainnya merasakan indahnya masa sebelum remaja.

Pantai Wakka sangat terkenal di kota Pinrang. Sajian sari laut seperti ikan dan udang bakar menjadi daya tarik di pantai itu. Semua pelaut di tempat ini membuat kami berhenti meremehkan sebuah pekerjaan yang sering dipandang rendah. Padahal, hasil tangkapan ikan dan udang membuat banyak orang tersenyum, seolah-olah melupakan semua beban hidupnya.

Pukul 8:09 AM. Awan tebal menutupi awan. Aku dan Nabila membuat istana pasir di pinggir laut. Sementara itu, teman-teman lainnya menghabiskan waktu berfoto dan menikmati layanan Banana-Boat.

“Febby, aku ingin bertanya, jawab ya?” Sekop kecil yang aku pegang berhenti bergerak.

“Kalau itu tentang matematika, fisika dan kimia, aku tak akan menjawab” Nabila tersenyum mendengar responku.

“Menurutmu, apakah kucing dan anjing bisa bersahabat?”

Pertanyaan Nabila sedikit ganjil. Pertanyaan itu mengingatkan aku pada gambar sampul novel Nigella. Anjing hitam dan kucing hitam saling berdampingan. Di bagian tengah, ada seorang gadis berambut pendek. Gadis itu duduk di kursi gotik desain Eropa era 1997. Aku benar-benar terbawa perasaan. Niatku sudah hilang membuat istana pasir.

Masalah buatan manusia dan masalah pemberian Tuhan. Seandainya aku bisa membedakan kedua hal tersebut, mungkin hidupku bisa lebih damai. Sudah tiga bulan sejak memasuki 2016, cuaca belum stabil. Dan aku bisa menyimpulkan bahwa, masalah yang sedang aku hadapi saat ini adalah masalah pemberian Tuhan.

Ratusan orang di belakang kami berteriak histeris. Mata mereka melotot dan menunjuk ke arah laut. Ombak besar datang dan menghanyutkan seorang gadis cantik, sekaligus sahabat terbaik dalam hidupku.

Tubuhku tak bisa bergerak. Semua telapak tanganku terasa dingin. Aku rasanya ingin menampar wajahku sendiri. Nabila tak bisa berteriak. Ia terlalu banyak menelan air laut. Tangan kirinya melambai-lambai meminta pertolongan. Perutku sakit dan terasa mual. Rasa takut yang menekan mental terlalu kuat. Rasa takut yang melebihi rasa takut akan kematianku sendiri.

Melihat teman baik mendekati kematian di depan matamu sendiri, ini sebuah kesialan yang tak bisa aku lupakan seumur hidup. Tubuhku belum bisa bergerak. Sampai akhirnya, ada seorang nelayan dengan kulit terbakar melompat ke dasar laut. Semua orang di pinggir laut berharap cemas. Tak ada yang tertawa dan bercanda. Bahkan musik di gubuk karaoke juga berhenti berbunyi.

Nelayan itu cukup berpengalaman menghadapi air laut. Ia membawa Nabila meski dengan kondisi tanda tanya. Mata teman baikku masih terpejam. Nelayan itu membaringkan Nabila di pinggir laut. Penuh rasa bersalah, aku menekan bagian dada Nabila. Tak lama kemudian, air laut mulai keluar dari mulut Nabila. Ia batuk-batuk dan perlahan membuka matanya.

Aku sangat bersyukur pada Tuhan. Tapi, aku tak bersyukur pada diriku sendiri. Dua tahun yang lalu, Ibuku meninggal terbawa ombak laut. Sejak saat itu, aku sangat trauma melihat ombak. Aku setia dan harus melawan perasaan. Karena Nabila sangat suka liburan di laut. Sejak kematian Ibuku, aku mulai serius belajar di PMR. Aku tak mau melihat orang terdekatku pergi ke akhirat hanya karena persoalan sepeleh.

“Nabila, maafkan aku.” Paru-paruku terasa menyempit. Aku sangat merasa bersalah. Padahal aku bisa berenang. Tapi tak bisa berbuat apa-apa selama Nabila terbawa ombak.

“Tak usah memikirkan hal itu. Sebaiknya kau mengambil pelajaran berharga dari kejadian buruk ini.” Suara Nabila terdengar serak. Ia kembali batuk-batuk dan bibirnya mulai pucat.

Aku tahu apa yang harusnya aku lakukan. Meski jawaban Nabila seperti itu, aku tetap merasa tak berguna sebagai seorang sahabat. Saat aku ingin beranya, Nabila tiba-tiba saja menatap mataku. Anak itu menghela napas dan berkata “Aku sudah tahu jawaban dari pertanyaanku. Anjing dan kucing tak pernah ditakdirkan bersahabat. Maaf telah merepotkanmu. Terima kasih telah setia bersamaku sampai saat ini. Terima kasih.”

Nabila memeluk aku. Ia menangis tersedu-sedu. Mungkin Nabila sedang membayangkan situasi saat tubuhnya terbawa ombak. Atau situasi saat ia belum siap menerima jemputan malaikat kematian. Aku paham perasan Nabila. Perasaan saat kita ditekan rasa takut, saat itulah manusia langsung ingin bertobat. Seperti saat aku bermimpi ayahku meninggal terbunuh. Meski dalam mimpi wajahnya tak terlihat, aku tetap merasakan ketakutan yang teramat sangat. Saat aku bangun dari mimpi, aku segera meminta maaf pada ayah.

Rasa takut akan kehilangan. Itulah yang membuat setan tak bisa menang berdebat dengan malaikat. Ketika manusia dilanda penyakit berat, saat itulah manusia memenuhi hatinya dengan janji-janji kebaikan. Mereka akan berjanji, jika bisa sembuh, 
 mereka akan pergi ke panti asuhan dan menyumbangkan sebagian kekayaan untuk anak yatim. Meski pada akhirnya setelah sembuh, banyak dari mereka yang tak berbuat apa-apa. Itulah tindakan yang akan memperpendek umur dan kebahagiaan.

Lima hari kemudian, hari Minggu, jam 7:01 AM. Nabila datang ke rumahku. Ia membawa bahan adonan dan bahan pelengkap yang berhubungan dengan kue. Hari ini, aku dan Nabila akan membuat kue Cherry pie. Kami sangat penasaran dengan kue itu. Nabila sangat suka membaca cerita detektif dan misteri thriller. Ia juga pecinta Nigella sama sepertiku. Kue cherry pie sangat berkesan dan memiliki daya tarik yang kuat. Kue itu memiliki cerita tersendiri dalam serial Nigella. Itulah sebabnya aku dan Nabila ingin membuatnya.

Saat ini, bel rumah berbunyi. “Silahkan masuk.” Spontan bibirku bergerak, padahal pintunya belum aku buka. Aku tersenyum tulus menyambut kedatangan Nabila. Entah kenapa, senyum tulusku hanya bisa bertahan empat detik. Nabila datang kemari tak seorang diri. Ada dua lelaki bertubuh kekar dan berkumis tebal di belakang gadis itu. Jantungku berdebar kencang. Tak lama kemudian, dua lelaki itu mengikat tangan Nabila. Mereka juga mengikat tanganku.

“ Hei….! Apa yang kalian lakukan…..!” Aku menggertak. Tapi, mereka sudah tahu tindakanku selanjutnya. Sebelum aku berteriak, mereka sudah menutup mulutku dengan selotip hitam.

Hal itu juga terjadi pada Nabila. Hari minggu yang suram. Dua pria bertubuh besar dan berkumis tebal, aku tak akan melupakan kalian. Dendamku tak bisa hilang. Meski aku tahu dendam ini tak bisa mengembalikan semua benda berharga yang mereka curi dari rumahku.

Aku dan Nabila seperti kupu-kupu yang sayapnya terpotong. Tak bisa melawan dan tak bisa berteriak. Dua pria itu tak hanya mengambil barang berharga, mereka juga membakar rumahku untuk menghilangkan tanda bukti. Api berkobar dan menjalar dengan cepat. Dua pria ini tak kasihan meninggalkan dua anak SMP yang belum bisa mencuci pakaiannya sendiri. Mereka tertawa sambil meninggalkan kami.

Berdiam diri dan meratapi nasib. Itu tindakan yang sangat bodoh. Ikatan di tanganku mulai longgar. Sangat susah melepaskan diri dari ikatan tali yang kuat. Aku harus rela merasakan sakitnya kulit yang terkena irisan tali. Tapi rasa sakit itu terbayar. Ikatanku lepas. Secepat mungkin, aku juga melepaskan tali yang melilit pergelangan tangan Nabila. Saat kondisi membaik, kami bergantian menyiram sebuah kursi yang masih dilalap api. Aku sedikit beruntung. Api di kursi ini hampir saja menyebabkan kebakaran besar.

“Pria brengsek, ayo kejar mereka…..!” Nabila terbawa emosi. Aku dan sahabatku bergegas mengejar dua orang pencuri yang tubuhnya empat kali lipat lebih besar dari tubuh kami. Akhir-akhir ini, memang sering terjadi tindakan kriminal, terutama di kawasan BTN tempatku tinggal. Menurut kabar, faktor utamanya adalah narkoba. Pecinta narkoba kehabisan uang membeli obat. Mereka melakukan tindakan kriminal demi menyambung kebahagiaan hidup. Kebahagiaan terbatas dan kebahagiaan sementara yang ujungnya hanya penyesalan.

Aku terbawa suasana. Saat ini, aku hanya berlari seorang diri. Aku terpisah dengan Nabila. Daritadi aku tak fokus. Aku sendiri tak tahu, apakah aku yang berlari terlalu kencang. Atau Nabila yang tak kuat berlari sehingga tertinggal olehku. Tak disangka, rencana awal membuat kue, berganti dengan kejar-kejaran yang tak ada gunanya. Tak ada lagi niat untuk berlari. Aku merelakan semua barang berharga yang diambil oleh dua orang pria yang tak tahu jalan hidupnya.

Hampir dua puluh menit aku berjalan. Di depan, terlihat seorang gadis cantik yang sedang menahan rasa lelah. Nabila terbaring lemah di belakang semak-semak. Aku tak jadi menyapa. Di samping Nabila, terlihat dua orang pria bertubuh kekar dan berkumis tebal. Tak salah lagi, mereka adalah perampok yang tadi. Nabila tersenyum dan memberi dua pria itu beberapa lembar uang merah. Nabila kembali tersenyum dan berkata “Kerja yang bagus. Aku sangat puas.”

Penghianat. Nabila penghianat. Aku sakit hati. Kenapa ia tega melakukan semua ini? Apa mungkin gara-gara tragedi di pantai Wakka beberapa hari yang lalu? Kepalaku sangat sakit. Yang jelas, Nabila sudah keterlaluan. Saat ini, anak itu tersenyum sinis menatapku. Aku tak mau menatap wajahnya lagi.

Penghianatan sahabat. Apa yang aku rasakan ini pernah terjadi dalam novel Nigella, tepatnya di bab empat. Di bab empat, menceritakan seorang anak yatim yang menyamar sebagai sahabat hanya untuk balas dendam. Balas dendam yang berujung pada pembunuhan. Meski itu tak separah yang aku rasakan. Tapi, tindakan Nabila telah membunuh perasanku.

Aku terus berlari sampai akhirnya aku tiba di menara mesjid. Menara dimana terakhir kalinya aku membagi kenangan bersama sahabat palsu. Aku beranjak naik ke puncak menara. Air mataku menetes di setiap anak tangga. Sampainya di puncak, aku menumpahkan semua kesedihanku. Aku jongkok dan menangis sepuasnya. Tak ada orang yang mendengar suaraku di menara ini. Padahal Nabila sangat baik padaku. Dialah orang pertama yang mengajariku banyak hal. Termasuk mengajariku mengendarai motor dan bersepeda.

Sejauh ini, kondisi keluarga Nabila baik-baik saja. Apakah sifat buruk itu dipengaruhi oleh teman-temannya di media sosial? Sifat seseorang biasanya berubah ketika ia pernah berpisah lama dan jarang berkomunikasi selama berbulan-bulan. Sifat seseorang juga bisa berubah ketika ia dilanda keberuntungan besar.

Seperti menjadi kaya atau terkenal. Tapi, semua teori itu tak berlaku pada Nabila. Lalu apa yang membuatnya seperti itu? Aku merasa tak tega melepas sebuah persahabatan yang aku jaga selama lima tahun. Di sisi lain, hatiku juga sudah terlanjur hancur. Ya Tuhan, kenapa kau mengirimkan sahabat terbaik jika ujung-ujungnya hanya seperti ini?

Kenapa Tuhan mengirim orang terkasih untuk kita jika ujung-ujungnya berkhianat? Memberi kita waktu dan kenangan yang begitu banyak tapi, akhirnya hancur karena sikap tak jujur. Aku tak kuat menahan air mataku. Siapapun tolong aku. Tempat ini terasa dingin.

Dari belakang, aku mendengar suara hentakan telapak kaki. Saat aku berbalik, air mataku berhenti menetes. Aku terkejut melihat kedatangan Nabila. Ia tersenyum setelah puas mencelakai aku bersama dua perampok bayaran itu.

“Harga diri dan sahabat sejati, itulah dua hal yang tak bisa kau tukar dengan uang. Saat kau terpukul, mohon jangan korbankan sahabatmu, jangan juga hancurkan harga dirimu. Jangan bohongi perasanmu. Betapa buruknya dirimu, betapa hitamnya tanganmu, pasti ada orang yang peduli dengan penderitaanmu. Pasti ada orang yang bisa mendengar teriakanmu.”

“Ibu bertahan dari rasa sakit dan penderitaan, itulah sebabnya kau dilahirkan di dunia ini. Jika Ibu tak bisa bertahan dari penderitaan, kau dan Ibumu sudah lama dipanggil Tuhan dan tak akan bisa tumbuh dewasa seperti sekarang. Maka dari itu, tolong jangan hancurkan hidupmu dan harapan orang yang telah melahirkanmu. Karena baik atau buruknya berbuatanmu saat ini, akan berdampak bagi kehidupan anak-anakmu di masa depan.”

Aku memberi nasehat sesuai suara hatiku. Tapi, Nabila hanya tertawa mendengar semua nasehat itu. Aku benar-benar sudah menyerah. Aku juga tak tahu, setan apa yang telah membekukan hatinya.

Sekarang, Nabila berhenti tertawa. Sorot matanya terlihat tajam. Ia berjalan mendekat. Matanya masih menatap tajam. Nabila menatap kuat dan berkata “Semua yang kau katakan ada benarnya. Tapi, jangan anggap aku sebagai pengahancur harga diri. Dengar sobat, aku sengaja menyewa body-guard itu hanya untuk menyelamatkan Ibumu dari jeratan utang.”

Aku dibuat terkejut oleh Nabila. Ia semakin pintar berbohong. “Sayang sekali, aku tak peracaya lagi padamu.” Setelah mendengar responku, Nabila kembali tersenyum. Ia mengeluarkan selembar kertas dari sakunya. Kertas itu berisi catatan lengkap, berbentuk angka dan nominalnya terbilang banyak. Urutan catatan itu mulai bulan Januari 2016 sampai awal Maret. Ini adalah catatan utang.

“Sekarang kau percaya? Ibumu mengambil alasan terburu-buru. Ia berkata pada penagih bahwa ‘aku akan melunasi utang dua bulan lagi karena rumahku sudah kemasukan perampok.’ Tentu saja penagih itu akan bertanya pada saksi mata, terutama tetangga di sekitar rumahmu. Itulah sebabnya aku sengaja melakukan rencana ini di pagi hari. Saat ini, penagih itu percaya bahwa rumahmu benar-benar sudah kemasukan perampok. Ibumu berterima kasih padaku karena bisa mengulur waktu melunasi utang.”

“Jangan pandang aku seperti sahabat palsu yang ada dalam serial Nigella. Sekali sahabat, tetap sahabat. Kenangan manis sangat sulit dibuat dan memulai dari NOL adalah tindakan yang sangat bodoh.” Astaga. Nabila rupanya sengaja merencanakan semua itu demi kebaikan Ibuku. Ia sangat perhatian. Bahkan aku sendiri tak tahu bahwa Ibuku sedang dilanda utang. Penuh rasa senang, Nabila membuang kertas catatan utang itu. Ia memeluk tubuhku dengan erat.

Aku sangat senang. Rasanya sesuatu yang hilang dalam hatiku telah kembali.

“Menghianati sahabat, berarti membuang hadiah terbaik dari Tuhan. Iri hati menjauhkan seseorang dari sahabat. Orang yang hidup bersama iri hati hanya bisa mendapatkan teman kerja, bukan sahabat. Teman kerja yang hanya datang saat kita tersenyum dan pergi saat kita menangis.”

Saat mataku terpejam, terdengar nasehat yang memaksa mataku berkedip. Aku membuka mata dan melihat sosok anak laki-laki berjalan mendekati kami. Mendadak Nabila teriak histeris dan berkata “Penulis Nigella……! Kau kak Jayadi kan?” Banyak sekali kejutan yang terjadi hari ini. Hari yang mendebarkan sekaligus hari yang tak terlupakan seumur hidupku.

Di depan kami, kak Jayadi berdiri kaku. Ia mengenakan baju lengan panjang hitam. Ia juga membawa selembar kertas. Astaga, aku baru ingat. Ternyata anak laki-laki yang aku lihat di menara, saat perjalanan ke pantai Wakka, ternyata itu kak Jayadi. Sudah lama aku ingin bertanya padanya. Selama ini, aku hanya dibuat kagum lewat karya-karyanya di facebook dan instagram.

“Apa yang kakak lakukan di tempat ini?”

“Aku suka menyendiri dan menara mesjid tempat yang baik untuk hal itu.”

“Kebiasaan yang aneh. Lalu itu kertas apa?”

“Ini kertas yang berisi naskah novel Nigella. Terutama pada bagian penghianatan sahabat palsu di bab empat.”

“Untuk apa?”

“Aku tak suka menulis kondisi hidup tanpa tahu perasaan semua karakter novelku yang sebenarnya. Aku latihan dengan naskah ini untuk mengetahui, betapa sakitnya jika dikhianati sahabat. Tapi, aku belajar banyak pada kondisi persahabatan kalian. Kau dan Nabila bisa menyamai persahabatan sejati Edgar dan Lambert. Aku tak menyangka kondisi dalam novelku bisa terjadi di dunia nyata. Apa lagi itu terjadi di persahabatan siswa SMP. Sangat menakjubkan.”

“Kau penulis yang paling keren. Aku tak tahu harus melakukan apa saat bermain facebook. Semua yang kau upload adalah sesuatu yang tak bisa dilakukan kebanyakan penulis pada umumnya. Aku dan Nabila mendapat banyak motivasi dengan semua postinganmu selama ini. Kami sangat berterima kasih.”

Wajah kak Jayadi terlihat merah mendengar pujianku. Aku dan Nabila tertawa riang. Hari yang sangat menyenangkan. Awalnya aku kira kisah ini berakhir dengan sedih. Sampai kapanpun, aku tak akan pernah mengkhianati sahabatku. Terima kasih banyak atas semua hal baik yang terjadi hari ini. Terima kasih banyak Tuhan.

_____TAMAT_____

Author by Jayadi Reiji 
 Story by NIGELLA 
 Cover by http://store.kaycrain.com

‪#‎Nigella‬ ‪#‎special_novel‬

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Novel Nigella’s story.