✿ UJUAN SEKOLAH ✿

Sebentar lagi, aku akan LDR dengan orangtua dan orang tercinta. Ada orang menjadi pengusaha sukses meski ikut ujian paket C. Ada juga menjadi pemimpin Negara meski hanya tamatan SMP. Ada yang berhasil menyebrangi samudra luas meski berenang tanpa kaki. Ada juga siswa yang mendapat penghargaan prestasi dari presiden, meski tak bisa berbicara, melihat dan mendengar. Beberapa program di Trans 7 membuktikan pada kita bahwa dunia ini sangatlah luas. Oleh karena itu, batin dan mata harus tetap terbuka. Sekali-kali bercermin, berpikir di luar kotak dan melihat di luar jendela.

Sebentar lagi ujian akhir sekolah. Tapi bukan itu yang membuat perasaan berdebar. Di masa depan, adakah kontribusi special yang bisa aku berikan? Apakah bakat pemberian Tuhan bisa membuat hidupku lebih damai? Berapa besar pengaruh positif yang bisa aku ciptakan di masyarakat? Hal-hal yang aku sebutkan tadi, itulah yang membuatku berdebar. Aku ingin menjadi dokter hewan profesional. Aku tak sanggup melihat ratusan unggas dibiarkan mati begitu saja dengan penyakitnya.

Di kampunngku, Suppa, kabupaten Pinrang, aku pernah menyaksikan kejadian yang menyayat hati. Ada peternak tak memberi makan sekitar 430 ekor ayam. Semua tubuh ayam itu kurus karena penyakit aneh. Mati perlahan dan membusuk. Jumlah hewan dan barang yang langka, akan mempengaruhi harga dan permintaan konsumen. Hal ini akan merdampak pada usaha mikro dan lapangan kerja swasta.

Ratusan hewan lindung meninggal karena racun dan senjata biologi. Kehadiran hewan di dunia ini sebagai pencipta harmoni dalam hidup. Maskot-maskot piala dunia menggunakan boneka hewan, demikian pula beberapa lambing klub olahraga. Sayang sekali, pemikiran orang awam tak tak bisa menjangkau hal-hal detail di balik profesi dokter hewan.

Aku masih menikmati kursi dan suasana dalam perpustakaan. Bersama adikku yang manja, kami menyiapkan apa yang seharusnya disiapkan oleh pelajar kelas tiga SMA. Tak cukup satu menit, keheningan dalam ruangan ini menghilang. Buku biologi yang ingin aku gapai jatuh ke lantai. Hal itu juga membuat buku-buku lainnya berhamburan ke lantai.

Tatapan tajam petugas perpustakaan menjadi isyarat bagiku untuk segera bertindak. Aku merapikan semuanya namun harus mengambil jeda. Di antara banyaknya buku yang jatuh, hanya ada satu yang terbuka. Aku terkejut. Mataku sulit berkedip. Tepat di halaman tengah buku ini tertulis “Bahaya virus herpes zoster.”

“Ada apa?” Adikku menegur. Aku dari tadi berdiri kaku. Tanpa merespon lebih lanjut, aku berusaha melupakan kejadian tadi. Lagi pula, semua data dan ilmu medis tentang hewan sudah memenuhi lembaran tengah buku catatanku. Dan yang paling penting, sorot mata tajam penjaga perpus itu telah lenyap.

Waktu pulang, jam 2:10 Siang hari. Bahkan sampai bulan Maret hujan belum turun. Kebiasaanku meminum delapan gelas air putih meningkat sejak Februari. Kami pulang mengendarai motor. Aku membonceng adikku pergi dan pulang ke sekolah. Kami mulai melewati pertigaan. Ada banyak kafe kecil di sekitarnya. Interior tradisional dan modern. Semuanya melambangkan ciri khas kota kami, Pinrang.

“Kak, aku ingin bertanya,”

“Jangan berbelit-belit. Langsung saja.”

“Kenapa patung pahlawan Lasinrang modelnya menunjuk?”

“Aku juga tak begitu tahu. Tapi, kak Jayadi pernah berkata, di ujung telunjuk patung Lasinrang tersimpan kode atas semua peninggalan leluhur masyarakat Pinrang. Kode itu berbentuk huruf Lontara dan melekat di dalam jari telunjuk patung itu.”

“Siapa itu kak Jayadi?”

“Bukan siapa-siapa.”

“Pertanyaanku yang tadi belum kamu jawab.”

Aku terdiam mendengar pertanyaan aneh dari adikku. Di hari-hari sebelumnya, ia selalu bertanya tentang grup band favorit atau hal yang berkaitan dengan kebiasaan unik guru yang mengajar di kelas. Kebiasan yang ganjil. Aku harus bersikap tenang.

“Gaya menunjuk patung Lasinrang mengingatkan kita agar tegas menghadapi ujian hidup. Karena semakin tua bumi, semakin banyak pula tantangan di dalamnya. Hukum yang ada dalam kitab suci dan hukum Negara. Keduanya akan terus membimbing sampai kita berpindah tempat. Tempat kacau atau tempat damai. Selama belum melalui ujian hidup, kita tak akan tahu tempat kita yang sebenarnya.”

Entah apa yang merasuki tubuhku. Aku melontarkan bahasa batin ke dalam bahasa lisan. Ada firasat buruk yang menekan jantungku. Bertubi-tubi, terdengar bunyi bel sekolah. Sangat nyaring dari kedua telingaku. Apa yang terjadi? Aku tak mau menjawabnya. Bagaimana bisa bel sekolah bisa terdengar di jalan raya? Situasi sudah menjawab pertanyaan itu.

Bunyi bel sekolah yang aku dengar, berganti dengan bunyi klakson mobil. Tanpa berteriak, adikku terlempar sejauh setengah meter. Kaki kanannya patah. Sedangkan aku baik-baik saja. Motor kami rusak total. Lampu depannya hancur dan masih banyak lagi bagian yang rusak parah. Ludah yang aku telan terasa pahit. Kejadian buruk ini terjadi begitu saja. Tak ada tanda, tak ada peringatan dari Tuhan.

Aku berlutut. Mataku perih. Adikku yang manja tak bisa bergerak. Matanya tertutup dan dikerumuni orang-orang yang tenggelam dalam rasa panik. Tiga belas hari berlalu. Adikku dirawat di rumah sakit. Besok, ujian akhir sekolah akan dimulai. Selama adikku dirawat di rumah sakit, berat badanku turun. Aku juga sering mendapat mimpi aneh.

Saat ini, aku membuka kembali potongan kertas pemberian kak Jayadi. Ia pernah mengajar di sekolahku tiga bulan yang lalu. Potongan berisi pesan yang bertuliskan “Di masa depan, jadilah dokter hewan yang dihormati.” Aku selalu menyimpan potongan kertas ini di tengah buku binder-ku.

Waktu tak terasa berlalu. Besok, ujian akhir sekolah akan dimulai. Sore hari ini, aku menjaga adikku di rumah sakit. Semua bunga pemberian teman kelas sengaja aku singkirkan. Bunga-bunga itu akan membawa sial. Kehadirannya seolah-olah menandakan bahwa adikku akan segera pergi ke surga. Sekitar jam 2:30, aku selalu ke rumah sakit umum. Jarak antara jantung kota dan desa Suppa lumayan jauh. Cuaca sore ini sangat cerah. Semoga itu pertanda baik bagiku.

Untuk mengisi waktu, aku menyeduh secangkir teh melati sambil membaca sebuah novel karya penulis kota kelahiranku, Pinrang. Tepat di bab tiga, cerita dalam novel ini berkaitan dengan situasi hidupku. Di bab tiga novel Nigella, menceritakan seorang anak autis yang mendapat nilai A+ dalam ujian biologi. Anak autis itu sengaja tak menulis nama dan identitasnya di kertas ujian. Saat ia ditanya sahabatnya, mengapa kau tak mengisi nama dan identitasmu dalam kertas ujian? Anak autis itu tersenyum dan menjawab

“Ini bukan kertas ujian tapi kertas ulangan. Ini sama sekali tak menguji. Hasil dalam kertas ulangan ini hanya mewakili sepuluh persen dari isi otak kita. Ujian yang sebenarnya akan dimulai setelah kita lulus dari bangku kuliah.” Novel yang menarik. Kak Jayadi sangat cerdas menghadirkan sosok anak autis yang bisa mengubah paradigma masyarakat awam. Padahal aku sudah membacanya sebanyak empat kali. Tapi aku tak pernah bosan menyimak kisah menarik dalam novel Nigella.

Semakin aku membaca novel ini, pikiranku semakin terbuka. Aku merasa seperti ada sesuatu yang meluruskan jalanku. Aku merasa semakin dekat dengan cita-citaku. Inilah sebabnya aku tak pernah berhenti merasa kagum dengan semua karya kak Jayadi. Ia menghadirkan misteri dan secara tak sengaja membiarkan pembaca untuk memecahkannya.

Misteri yang aku pecahkan dalam novel Nigella bab 3 yaitu, tingkat kepuasan batin yang dirasakan saat ulangan sekolah akan berbeda ketika dijalani dengan kejujuran. Itulah sebabnya, ada siswa yang malu menunjukkan nilai sempurna mereka pada orangtua. Karena hati mereka tak bisa berbohong. Bahwa, nilai sempurna itu sebenarnya tak pantas 
 untuk dirinya. Tulang terus tumbuh tapi hati dan otak menyusut.

Saat lulus ujian, banyak siswa tertawa tapi hatinya tidak tertawa. Seperti pemain game yang menyelesaikan game dengan password. Jika tangan tidak kotor saat ujian, permainan bisa saja berakhir. Tapi kehidupan akan terus berlanjut. Dan kehidupan lebih penting daripada permainan. Itulah yang aku rasakan. Dulu, belum ada penulis yang menuntunku seperti ini.

Awalnya, aku sendiri tak percaya. Bagaimana bisa sebuah novel mampu membantuku menemukan jati diriku yang sebenarnya. Karya kak Jayadi sangat dekat dengan selera siswa, demikian pula dengan masalah yang dihadapi generasi muda. Setiap melakukan ibadah, aku selalu mendoakan kak Jayadi. Orang seperti dia harus hidup lebih lama, agar bisa mewarnai hari-hari generasi muda yang gelap.

Esok harinya. Pukul 5:50 AM. Embun pagi sangat cantik. Embun itu membuat jendela rumah sakit basah dan lembab. Adikku terpaksa mengisi kertas ulangan akhir sekolah di rumah sakit. Sebentar lagi aku harus bersiap-siap. Namun, perlahan gerakanku melambat. Aku melihat sosok kucing hitam di jendela. Kucing hitam pertanda buruk dalam novel karya kak Jayadi. Kucing itu terus melihatku. Matanya tak berkedip.

Meski aku usir, hewan itu tetap tak mau pergi. Bahkan tubuhnya tak bergerak sedikit pun. Firasat buruk menekan paru-paru. Aku melirik wajah adikku. Ia juga melirik wajahku. Adiku menghela napas dan berkata “Kak, banyak sekali bercak-bercak merah di wajahmu. Kakak baik-baik saja?”

Aku sangat tertekan mendengar respon adikku. Terburu-buru, aku segera bercermin. Suasana hati berubah dalam sekejab. Aku terkena penyakit cacar air. Bercak-bercak merah di seluruh tubuhku berisi air dan darah. Aku merinding melihat diriku sendiri. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? “Kakak jangan memaksakan diri. Aku akan telfon wali kelas untuk meminta tambahan soal ke rumah sakit ini.”

Virus cacar air disebut dengan istilah herpes zoster. Jenis virus tingkat sedang namun bisa menular dengan cepat. Aku tak punya banyak waktu. Teman kelas pasti akan terganggu dengan penyakitku ini. Jadi aku menyiapkan masker sesuai dengan jumlah teman kelasku. Mata adikku terlihat sayup melihatku meninggalkan rumah sakit dengan kondisi tak normal.

“Dalam sekolah, kita tak harus dituntut menguasai semua mata pelajaran. Asalkan punya pengetahuan dasar tentang mata pelajaran tersebut, itu sudah masuk titik aman. Ulangan hanya memicu kreatifitas siswa untuk menyontek. Mereka hanya terpaksa mengerjakan LKS dan mengikuti ulangan. Jadi jangan heran jika selesai ulangan, kebanyakan ilmu yang mereka sudah hafal kembali terlupakan. Bahkan hilang sama sekali dalam ingatan.”

“Sebagai siswa, kita dituntut menemukan sisi special dalam diri kita. Apa sebenarnya bakat kita dan apa tujuan hidup kita lima tahun kedepan. Kesehatan kakak jauh lebih penting. Lebih baik ulangan bersamaku di rumah sakit ini. Wali kelas pasti memberi kebijakan. Itu adalah penyakit menular. Kakak hanya akan memperburuk mental teman-teman dan guru yang mengawas di ruangan.”

Aku terkejut mendengar analisis adikku. Sejak kapan ia bisa berpikiran setajam itu? Gara-gara perkataan adikku, aku kembali bimbang. Tapi, bukan berarti aku tak memiliki jawaban. Orang yang suka bimbang hanya orang lemah terhadap tujuan hidupnya.

“Putri, ayo ikut ujian bersama-sama. Tapi aku tak butuh masker.” Di tengah perjalanan, terdengar banyak suara di telinga kanan dan kiriku. Suara-suara itu memanggil namaku. Itu adalah suara teman-teman kelasku. Aku harus tegas. Nekat ke sekolah dengan tubuh yang penuh bercak merah. Semakin lama, bercak cacar air ini semakin bertambah. Aku menjumpai satu ekor anjing di tengah jalan. Hewan itu lari terburu-buru. Bahkan seekor anjing terlihat takut melihat tubuhku.

Sampainya di sekolah, aku membuka ransel dan menyiapkan 35 masker untuk teman-teman kelasku. Tapi, sampainya di depan pintu, aku memasukkan kembali semua masker ini ke dalam ransel. Tangan kananku bergerak sendiri dan menutup mulut. Betapa terkejutnya aku melihat situasi dalam kelas.

Bayangkan, semua teman kelasku memakai masker. Tubuh mereka juga dipenuhi bercak darah bahkan lebih parah dariku. Semua tubuh teman-teman kelasku terlihat seperti monster. Tangan, pipi dan lehernya penuh dengan bercak merah. Berisi air dan tak sedap dipandang. 
 Ikatan batin teman-teman kelas terhubung padaku. Hal itulah yang membuat mereka memaksakan diri ke tempat ini. Mungkin, inilah hadiah atas persatuan kelas yang selalu dijaga.

Misteri terpecahkan, meski waktunya terlambat. Buku biologi yang jatuh mendadak, tepat beberapa hari yang lalu di perpustakaan. Hanya ada satu buku yang terbuka dan memiliki tulisan herpes zoster. Rupanya pesan itu ditujukan padaku. Seandainya aku tetap tinggal di rumah sakit, aku tak akan menemukan kepingan misteri ini.

“Ada apa dengan wajahmu?”
 Ketua kelas menegurku. Tak lama kemudian, semua teman kelas berdiri. Mereka melepas maskernya dan tersenyum tulus padaku.

“Tak perlu stress. Jika kita bertahan dengan penyakit ini, berarti kita telah melewati ujian terbaik dari Tuhan. Di bangku kuliah, dan di masa kerja, akan ada ujian yang lebih berat dari ujian yang ada di sekolah. Kami paham bahwa menyontek tak bisa dipungkiri. Tapi hati telah berjanji, dosa di bangku sekolah tak akan kami ulangi di bangku kerja. Kualitas rendah saat belajar akan merugikan diri sendiri. Kualitas rendah dalam bekerja akan merugikan hidup orang banyak.”

“Mari bergegas membayar pengorbanan guru dan orangtua. Sebelum lulus, kita harus berjanji sepenuh hati, di masa depan, kita harus menjadi alumni yang akan membawa berita gembira bagi sekolah dan keluarga. Biarkan hati nurani yang menilai hasil ulangan ini.”

Mataku terpejam. Tubuhku merinding mendengar suara hati teman-teman. Aku hanya bisa tersenyum. Mulutku tak bergerak. Karena kalau mulutku bergerak, air mataku juga akan berlinang. “Siapa yang merubah pola pikir kalian?” Aku tak sengaja bertanya pada ketua kelasku. Tak lama kemudian, ketua kelasku tersenyum dan berkata “Bukan hanya kau yang mendapat dorongan semangat dari kak Jayadi. Kami semua adalah mantan muridnya dan semangat penulis itu sudah masuk dalam darah kami.”

Saat ini, aku merasakan atmosfer yang sangat hangat. Aku merasa diriku lebih keren dari yang kemarin. Semua teman kelas tersenyum padaku sambil mengeluarkan potongan kertas dari saku bajunya. Semua potongan kertas itu berisi pesan semangat dari seorang penulis novel misteri. Kenapa kak Jayadi begitu perhatian pada kami? Padahal kami selalu ribut dan tak serius memperhatikan saat ia mengajar di kelas.

Pagi itu, aku menjawab soal ulangan tanpa beban. Demikian pula dengan teman-teman. Padahal jika seseorang terkena cacar air, tubuhnya akan lemas dan gatal. Tapi, aku dan teman-teman tak merasakan apa-apa. 
 Kami menjawab soal sambil membayangkan semua kesalahan selama menempuh pendidikan di sekolah ini.

Begitu banyaknya waktu luang yang terbuang. Begitu banyaknya kejadian yang sama terulang tiap hari. Begitu banyaknya kesempatan yang dibuang karena rasa takut. Begitu banyaknya teman kelas yang sakit-sakitan karena sifat manja. Dan begitu banyaknya uang yang orangtua keluarkan selama tiga tahun.

Setelah lulus nanti, apakah teman kelasku yang baru bisa seperti teman kelasku yang sekarang? Begitu banyaknya pertanyaan dalam benak. Sehingga rasa sakit cacar air dalam tubuh tak terasa. Entah kenapa, tiba-tiba saja sinar matahari sangat cerah. Sinarnya menembus jendela dan mengenai kertas ulangan kami.

Potongan kertas dan alat tulis di mejaku terlihat bercahaya. Indah sekali. Mataku terpejam. Dalam hati aku berdoa, aku akan melakukan yang terbaik bagi orangtua dan orang-orang yang mendukungku sejauh ini. Aku membayangkan diriku memakai seragam dokter hewan dan dikelilingi pasien yang tersenyum manis. Selalu berdoa dan berusaha keras. Masa depan itu, pasti bisa aku raih. Karena aku adalah generasi terbaik Negara ini.

_____TAMAT_____

Semangat menemupuh ulangan, semua generasi terbaik bangsa. Salam manis, Jayadi.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.