Sempat aku menganggap sikap gigih dan terus terangnya itu menjijikan. Berkali terlintas dikepalaku, “bukan begini caranya mendekati perempuan” setiap aku menerima pesan singkat berisi pernyataan yang super jelas menyiratkan rasa sukanya padaku itu. Lalu aku membatin, “mengapa sih tak menyerah saja.”
Sebab aku sudah memberitahunya berkali-kali. Bahwa kami sudah selesai dan tidak akan pernah mulai lagi. Kegigihannya itu kemudian membuatku muak dan berubah jadi nenek sihir jahat yang tidak berhenti mengutukinya.
“Lagi apa? Ganggu enggak?”
“Ganggu.”
“Ya kan enggak ada yang tau. Bisa jadi kamu jodoh sama aku.”
“Justru karena enggak ada yang tau. Bisa jadi juga aku enggak jodoh sama kamu.”
“Vi..”
(read)
Hal yang lebih parah adalah meski setelah semua yang aku lakukan padanya, dia tetap bersikap baik padaku seakan-akan perbuatanku tidak menyakiti hatinya; yang kemudian membuatku semakin merasa menjadi perempuan kejam tanpa tata krama.
Saat itu aku tidak tahu betapa mewahnya sikap terus terang dan kegigihan yang dibangun dari kumpulan beratus keberanian — yang bisa jadi super sulit dan membutuhkan banyak pengorbanan.
Dan hanya karena aku tidak mau lagi memulai apa-apa dengan dia, tidak seharusnya aku mengecilkan semua usahanya.
Semakin aku pikirkan, semakin terbayang rasa susah dan gelisahnya percobaan untuk berterus terang yang pantang menyerah itu. Aku bahkan tidak punya cukup keberanian untuk sekadar minta maaf langsung padanya akan sikap kekanakanku dulu. Meski aku telah sadar bahwa aku pantas dihukum.
“Dan yang lebih parah dari orang yang tidak menyadari kesalahan mereka adalah mereka yang sadar tapi tidak meminta maaf”
Dalam konteks hubungan asmara kami, aku tidak menyesali apa-apa. Aku tidak ingin menyesali apa-apa. Toh kalaupun sekarang — setelah aku menyadari betapa jahatnya aku — jika dia memintaku untuk mulai lagi dengannya, jawabanku akan tetap sama; tidak.
Yang aku sesali adalah sikap tidak dewasa, egois dan jahatku padanya — yang kini membuatku malu.
Malu karena selama ini sepertinya aku menilai diriku terlalu tinggi.
Setelah semua ini, aku justru jadi iri pada sikap terus terangnya, yang super berani menyatakan apa yang ingin ia nyatakan. Karena perasaan cintaku selalu hanya sampai di ujung bibir atau ujung jempol tanpa sempat disampaikan.
Tapi aku lega. Setidaknya sekarang dia sudah menemukan perempuan yang (mungkin) baik untuknya— dan pastinya lebih baik dariku. Kuharap dia menantikan permintaan maaf dariku. Aku sedang berusaha mengumpulkan keberanian mengucapkannya.
Berbahagialah kamu. Karena aku juga akan berbahagia — setelah terima karma tentunya.
