Start Up Class Cubic 2017 : Tiga Bulan Menuju Akselerasi Bisnismu!

Alih-alih bekerja di perusahaan besar, memulai startup bagi sebagian orang bisa menjadi pilihan yang menantang sekaligus menggiurkan. Namun, yakinkah bisnismu bisa bertahan? Cari tahu caranya di sini.

Perusahaan rintisan alias startup selama beberapa tahun belakangan mulai banyak digeluti berbagai kalangan, terutama para dewasa muda. Hingga 2016, Indonesia tercatat memiliki 2000 jumlah startup — tertinggi di Asia Tenggara — dan jumlah ini diprediksi akan terus bertambah berkali-kali lipat pada 2020 nanti(*). Meski di atas kertas angka tersebut nampak menjanjikan, kenyataan di lapangan belum tentu demikian.

“Seringkali orang belum punya planning tentang bagaimana cara dia memiliki produk jadi, bagaimana bisa mencapai revenue sekian, bagaimana caranya dapat investment, atau hingga menguasai pasar. Masalah bagaimana ini banyak yang belum ada perencanaannya,” ungkap Faris Sundara Putra, CEO salah satu bisnis inkubator basis Bandung, Cubic.Inc.

Faris mendirikan Cubic sejak tiga tahun lalu bersama rekan-rekannya semasa menempuh studi di Master of Business Administration (MBA) ITB. Fokusnya adalah membangun ekosistem bisnis dan kolaborasi bagi para pemula startup untuk merencanakan dan mengembangkan bisnisnya agar dapat survive.

Faris (paling kanan) bersama tim Cubic

Berbekal pengalaman membina sejumlah startup tersebut, ia mengamati kecenderungan yang kerap ditemukan pada perintis startup tahap awal. Banyak di antara para pelaku bisnis yang belum memiliki kesiapan untuk bertemu dengan para calon investor.

“Pada saat inkubasi, banyak peserta yang ternyata belum siap. Padahal, di tahap ini para peserta akan dilatih membangun tim dan produk untuk di-escalate sampai tahap bertemu investor,” jelasnya.

Fenomena ini kemudian menggerakan ia dan tim Cubic untuk membentuk kelas bagi para pemula, satu tahap sebelum memulai inkubasi binisnis, untuk mempelajari bersama hal-hal dasar dan esensial seputar meluncurkan start-up.

Dilakukan dalam tiga bulan, Start Up Class ini serupa ‘batu pijakan’ yang akan mengantar pesertanya untuk mampu melangkah lebih jauh mengembangkan bisnis masing-masing.

“Start-up class ini adalah kelas pra-inkubasi, kelas bagi yang masih bingung perihal start-up tapi ingin tahu lebih banyak, desain start-up yang dia buat selama ini belum benar, belum ada investment, atau belum ada produknya,” jelas Faris.

Merencanakan Produk hingga Pendanaan

Tahun ini adalah kali pertama Start-Up Class diselenggarakan, dan akan menampung hingga 20 peserta. Peserta dapat mendaftar secara perorangan maupun tim. Selama 12 minggu, masing-masing orang akan mendapat pelatihan dan pendampingan mulai dari tahap penggodokan ide hingga perencanaan proses pencarian investor.

“Silabusnya mencakup menyiapkan tim, menyiapkan ide yang akan dieksekusi, merancang business product, membangun network, dan kami menyiapkan keuangannya,” terangnya.

Tidak hanya melalui penyampaian materi di kelas, sejumlah proses belajar juga dikemas dalam kegiatan praktik terjun langsung ke lapangan. Tiap orang akan menerima penugasan mingguan dengan evaluasi secara berkala guna meningkatkan performance masing-masing hingga menenuhi target yang direncanakan.

“Akan ada challenge mulai dari pertemuan kedua atau ketiga, dan akan dievaluasi,” jelasnya.

Sejumlah pelaku startup kota Bandung juga akan didaulat mengisi materi kelas sebagai trainer yang akan berbagi ilmu spesifik kepada peserta.

“Bukan hanya tentang menciptakan produk, tetapi soal bagaimana kita membuat bisnis itu sendiri yang akan diajarkan di Start Up Class. Metode kita lebih banyak ke arah training dan akan mendatangkan pihak lain untuk bergabung dan berkolaborasi mengisi materi,” jelasnya.

Seluruh materi yang diberikan akan berjalan secara intensif selama dua bulan, semetara satu bulan sisanya digunakan untuk learning by doing.

Bahkan, bila benar-benar telah dianggap siap dan sangat potensial, tidak menutup kemungkinan peserta mendapat kesempatan untuk memperoleh pendanaan.

Siapa yang Bisa Bergabung?

Faris meyakini adanya matriks yang dapat menjadi gambaran apakah seseorang atau sebuah tim sudah memiliki modal dan kemamuan untuk mengembangkan startup nya atau belum.

Matriks tersebut terdiri dari lima poin mencakup time, team, idea solution, business model, dan finance.

Ketersediaan network, support, dan knowledge perihal bisnis yang dijalankan adalah bagian dari poin time. Sementara, seberapa cocok dan seberapa baik kerjasama antar tim di dalam startup yang bersangkutan itu berjalan, termasuk apakah setiap pos SDM yang diperlukan telah terisi atau belum adalah termasuk bagian dari poin team.

Sebuah start-up idealnya merupakan perusahaan rintisan skala kecil berbasis inovasi, tumbuh dengan cepat serta memiliki manfaat yang mampu memecahkan problem di lingkungannya. Poin idea solution dan business model adalah bagian yang mencakupi permasalahan tersebut. Dan untuk menjalankan bisnisnya, ketersediaan finansial tentu mutlak diperlukan.

“Kalau kelima poin ini salah satunya belum ada yang di atas rata-rata, maka sebaiknya mengikuti program persiapan menuju inkubasi bisnis ,” ungkapnya.

Start Up Class sendiri terbuka untuk berbagai kalangan, baik dari mahasiswa maupun umum dengan jadwal kelas menyesuaikan kebutuhan masing-masing ; kelas regular maupun kelas di luar jam tersebut.

Kesempatan Beasiswa

Cubic juga menyediakan beasiswa bagi peserta yang dinilai berprestasi lho!

Bentuknya dapat berupa cahsback maupun pendanaan untuk megikuti program pelatihan startup bersama partner Cubic lainnya.

“Kami bisa memberi reward berupa cashback atau pembiayaan program partner kolaborasi kami di Hongkong atau program milik MaGIC (Malaysian Global Innovation & Creativity Centre) di Malaysia, kalau ada peserta yang benar-benar bagus dan berpotensi,” jelasnya.

Hingga saat ini, Cubic tercatat telah berhasil membesarkan 7 dari 12 startup di program inkubasi miliknya hingga mendapat funding ratusan juta rupiah, membangun tim, membangun produk, hingga menghasilkan revenue.

“Ini salah satu opsi yang bisa dialui para pemula startup bila ingin mengekskalasi bisnisnya. Tujuan kami adalah membangun ekosistem bisnisnya sendiri,” ungap Faris.

Tertarik bergabung?

Pendaftaran masih dibuka hingga 31 Oktober di sini

Tempat terbatas!

(*) Indonesia tertinggi di ASEAN dalam Jumlah Startup , Pikiran Rakyat 13 September 2017.