Berlibur di Sepasang Matamu
Piknik yang paling kurindukan adalah tempat di mana kurasakan tenang yang bukan hanya tenang, tapi juga damai. Kedamaian yang menggenang, seperti oase pada kemarau.
Aku pun suka hal-hal yang bisa membuatku merasa jatuh cinta. Barangkali, itulah mengapa aku menyukai sepasang matamu. Tempat paling damai dan ingin. Paling teduh paling dan antara paling yang paling ingin kukunjungi.
Aku sering membayangkan bisa dengan leluasa berlibur di matamu. Di sana, aku ingin memelukmu, pagi, siang, dan malam. Sambil membacakan cerita, tentang seorang perindu yang suka berlama-lama tinggal di mata kekasihnya. Lalu kurasakan saat itu tubuhmu semakin hangat merapat.
Di antara pelukan-pelukan antara kau dan aku, kau memang lebih sering memilih diam. Kau memang pemalu, pun pendengar yang baik. Tapi bagiku kau lebih dari sekedar dan lebih dari seumpama yang dilihat. Kau bahkan bisa membuatku jatuh cinta hanya dengan menunjukan kemaluanmu saat matamu kutatap lekat. Dari sepasang matamu, kulihat jutaan kupu-kupu yang dari setiap kepakan sayapnya kutemukan kata yang lebih indah dari pada 'Cinta.'
Kediaman paling diam adalah sunyi, dan kesunyian paling sejati adalah kesunyian yang mampu membuat jatuh hati. Aku benci keriuhan, pun aku benci kesunyian. Tetapi pada sepasang matamu, kurasakan keriuhan sunyi yang membuatku jatuh hati.
Jendela hati adalah sepasang mata. Sering kutemui kata-kata itu. Seperangkat kata yang banyak dipakai, tapi, aku tak begitu menyukainya. Bagiku sepasang mata adalah ihwal semiotik perasaan. Perasaan adalah hal yang tak tampak, sepasang mata itulah yang membuatnya menjadi tampak.
Sepasang mata paling sepat yang pernah aku tahu adalah sepasang mata ibu, saat melihat mayat kekasihnya yang juga bapaku terkujur kaku. Saat itu, kurasakan dadaku berdesir dan doa terpanjat begitu saja.
"Aku tak ingin mati menjadi mayat yang kau tangisi. Aku ingin menjadi puisi, yang tetap indah meski kesedihan terasa saat kau membacanya."
Pada senja yang ke- 2614 kusampaikan kalimat itu pada kau yang sedang memeluk.
"Aku tak ingin melihat kamu mati atau pun pergi."
Itu adalah kalimat pertamamu yang kudengar pada senja ini. Bagimu setiap kalimat adalah berarti dan kuyakin saat itu kau sungguh-sungguh mengatakannya. Matamu yang biasanya malu-malu tiba-tiba menatap. Bagiku itu adalah keberanian dari sepasang mata yang berharap. Di sana kuliha harapan tumbuh, berkembang, dan berwarna keemasan. Seperti daun Ginko di musim semi. Bunga-bunga bermekaran, burung-burung menyanyi saling sahut menyahuti. Keriuhan yang sunyi yang membuatku jatuh hati, seperti tempat yang ingin kukunjungi.